Total Tayangan Halaman

Rabu, 26 Maret 2014

Murabbi - Da’i Sukses


 
            Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.”
(At-Taubah:111)

            Dalam ayat ini Allah telah menjanjikan sesuatu yang tak mungkin manusia menolak jika saja manusia mampu melihat sebesar apa bayaran bagi seorang muslim yang menjual dirinya untuk Allah. Karena ayat ini lah manusia berlomba-lomba dalam kebaikan, mengerjakan amal sholih serta mengajarkan dan senantiasa mempelajari ilmu Allah.
            Mengajarkan kebaikan, ia merupakan salah satu hal yang tidak terputus amalannya hingga manusia meninggalkan dunia ini.
Dari abu Mas’ud Al Anshory ra, berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, barangsiapa menunjukkan pada kebaikan, maka baginya seperti pahala orang yang mengerjakan kebaikan itu. (HR. Imam Muslim:5007)
Dari uraian di atas, kita akan mengenal sebuah istilah “Murabbi”. Murabbi adalah guru. Guru yang mengajarkan kebaikan pada orang-orang di sekitarnya. Dalam mengajarkan suatu kebaikan, tentulah seorang murabbi tidak melakukannya ala kadarnya. Ada beberapa dasar yang harus dipenuhi/ dimiliki seorang murabbi, di antaranya:
1.      Shalat              : Perbaikilah shalat
“Hai orang-orang yang beriman, rukuklah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.”(Al-Hajj:77)
2.      Al Qur’an        : Perbanyak Tilawah Al Qur’an
Berkatalah Rasul: "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur'an ini suatu yang tidak diacuhkan". (Al-Furqon:30)
3.      Dzikir              : Perbanyak dzikir
“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat) -Ku.” (Al-Baqarah:152)
4.      Faqih               : Mengetahui ilmu dan mampu menerapkan sesuai dengan kondisi (senantiasa memperluas wawasan dan pengetahuan)
5.      Memperluas pergerakan dan pengorganisasian
            Menjadi seorang Murabbi berarti dituntut untuk menjadi seorang da’I yang sukses. Da’I yang sukses adalah da’I yang mampu masuk dan dapat mempengaruhi setiap manusia, dengan pemikiran dan dakwahnya, sekalipun kecenderungan, karakter, dan tingkatan mereka beragam. Di samping mampu menarik sejumlah besar manusia dan mampu menampung mereka baik dalam tataran pemikiran ataupun pergerakan.
Beberapa tuntutan yang harus dipenuhi untuk menjadi da’I/ murabbi yang sukses, di antaranya:
1.      Kepahaman tentang Agama
Untuk menjadi seorang dai’I/ murabbi, seseorang harus memiliki pemahaman yang memadai tentang islam. Setidaknya ia mampu membedakan antara yang halal dan yang haram, kebaikan dan kejahatan. Juga mengetahui aqidah dan hukum. Ini diperlukan karena ia bagaikan mercusuar yang senantiasa memberikan petunjuka dalam kegelapan.
“(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (adzab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (Az-Zumar:9)
2.      Teladan yang Baik
Seseorang yang mengajak pada akhlak mulia, sedang akhlaknya sendiri tidak terpuji, maka tidak aka nada orang yang mau merespon dakwahnya, justru orang akan menjauhinya. Demikian juga orang yang mengajak dalam berjihad, namun dirinya sendiri bukan mujahid, maka orang pun tidak akan merespon.
Atau seseorang yang mengajak berkorban dengan harta yang dimiliki, namun ia sendiri kikir, maka ajakan itu tidak akan mampu menembus telinga orang yang diajaknya.
“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.” (Ash-Shaff:2-3)
3.      Kesabaran
Hidayah tidak akan masuk ke dalam jiwa seseorang sekaligus, ia memerlukan usaha yang terus-menerus hingga bisa mencapai tingkat yang diinginkan. Ini semua tentu membutuhkan kesabaran. Orang memiliki kebutuhan yang beragam. Ada yang menganggap bahwa tidak ada yang lebih penting dari kepentingan pribadinya, orang seperti ini kadang tidak puas kecuali bertemu da’I, tanpa mempedulikan kondisi da’I. Kadang ia datang ketika anda sedang makan, atau mungkin ketika anda tidur untuk istirahat. Semua itu tentunya membutuhkan kesabaran untuk tetap bisa mengarahkannya dengan baik. Jika tidak, tentu akan terjadi kebencian bahkan mungkin permusuhan.
“Siapa yang berusaha untuk bersabar maka Allah akan mengaruniai kesabaran, dan tidak ada karunia yang lebih baik dan lebih luas bagi seseorang selain kesabaran.” (HR. Bukhori-Muslim)
4.      Santun dan Lemah Lembut
Dalam usaha menarik hati orang, seorang da’I juga harus bersikap lemah lembut terhadap mereka. Karena orang membenci kekerasan dan menjauhi pelakunya,
”Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.” (Ali-Imron:159)
Seorang da’I tidak hanya sekedar menawarkan konsep kepada orang-orang di sekelilingnya tanpa mempedulikan apakah mereka menerima atau menolaknya, akan tetapi lebih dari itu ia dituntut menghayati dan menerjemahkan seluruh pemikiran dan pemahaman yang diyakininya dalam bentuk riil, meliputi segala perbuatan, akhlak dan kehidupan sehari-hari. Karena rasa cinta dan kasih sayangnya kepada mereka, seorang da’I berupaya sekuat tenaga untuk mengeluarkan mereka dari lumpur dan nestapa.
