Total Tayangan Halaman

Minggu, 04 Juni 2017

Catatan Ramadhan 1438 H



(Seperti Bangunan Yang Kokoh)

#Refleksi 9


بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

#AkuAmienRais
Yang menyerang pak Amien Rais sama dengan menyerang saya... #AkuAmienRais
Waktu semua tiarap tidak berani bersikap, kami angkatan 90-an melihatnya berdiri tegak dan bersuara lantang... #AkuAmienRais
Beliau yang memulai pidato perlunya suksesi mengganti presiden Suharto secara damai. #AkuAmienRais
Saat orde baru masih kuat, usulan itu tabu dan tidak boleh diucapkan. seorang akademisi sederhana melakukannya. #AkuAmienRais
Maka seandaunya itu didengar, transisi politik kita tidak sekeras sekarang. keras dan nyaris mematikan. #AkuAmienRais 
Kemudian beliau memimpin MPR (@InfoMPRRI) jangan lupa, masih sebagai lembaga tertinggi negara. #AkuAmienRais
Beliau memimpin pemilihan dan pelantikan 2 presiden yaitu KH. Abdurahman Wahid dan ibu Megawati Sukarnoputri #AkuAmienRais 
Beliau memimpin MPR saat 4 kali amandemen dilakukan. Dan kita menikmati DEMOKRASI. #AkuAmienRais
Dia pejuang,
Saya telah melihat keberaniannya.
Maka mereka yang ingin menjatuhkan nama dan kehormatannya salah hitung. #AkuAmienRais
Mereka mengira pak Amien akan berhenti. Selama kalian ganjil mengelola negeri ini beliau akan tetap ada. #AkuAmienRais
Ketidakpastian dan ketidakadilan ini membuatnya terus gelisah. Semua kita gelisah. #AkuAmienRais
Karena itu,
Kita semua Amien Rais
#AkuAmienRais




Saya mengutip puisi di atas dari seorang tokoh politik yang juga seorang pimpinan salah satu pergerakan di Inodnesia pada masanya, ya.. Fahri Hamzah. Di ambil dari twitter @Fahrihamzah pada 10.41-11.02, 3 Juni 2017. Jika kita melihat background organisasi, Fahri Hamzah dan Amien Rais tidak terlahir dari pergerakan dan organisasi yang sama. Namun mengapa justru seorang Fahri Hamzah yang menuliskan sebuah puisi untuk Amien Rais? Ya, itu lah Islam. Ukhuwah islam tidak berbatas pada pergerakan, organisasi, ras, suku, dan lain sebagainya. Melainkan berdasar pada kekuatan aqidah. Saat saya sempat berfikir tentang hal ini, saya menemukan sebuah tulisan dari status facebook, begini isinya:

Saya melihat gerakan mahasiswa sedang terputus-putus. Terputus dari solidaritas dan gotong royong. Misalnya, ketika HMI menghadapi kriminalisasi, aksi simpati dominan muncul dari kader HMI sendiri. Demikian juga baru-baru ini saat ketua KAMMI diciduk dan mengalami represi aparat, aksi simpati kembali muncul hanya dari kalangan internal KAMMI. Dan kini, saat Amien Rais dikriminalisasi, IMM pun terlihat hanya menghimpun kekuatan seorang diri untuk mengadvokasi. Seakan-akan berbagai intimidasi yang ditujukan kepada para tokoh ummat Islam, semuanya dikembalikan kepada kelompok dimana ia berasal untuk disuruh berempati dan mengadvokasi seorang diri. Ternyata ego sektarian masih kuat menancap, sementara satu persatu tokoh dipidanakan dengan kasus yang dibuat-buat. Lantas masikah kita mengantongi identitas sebagai muslim jika ternyata kita apatis, tuna solidaritas?
(*Mario Prakoso*)

            Saya rasa tulisan di atas tidak berlebihan, karena muatan yang disampaikan menunjukkan gambaran real dari apa yang terjadi pada masa ini. Dalam islam, setiap mukmin bersaudara. Mengapa? Karena Allah telah menegaskan dalam Kalamullah,
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
“Sesungguhnya kaum mukminin itu adalah bersaudara.” (QS. Al-Hujurat: 10)

