Total Tayangan Halaman

Kamis, 01 Juni 2017

Catatan Ramadhan 1438 H



(Mencintai Pancasila)

#Refleksi 6
Hari keenam ramadhan bertepatan dengan tanggal 1 juni. Masih pagi betul media sosial sudah diguncang dengan ribuan postingan dengan hashtag #SayaIndonesiaSayaPancasila. Salah satu upaya simbolik yang (barangkali) ditujukan untuk mengembalikan jiwa Pancasila dalam kehidupan rakyat Indonesia. Di tengah kondisi carut marut Negara, upaya simbolik ini menjadi cukup menarik. Dengan begitu banyak fenomena yang sudah tidak mencerminkan pancasila sebagai dasar Negara.
  1. Sila pertama tercoreng, agama dinistakan, dan para pembela yang setia terhadap agama memperoleh intervensi luar biasa baik dari situasi sosial maupun hukum.
  2. Sila kedua terabaikan, di mana kemanusiaan sudah kabur oleh perilaku represif dan tindakan kurang beradab.
  3. Sila ketiga jelas luput, persatuan hanya dapat diwujudkan di atas asas keadilan.
  4. Sila keempat tak lagi berharga, di mana kebebasan berpendapat sudah dibungkam. Kekuasaan tak mampu merepresentasikan kebutuhan rakyat.
  5. Sila kelima tercabik-cabik, di mana asset Negara dibiarkan telanjang tanpa perlindungan sedangkan musuh bangsa siap menerkam.
Islam, Kristen, Katholik, Hindhu, Budha, tak ada masalah dalam hal kebhinekaan. Belum kita temui kasus rasis yang bermula dari fanatisme agama. Semua hidup dalam kedamaian dan kerukunan dengan keyakinan masing-masing. Namun kemudian, kasus Islam intoleran muncul di permukaan, menjadi viral dan mengotori kepolosan berpikir generasi bangsa. Menjatuhkan martabat Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin.
Mempelajari sejarah tentu membuka mata kita bahwa Indonesia merdeka tak lepas dari andil besar para alim ulama’, para ustadz, kyai yang berjuang tanpa gentar bermodal aqidah. Namun dengan segala lika liku kisahnya dalam merumuskan pancasila, pada akhirnya beliau-beliau bersepakat dan rela untuk membuang 7 kata yang menjadi asas umat islam, hal ini dikarenakan untuk menjaga stabilitas bangsa Indonesia. Mereka itu lah pancasilais sejati. Bukan orang yang paling lantang meneriakkan pancasila, namun mampu memaknai muatan pancasila yang sesungguhnya. Bukan mereka yang menuliskan rangkaian kata indah tentang toleransi yang mengerti tentang arti toleransi. Saat saya duduk di bangku SD, dalam mata pelajaran PPKn saya merasa perkara toleransi  ini sudah sangat ‘clear’, namun kini toleransi justru dibuat kabur dan rancu oleh orang-orang dewasa.
Permasalahan rumit dalam bangsa ini memerlukan solusi dan keteladanan. Yang manakah pancasilais sejati itu? Apakah pancasilais yang lantang berteriak makar namun mendukung proyek reklamasi? Apakah pancasilais yang bernasihat tentang toleransi namun tidak mau tau pendapat rakyatnya hingga menciderainya? Apakah pancasilais yang yang hendak menyatukan bangsa dengan menghabiskan rakyat pribumi dan menggantinya dengan SDM impor? Pancasila yang manakah? Saat kebijakan-kebijakan makin mencekik rakyat, di mana pancasila diposisikan?
Masyarakat memerlukan teladan seorang pemimpin. Aksi-aksi simbolik tak akan banyak mengubah kondisi wajah Indonesia. Nilai-nilai pancasila akan hidup selamanya, namun implementasinya sudah terkoyak habis oleh pemegang kekuasaan, bagaimana kah kedamaian akan terwujud bagi rakyat Indonesia?
Pada akhirnya, dalam peringatan Hari Lahir Pancasila sebagai seorang Muslim saya pun ingin turut andil, bahwa #SayaIndonesiaSayaPancasila , maka saya ingin menjadi seorang hamba yang taat. Hamba yang mampu bertutur bijaksana harus bertumpu pada penghambaan, tergantung pada siapa mereka menghamba, apakah menghamba pada Allah atau justru menghamba pada akal? Mengutip dari sinetron ‘Para Pencari Tuhan’, bahwa manusia mengenal Tuhan bukan melalui pengetahuannya, melainkan karena Hidayah.
Allahu a’lam..

6 Ramadhan 1438H/ 1 Juni 2017
Princess el-Fa



Tidak ada komentar:

Posting Komentar