Total Tayangan Halaman

Sabtu, 03 Juni 2017

Catatan Ramadhan 1438 H



(Bahaya ‘Ain)



#Refleksi 8
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
            Anak merupakan harta berharga yang didambakan setiap orang tua. Betapa bahagianya orang tua ketika pertama kali mendapati anaknya mulai merespon dunia dengan tangisnya, maka segala keindahan sang buah hati menjadi sangat bernilai. Bak harta karun yang tak pernah diduga sebelumnya akan begitu bahagianya ketika terwujud dambaan itu, begitu kata para orang tua itu. Namun adakalanya cara mengungkapkan cinta orang tua terhadap anak, secara tidak sadar justru menjadi hal yang mencelakakan anak.
            Pernah kita mendengar ungkapan orang tua di sekitar kita,”wah anak ini abis dipuji malah jadi kurus”. Mungkin ada sebagian yang mempercayainya, ada pula yang merasa ah itu hanya mitos. Sesungguhnya hal ini bisa benar adanya, ini lah yang disebut dengan ‘penyakit ‘Ain’. Kata ‘ain berasal dari kata ‘ana-Ya’inu yang artinya apabila ia menatapnya dengan matanya. Penyakit ‘ain dapat disebabkan dari pandangan mata langsung atau tidak langsung, bisa murni dari manusia atau atas campur tangan jin. Kita pernah mendengar tentang penelitian ‘The Miracle of Water” yang semakin cantik Kristal air yang dilontarkan kata-kata baik padanya, dan semakin buruk bentuk Kristal air yang dilontari kata-kata buruk padanya. Begitu pula dapat terjadi atas tatapan mata atau bayangan seseorang terhadap orang lain yang disertai dengan rasa hasad, iri, dengki, benci yang mampu memberikan penyakit pada seseorang. Bukan terletak pada tatapan matanya, melainkan ruh jahat manusia yang menyalurkan keburukan itu melalui matanya. Bisa jadi seseorang melontarkan pujian terhadap sang buah hati orang lain, namun karena kondisi yang sesungguhnya iri dikarenakan anaknya tak sesehat itu, tak setampan itu, secara sadar atau tidak ruh iri ini mampu mentransfer sebuah penyakit pada anak yang dimaskud. Penyakin ‘ain bukanlah penyakit yang mampu didiagnosis secara medis, namun bahayanya mampu menyerang fisik seseorang.
            Untuk hal bahaya seperti ini, pasti setiap orang tua tidak menginginkan hal tersebut terjadi pada anaknya. Maka perlu bagi orang tua untuk membentengi anak-anaknya, di antaranya adalah dengan do’a. salah satunya dengan do’a di bawah ini, yang merupakan do’a yang dituntunkan oleh Rasululla Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam untuk meminta perlindungan kepada Allah terhadap Hasan dan Husein,

أُعِيذُك بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لامَّةٍ

“Aku berlindung kepada Allah untuk kalian berdua dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari segala syaitan, binatang yang berbisa, dan pandangan mata yang jahat.” (HR. Abu Daud)

            Penyakit ‘ain juga mampu menjangkiti anak kita dari orang-orang sholih yang berhati bersih sekalipun, melalui ungkapan-ungkapan takjub yang tidak disertai dengan Dzikrullah terlebih dahulu seperti ‘MasyaAllah’, atau ‘Subhanallah’, atau tidak menyertakan Allah dalam memuji makhlukNya, maka atas izin dan kehendak Allah penyakit ‘ain ini mampu menyerang anak-anak kita. Maka dari itu kita perlu berhati-hati juga dalam menampakkan foto anak-anak kita di media sosial, karena barangkali melalui hal ini orang bisa menjadi penyebab penyakit ‘ain bagi anak kita.
Sebagaimana yang telah disebutkan oleh Imam Ibnul Qoyyim dalam Zadul Ma’ad 4/159, hendaknya para orang tua tidak menampakkan suatu kelebihan yang menakjubkan yang dimiliki anak-anaknya yang dikhawatirkan akan mengundang rasa iri atau kedengkian orang yang melihatnya. Lalu Ibnul Qoyyim menukil atsar dari Imam Baghowi bahwasanya pernah suatu ketika Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu melihat seorang naka kecil yang sangat elok rupanya lagi menawan, kemudian Utsman berkata,”Tutupilah (jangan tampakkan) lubang dagu (yang membuat orang takjub) pada anak itu.” Maka sebagai orang tua, perlu sekali kita berhati-hati dalam menjaga anak kita dari penyakit ‘ain, karena penyakit ‘ain lebih berbahaya daripada sihir. Sihir hanya dilakukan oleh orang-orang jahat sedangkan ‘ain dapat saja terjadi karena orang sholih. Bahkan karena bahaya ‘ain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,
عن جابر ان رسول الله صلى الله عليه وسلم قال أكثر من يموت من أمتى بعد قضاء الله وقدره بالأنفس يعنى بالعين
Dari Jabir radliyallaahu ‘anhu ia berkata: Telah bersabda Rasulullah : “Kebanyakan orang yang meninggal dari umatku setelah qadha dan qadar Allah, adalah karena Al-‘Ain” [HR. Ath-Thayalisi hal. 242 no. 1760, Bukhari dalam At-Tarikh Al-Kabir 4/360, no. 3144, Al-Hakim 3/46 no. , Al-Bazzar dalam Kasyful-Istaar 3/403 no. 3052, Ad-Dailami 1/364 no. 1467, dan Ibnu Abi ‘Ashim 1/136 no. 311; dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahiihul-Jaami’ no. 1206].
            ‘Ain seringkali terjadi pada anak-anak, namun tak hanya begitu ia juga bisa terjadi pada orang dewasa. Rasa hasad atau takjub yang ditujukan kepada seseorang karena rasa iri atau kekaguman juga mampu melancarkan panah beracun bernama ‘ain pada orang yang dituju baik secara langsung, melalui bayangan, atau pun dengan melihat foto. Maka hendaknya kita senantiasa membentengi diri dengan Dzikrullah untuk menghindari ‘ain, dan hendaklah kita mengelola hati kita menjauhkannya dari sifat-sifat hasad dan saudaranya, serta menjaga lisan kita agar senantiasa terjaga dengan Kalimatullah. Allahu a’lam
           
8 Ramadhan 1438H/ 2 Juni 2017
Princess el-Fa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar