(Mencintai
Pancasila)
#Refleksi
6
Hari
keenam ramadhan bertepatan dengan tanggal 1 juni. Masih pagi betul media sosial
sudah diguncang dengan ribuan postingan dengan hashtag
#SayaIndonesiaSayaPancasila. Salah satu upaya simbolik yang (barangkali)
ditujukan untuk mengembalikan jiwa Pancasila dalam kehidupan rakyat Indonesia. Di
tengah kondisi carut marut Negara, upaya simbolik ini menjadi cukup menarik. Dengan
begitu banyak fenomena yang sudah tidak mencerminkan pancasila sebagai dasar Negara.
- Sila pertama tercoreng, agama dinistakan, dan para pembela yang setia terhadap agama memperoleh intervensi luar biasa baik dari situasi sosial maupun hukum.
- Sila kedua terabaikan, di mana kemanusiaan sudah kabur oleh perilaku represif dan tindakan kurang beradab.
- Sila ketiga jelas luput, persatuan hanya dapat diwujudkan di atas asas keadilan.
- Sila keempat tak lagi berharga, di mana kebebasan berpendapat sudah dibungkam. Kekuasaan tak mampu merepresentasikan kebutuhan rakyat.
- Sila kelima tercabik-cabik, di mana asset Negara dibiarkan telanjang tanpa perlindungan sedangkan musuh bangsa siap menerkam.
Islam,
Kristen, Katholik, Hindhu, Budha, tak ada masalah dalam hal kebhinekaan. Belum kita
temui kasus rasis yang bermula dari fanatisme agama. Semua hidup dalam
kedamaian dan kerukunan dengan keyakinan masing-masing. Namun kemudian, kasus
Islam intoleran muncul di permukaan, menjadi viral dan mengotori kepolosan
berpikir generasi bangsa. Menjatuhkan martabat Islam sebagai agama rahmatan
lil ‘alamin.
Mempelajari
sejarah tentu membuka mata kita bahwa Indonesia merdeka tak lepas dari andil
besar para alim ulama’, para ustadz, kyai yang berjuang tanpa gentar bermodal
aqidah. Namun dengan segala lika liku kisahnya dalam merumuskan pancasila, pada
akhirnya beliau-beliau bersepakat dan rela untuk membuang 7 kata yang menjadi
asas umat islam, hal ini dikarenakan untuk menjaga stabilitas bangsa Indonesia.
Mereka itu lah pancasilais sejati. Bukan orang yang paling lantang meneriakkan
pancasila, namun mampu memaknai muatan pancasila yang sesungguhnya. Bukan mereka
yang menuliskan rangkaian kata indah tentang toleransi yang mengerti tentang
arti toleransi. Saat saya duduk di bangku SD, dalam mata pelajaran PPKn saya
merasa perkara toleransi ini
sudah sangat ‘clear’, namun kini toleransi justru dibuat kabur dan rancu oleh
orang-orang dewasa.
Permasalahan
rumit dalam bangsa ini memerlukan solusi dan keteladanan. Yang manakah
pancasilais sejati itu? Apakah pancasilais yang lantang berteriak makar namun
mendukung proyek reklamasi? Apakah pancasilais yang bernasihat tentang
toleransi namun tidak mau tau pendapat rakyatnya hingga menciderainya? Apakah pancasilais
yang yang hendak menyatukan bangsa dengan menghabiskan rakyat pribumi dan
menggantinya dengan SDM impor? Pancasila yang manakah? Saat kebijakan-kebijakan
makin mencekik rakyat, di mana pancasila diposisikan?
Masyarakat
memerlukan teladan seorang pemimpin. Aksi-aksi simbolik tak akan banyak
mengubah kondisi wajah Indonesia. Nilai-nilai pancasila akan hidup selamanya,
namun implementasinya sudah terkoyak habis oleh pemegang kekuasaan, bagaimana
kah kedamaian akan terwujud bagi rakyat Indonesia?
Pada
akhirnya, dalam peringatan Hari Lahir Pancasila sebagai seorang Muslim saya pun
ingin turut andil, bahwa #SayaIndonesiaSayaPancasila , maka saya ingin menjadi
seorang hamba yang taat. Hamba yang mampu bertutur bijaksana harus bertumpu
pada penghambaan, tergantung pada siapa mereka menghamba, apakah menghamba pada
Allah atau justru menghamba pada akal? Mengutip dari sinetron ‘Para Pencari
Tuhan’, bahwa manusia mengenal Tuhan bukan melalui pengetahuannya, melainkan
karena Hidayah.
Allahu
a’lam..
6
Ramadhan 1438H/ 1 Juni 2017
Princess
el-Fa

Tidak ada komentar:
Posting Komentar