            Setiap mukmin itu bersaudara, lantas apa yang menghalangi kita untuk bersatu? Apakah idealism atau ego? Dasar persaudaraan mukmin adalah akidah, maka setiap muslim yang masih menyimpan keimanan dan rasa cinta untuk memperjuangkan kehormatan Islam dan kebenaran syari’atnya, tidak ada yang menghalangi hati mereka selain saling mencintai dan memberikan dukungan sehingga pada akhirnya mampu berjuang bersama. Allah telah menjelaskan keutamaan mukmin yang bersatu,

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ
“Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (QS. Ash Shaf: 4)

            Begini lah Allah memerintahkan kepada umat muslim ketika menghadapi musuh-musuh yang hendak menghancurkan Islam. Kekuatan umat Islam ini sangat besar, seperti yang kita lihat dalam aksi 212 begitu dahsyat kekuatan iman umat muslim. Namun jika kesemuanya berada dalam kondisi tercerai berai, maka ini menjadi tak berarti. Namun lihat lah para sahabat rasul dengan jumalh yang sedikit pun, namun dengan kekuatan iman yang kuat dan keteraturan barisan mampu menggentarkan musuh-musuh dalam kondisi berkali-kali lipat.
Coba kita menilik kisah perang Mut’ah, dengan kondisi umat muslim yang hanya berjumlah 3.000 orang pada saat itu melawan 200.000 orang pasukan Romawi. Kaisar Heraclius mengerahkan lebih dari 100.000 tentara Romawi sedangkan Syurahbil bin ‘Amr mengerahkan 100.000 tentara yang terdiri dari kabilah Lakham, Juzdan, Qain dan Bahra‘. Kedua pasukan itupun bergabung. Sedangkan pasukan kaum Muslim berjumlah 3.000 orang, namun ini pertama kalinya Rasulullah mengangkat 3 panglima sekaligus dikarenakan melihat besarnya jumlah pasukan Romawi,

“Pasukan ini dipimpin oleh Zaid bin Haritsah, bila ia gugur komando dipegang oleh Ja’far bin Abu Thalib, bila gugur pula panji diambil oleh Abdullah bin Rawahah –saat itu beliau meneteskan air mata- selanjutnya bendera itu dipegang oleh seorang ‘pedang Allah’ dan akhirnya Allah Subhânahu wata‘âlâ memberikan kemenangan. (HR. al-Bukhari)

            Khalid bin Walid yang biasa ditunjuk oleh Rasulullah sebagai panglima bahkan turut serta dalam perang tersebut dengan keikhlasan dan demi Keimanan yang ada dalam dadanya, walau ia tak diangkat sebagai panglima perang besar ini. Dengan niat murni Ikhlas atas nama Allah ia siap berperang dengan posisi apapun, dengan itikad baik. Pada akhirnya, kekalahan jumlah nyatanya tidak menjadikan umat Muslim kalah dalam pertempuran. Perang Mut’ah membawa kemenangan pada umat Muslim. Allahu Akbar!!
Lalu apakah tujuan kita? Untuk menikmati fanatisme dan kecintaan pada kelompok terbatas, ataukah mencapai kejayaan Islam dengan kesatuan umat?
            Begitulah Fahri Hamzah menjadi salah satu contoh yang berani menunjukkan kecintaannya pada saudaranya sesama mukmin, bahwa Islam tak mampu dipanggul oleh satu dua kelompok saja, namun Islam harus dipanggul oleh keseluruhan umat muslim yang masih memiliki iman dalam hatinya, yang masih memiliki cinta dan ghirah terhadap agamanya. Islam akan Berjaya dengan kesatuan Umat, bukan dengan fanatisme golongan. Empati dan saling menanggung menjadi salah satu pintu pembuka persatuan Umat. Allahu A’lam

9 Ramadhan 1438H/ 4 Juni 2017
Princess el-Fa

1 komentar:

  1. Do you realize there is a 12 word sentence you can say to your man... that will trigger intense feelings of love and instinctual attraction to you buried within his chest?

    That's because hidden in these 12 words is a "secret signal" that fuels a man's impulse to love, please and protect you with all his heart...

    12 Words Who Trigger A Man's Love Instinct

    This impulse is so hardwired into a man's mind that it will make him try better than ever before to build your relationship stronger.

    Matter-of-fact, triggering this dominant impulse is so important to having the best ever relationship with your man that as soon as you send your man one of these "Secret Signals"...

    ...You will immediately notice him open his heart and soul to you in such a way he's never experienced before and he will see you as the one and only woman in the universe who has ever truly appealed to him.

    BalasHapus