(Bahaya
‘Ain)
#Refleksi
8
أَعُوذُ
بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
Anak merupakan harta berharga yang
didambakan setiap orang tua. Betapa bahagianya orang tua ketika pertama kali
mendapati anaknya mulai merespon dunia dengan tangisnya, maka segala keindahan
sang buah hati menjadi sangat bernilai. Bak harta karun yang tak pernah diduga
sebelumnya akan begitu bahagianya ketika terwujud dambaan itu, begitu kata para
orang tua itu. Namun adakalanya cara mengungkapkan cinta orang tua terhadap
anak, secara tidak sadar justru menjadi hal yang mencelakakan anak.
Pernah kita mendengar ungkapan orang
tua di sekitar kita,”wah anak ini abis dipuji malah jadi kurus”. Mungkin ada
sebagian yang mempercayainya, ada pula yang merasa ah itu hanya mitos. Sesungguhnya
hal ini bisa benar adanya, ini lah yang disebut dengan ‘penyakit ‘Ain’. Kata ‘ain
berasal dari kata ‘ana-Ya’inu yang artinya apabila ia menatapnya dengan matanya.
Penyakit ‘ain dapat disebabkan dari pandangan mata langsung atau tidak langsung,
bisa murni dari manusia atau atas campur tangan jin. Kita pernah mendengar
tentang penelitian ‘The Miracle of Water” yang semakin cantik Kristal air
yang dilontarkan kata-kata baik padanya, dan semakin buruk bentuk Kristal air
yang dilontari kata-kata buruk padanya. Begitu pula dapat terjadi atas tatapan
mata atau bayangan seseorang terhadap orang lain yang disertai dengan rasa
hasad, iri, dengki, benci yang mampu memberikan penyakit pada seseorang. Bukan terletak
pada tatapan matanya, melainkan ruh jahat manusia yang menyalurkan keburukan
itu melalui matanya. Bisa jadi seseorang melontarkan pujian terhadap sang buah
hati orang lain, namun karena kondisi yang sesungguhnya iri dikarenakan anaknya
tak sesehat itu, tak setampan itu, secara sadar atau tidak ruh iri ini mampu
mentransfer sebuah penyakit pada anak yang dimaskud. Penyakin ‘ain bukanlah
penyakit yang mampu didiagnosis secara medis, namun bahayanya mampu menyerang
fisik seseorang.
Untuk hal bahaya seperti ini, pasti
setiap orang tua tidak menginginkan hal tersebut terjadi pada anaknya. Maka perlu
bagi orang tua untuk membentengi anak-anaknya, di antaranya adalah dengan do’a.
salah satunya dengan do’a di bawah ini, yang merupakan do’a yang dituntunkan
oleh Rasululla Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam untuk meminta perlindungan kepada
Allah terhadap Hasan dan Husein,
أُعِيذُك
بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ
عَيْنٍ لامَّةٍ
“Aku
berlindung kepada Allah untuk kalian berdua dengan kalimat-kalimat Allah yang
sempurna dari segala syaitan, binatang yang berbisa, dan pandangan mata yang
jahat.” (HR. Abu Daud)
Penyakit ‘ain juga mampu menjangkiti
anak kita dari orang-orang sholih yang berhati bersih sekalipun, melalui
ungkapan-ungkapan takjub yang tidak disertai dengan Dzikrullah terlebih
dahulu seperti ‘MasyaAllah’, atau ‘Subhanallah’, atau tidak
menyertakan Allah dalam memuji makhlukNya, maka atas izin dan kehendak Allah
penyakit ‘ain ini mampu menyerang anak-anak kita. Maka dari itu kita perlu
berhati-hati juga dalam menampakkan foto anak-anak kita di media sosial, karena
barangkali melalui hal ini orang bisa menjadi penyebab penyakit ‘ain bagi anak
kita.
Sebagaimana
yang telah disebutkan oleh Imam Ibnul Qoyyim dalam Zadul Ma’ad 4/159, hendaknya
para orang tua tidak menampakkan suatu kelebihan yang menakjubkan yang dimiliki
anak-anaknya yang dikhawatirkan akan mengundang rasa iri atau kedengkian orang
yang melihatnya. Lalu Ibnul Qoyyim menukil atsar dari Imam Baghowi bahwasanya
pernah suatu ketika Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu melihat seorang naka
kecil yang sangat elok rupanya lagi menawan, kemudian Utsman berkata,”Tutupilah
(jangan tampakkan) lubang dagu (yang membuat orang takjub) pada anak itu.” Maka
sebagai orang tua, perlu sekali kita berhati-hati dalam menjaga anak kita dari
penyakit ‘ain, karena penyakit ‘ain lebih berbahaya daripada sihir. Sihir hanya
dilakukan oleh orang-orang jahat sedangkan ‘ain dapat saja terjadi karena orang
sholih. Bahkan karena bahaya ‘ain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
pernah bersabda,
عن جابر ان رسول
الله صلى الله عليه وسلم قال أكثر من يموت من أمتى بعد قضاء الله وقدره بالأنفس
يعنى بالعين
Dari Jabir radliyallaahu ‘anhu ia berkata: Telah bersabda
Rasulullah ﷺ: “Kebanyakan
orang yang meninggal dari umatku setelah qadha dan qadar Allah, adalah karena
Al-‘Ain” [HR. Ath-Thayalisi hal. 242 no.
1760, Bukhari dalam At-Tarikh Al-Kabir 4/360, no. 3144, Al-Hakim 3/46 no. ,
Al-Bazzar dalam Kasyful-Istaar 3/403 no. 3052, Ad-Dailami 1/364 no. 1467, dan
Ibnu Abi ‘Ashim 1/136 no. 311; dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahiihul-Jaami’
no. 1206].
‘Ain seringkali terjadi pada
anak-anak, namun tak hanya begitu ia juga bisa terjadi pada orang dewasa. Rasa hasad
atau takjub yang ditujukan kepada seseorang karena rasa iri atau kekaguman juga
mampu melancarkan panah beracun bernama ‘ain pada orang yang dituju baik secara
langsung, melalui bayangan, atau pun dengan melihat foto. Maka hendaknya kita
senantiasa membentengi diri dengan Dzikrullah untuk menghindari ‘ain,
dan hendaklah kita mengelola hati kita menjauhkannya dari sifat-sifat hasad dan
saudaranya, serta menjaga lisan kita agar senantiasa terjaga dengan Kalimatullah.
Allahu a’lam
8
Ramadhan 1438H/ 2 Juni 2017
Princess
el-Fa

Tidak ada komentar:
Posting Komentar