(Seperti
Bangunan Yang Kokoh)
#Refleksi
9
بِسْمِ اللهِ
الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
#AkuAmienRais
Yang menyerang pak Amien Rais sama dengan menyerang saya... #AkuAmienRais
Waktu semua tiarap tidak berani bersikap, kami angkatan 90-an melihatnya berdiri tegak dan bersuara lantang... #AkuAmienRais
Beliau yang memulai pidato perlunya suksesi mengganti presiden Suharto secara damai. #AkuAmienRais
Saat orde baru masih kuat, usulan itu tabu dan tidak boleh diucapkan. seorang akademisi sederhana melakukannya. #AkuAmienRais
Maka seandaunya itu didengar, transisi politik kita tidak sekeras sekarang. keras dan nyaris mematikan. #AkuAmienRais
Kemudian beliau memimpin MPR (@InfoMPRRI) jangan lupa, masih sebagai lembaga tertinggi negara. #AkuAmienRais
Beliau memimpin pemilihan dan pelantikan 2 presiden yaitu KH. Abdurahman Wahid dan ibu Megawati Sukarnoputri #AkuAmienRais
Beliau memimpin MPR saat 4 kali amandemen dilakukan. Dan kita menikmati DEMOKRASI. #AkuAmienRais
Dia pejuang,
Saya telah melihat keberaniannya.
Maka mereka yang ingin menjatuhkan nama dan kehormatannya salah hitung. #AkuAmienRais
Mereka mengira pak Amien akan berhenti. Selama kalian ganjil mengelola negeri ini beliau akan tetap ada. #AkuAmienRais
Ketidakpastian dan ketidakadilan ini membuatnya terus gelisah. Semua kita gelisah. #AkuAmienRais
Karena itu,
Kita semua Amien Rais
#AkuAmienRais
Saya mengutip puisi di atas dari seorang tokoh politik yang juga
seorang pimpinan salah satu pergerakan di Inodnesia pada masanya, ya.. Fahri
Hamzah. Di ambil dari twitter @Fahrihamzah pada 10.41-11.02, 3 Juni 2017. Jika kita
melihat background organisasi, Fahri Hamzah dan Amien Rais tidak terlahir dari
pergerakan dan organisasi yang sama. Namun mengapa justru seorang Fahri Hamzah
yang menuliskan sebuah puisi untuk Amien Rais? Ya, itu lah Islam. Ukhuwah islam
tidak berbatas pada pergerakan, organisasi, ras, suku, dan lain sebagainya. Melainkan
berdasar pada kekuatan aqidah. Saat saya sempat berfikir tentang hal ini, saya
menemukan sebuah tulisan dari status facebook, begini isinya:
Saya melihat gerakan
mahasiswa sedang terputus-putus. Terputus dari solidaritas dan gotong royong.
Misalnya, ketika HMI menghadapi kriminalisasi, aksi simpati dominan muncul dari
kader HMI sendiri. Demikian juga baru-baru ini saat ketua KAMMI diciduk dan
mengalami represi aparat, aksi simpati kembali muncul hanya dari kalangan
internal KAMMI. Dan kini, saat Amien Rais dikriminalisasi, IMM pun terlihat
hanya menghimpun kekuatan seorang diri untuk mengadvokasi. Seakan-akan berbagai intimidasi yang ditujukan kepada para tokoh ummat
Islam, semuanya dikembalikan kepada kelompok dimana ia berasal untuk disuruh
berempati dan mengadvokasi seorang diri. Ternyata ego sektarian masih kuat
menancap, sementara satu persatu tokoh dipidanakan dengan kasus yang
dibuat-buat. Lantas masikah kita mengantongi identitas sebagai muslim jika
ternyata kita apatis, tuna solidaritas?
(*Mario Prakoso*)
Saya
rasa tulisan di atas tidak berlebihan, karena muatan yang disampaikan
menunjukkan gambaran real dari apa yang terjadi pada masa ini. Dalam islam,
setiap mukmin bersaudara. Mengapa? Karena Allah telah menegaskan dalam Kalamullah,
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ
إِخْوَةٌ
“Sesungguhnya kaum mukminin itu adalah bersaudara.” (QS. Al-Hujurat: 10)
Setiap mukmin itu
bersaudara, lantas apa yang menghalangi kita untuk bersatu? Apakah idealism atau
ego? Dasar persaudaraan mukmin adalah akidah, maka setiap muslim yang masih
menyimpan keimanan dan rasa cinta untuk memperjuangkan kehormatan Islam dan
kebenaran syari’atnya, tidak ada yang menghalangi hati mereka selain saling mencintai
dan memberikan dukungan sehingga pada akhirnya mampu berjuang bersama. Allah
telah menjelaskan keutamaan mukmin yang bersatu,
إِنَّ اللَّهَ
يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ
مَرْصُوصٌ
“Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam
barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun
kokoh.” (QS. Ash Shaf: 4)
Begini lah Allah memerintahkan
kepada umat muslim ketika menghadapi musuh-musuh yang hendak menghancurkan
Islam. Kekuatan umat Islam ini sangat besar, seperti yang kita lihat dalam aksi
212 begitu dahsyat kekuatan iman umat muslim. Namun jika kesemuanya berada
dalam kondisi tercerai berai, maka ini menjadi tak berarti. Namun lihat lah
para sahabat rasul dengan jumalh yang sedikit pun, namun dengan kekuatan iman
yang kuat dan keteraturan barisan mampu menggentarkan musuh-musuh dalam kondisi
berkali-kali lipat.
Coba
kita menilik kisah perang Mut’ah, dengan kondisi umat muslim yang hanya
berjumlah 3.000 orang pada saat itu melawan 200.000 orang pasukan Romawi. Kaisar
Heraclius mengerahkan lebih dari 100.000 tentara Romawi sedangkan Syurahbil bin
‘Amr mengerahkan 100.000 tentara yang terdiri dari kabilah Lakham, Juzdan, Qain
dan Bahra‘. Kedua pasukan itupun bergabung. Sedangkan pasukan kaum Muslim
berjumlah 3.000 orang, namun ini pertama kalinya Rasulullah mengangkat 3 panglima
sekaligus dikarenakan melihat besarnya jumlah pasukan Romawi,
“Pasukan ini dipimpin oleh Zaid bin Haritsah, bila ia gugur komando
dipegang oleh Ja’far bin Abu Thalib, bila gugur pula panji diambil oleh
Abdullah bin Rawahah –saat itu beliau meneteskan air mata- selanjutnya bendera
itu dipegang oleh seorang ‘pedang Allah’ dan akhirnya Allah Subhânahu wata‘âlâ
memberikan kemenangan. (HR.
al-Bukhari)
Khalid bin Walid
yang biasa ditunjuk oleh Rasulullah sebagai panglima bahkan turut serta dalam
perang tersebut dengan keikhlasan dan demi Keimanan yang ada dalam dadanya,
walau ia tak diangkat sebagai panglima perang besar ini. Dengan niat murni
Ikhlas atas nama Allah ia siap berperang dengan posisi apapun, dengan itikad
baik. Pada akhirnya, kekalahan jumlah nyatanya tidak menjadikan umat Muslim
kalah dalam pertempuran. Perang Mut’ah membawa kemenangan pada umat Muslim.
Allahu Akbar!!
Lalu
apakah tujuan kita? Untuk menikmati fanatisme dan kecintaan pada kelompok
terbatas, ataukah mencapai kejayaan Islam dengan kesatuan umat?
Begitulah Fahri Hamzah menjadi salah
satu contoh yang berani menunjukkan kecintaannya pada saudaranya sesama mukmin,
bahwa Islam tak mampu dipanggul oleh satu dua kelompok saja, namun Islam harus
dipanggul oleh keseluruhan umat muslim yang masih memiliki iman dalam hatinya,
yang masih memiliki cinta dan ghirah terhadap agamanya. Islam akan Berjaya dengan
kesatuan Umat, bukan dengan fanatisme golongan. Empati dan saling menanggung
menjadi salah satu pintu pembuka persatuan Umat. Allahu A’lam
9
Ramadhan 1438H/ 4 Juni 2017
Princess
el-Fa

Do you realize there is a 12 word sentence you can say to your man... that will trigger intense feelings of love and instinctual attraction to you buried within his chest?
BalasHapusThat's because hidden in these 12 words is a "secret signal" that fuels a man's impulse to love, please and protect you with all his heart...
12 Words Who Trigger A Man's Love Instinct
This impulse is so hardwired into a man's mind that it will make him try better than ever before to build your relationship stronger.
Matter-of-fact, triggering this dominant impulse is so important to having the best ever relationship with your man that as soon as you send your man one of these "Secret Signals"...
...You will immediately notice him open his heart and soul to you in such a way he's never experienced before and he will see you as the one and only woman in the universe who has ever truly appealed to him.