5.      Memudahkan tidak Mempersulit
Salah satu sifat yang membantu para da’I agar dakwahnya bisa diterima oleh masyarakat adalah sikap mempermudah bukan mempersulit dalam menyelesaikan berbagai persoalan.
Manusia memiliki karakter, kemampuan dan daya tahan yang berbeda-beda. Apa yang bisa dilakukan seseorang belum tentu bisa dilakukan oleh orang lain. Apa yang cocok untuk seseorang belum tentu cocok untuk orang lain. Karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan prinsip “Berjalanlah dengan meneggang perjalanan orang yang paling lemah di antara kalian”.
Sangat disayangkan islam hari ini tengah diuji dengan orang-orang yang lebih sering mempersulit dalam segala hal, seolah kemudahan bukan dari islam sama sekali. Mereka mempersulit masalah shalat, mempersulit masalah wudhu, mempersulit masalah pakaian, makanan, minuman, hubungan dengan orang lain, jual beli dan bahkan mereka mempersulit dalam berdakwah. Ini semua jelas bertentangan dengan manhaj Nabi.
“Tidaklah Rasulullah dihadapkan pada pilihan antara dua hal kecuali memilih yang paling mudah selama tidak mengandung dosa. Jika pilihan itu mengandung dosa maka beliau adalah orang yang paling jauh darinya. Dan Rasulullah tidak pernah menaruh dendam terhadap sesuatu untuk dirinya sendiri, melainkan karena larangan Allah telah dilanggar hingga beliau marah karena Allah semata.” (HR. Bukhori-Muslim)
6.      Tawadhu’ dan Merendahkan Sayap
Salah satu ssifat paling menonjol yang menjadikan seorang da’I disukai oleh keluarga dan masyarakatnya, juga menjadikan ia memiliki pengaruh yang sangat kuat adalah sifat tawadhu dan merendahkan sayap.
Sedangkan kesombongan hanya akan menjadi dinding penghalang antara da’I dan masyarakat, bahkan menjadikan da’I terisolasi dan tidak disukai lingkungannya. Hal inilah yang diisyaratkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:
“Sesungguhnya orang yang paling aku cintai adalah orang yang paling baik akhlaknya, yang merendahkan sayap, yang mau menghimpun dan mau dihimpun. Sedangkan orang yang paling aku benci adalah orang yang mengadu domba, yang memecah belah orang-orang yang saling mencintai, dan mencari-cari aib orang yang tidak berdosa.” (HR. Thabrani)
Fenomena kesombongan ini tampak dalam berbagai hal berikut ini:
a.       Lebih senang bergaul dengan orang-orang kaya dan berpangkat daripada orang-orang miskin ataupun orang-orang awam
b.      Lebih memperhatikan pakaian dan penampilan dan suka meremehkan orang-orang yang kelihatan kumal
c.       Memilih-milin audien. Jika audiennya sedikit dan terdiri dari orang rendahan, ia tidak mau memberikan ceramah
d.      Lebih mementingkan ungkapan-ungkapan yang indah bahkan berlebihan sehingga tema inti dan tujuan tidak tersampaikan
e.       Merasa takjub dengan ilmu yang ia miliki, berbicara tentang dirinya dengan penuh kekaguman, berusaha menyaingi ulama lainnya dan pamer di hadapan orang-orang bodoh
7.      Muka Berseri-seri dan Perkataan yang Baik
Bagaimanapun wajah adalah lambing bagi seorang da’I, bahkan wajah merupakan cermin yang merefleksikan kejiwaan. Jika wajah seseorang seram maka hal itu merupakan cerminan dari kekasarannya, dan jika wajah seseorang senantiasa berseri-seri dan murah senyum, maka ini adalah pertanda kebaikannya.
Yang dimaksud muka berseri-seri ini bukanlah karena ketampanan yang dimiliki. Betapa banyak wajah tampan tapi menyeramkan. Betapa banyak wajah yang tidak terlalu tampan tapi menyenangkan . karena itulah seorang da’I hendaklah melatih diri agar wajahnya senantiasa tampak berseri-seri dan murah senyum, dalam kondisi apapun. Ini dikarenakan keberhasilan seorang da’I sangat dipengaruhi oleh kemampuan untuk mengontrol dan menguasai dirinya dalam segala situasi dan kondisi.
Selain itu, seorang da’I juga dituntut untuk mampu berkata dengan baik,
”Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: " Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.” (Al-Israa’:53)
8.      Dermawan dan Berinfaq kepada Orang Lain
Termasuk syarat yang harus dimiliki oleh seorang da’I agar sukses dalam dakwah dan mampu menarik manusia adalah kedermawanan. Karena kedermawanan dengan materi menunjukkan kelapangan jiwa, sebaliknya orang yang kikir menunjukkan kekerdilan jiwa.
Kadang seorang da’I menghadapi berbagai problematika yang menuntut untuk mengaluarkan dana. Jika ia bakhil, boleh jadi kebakhilan itu akan menyebabkan hilangnya sebuah kesempatan emas atau bahkan berdampak negative bagi dakwah itu sendiri.
“Orang yang dermawan dekat dengan Allah dan dekat dengan surge, dekat dengan manusia dan jauh dari api neraka. Sedang orang yang bakhil jauh dari Allah, jauh dari surge, jauh dari manusia dan dekat dengan api neraka. Orang yang jahil tapi dermawan lebih dicintai Allah daripada orang yang banyak ibadahnya tapi bakhil.” (HR. Tirmidzi)
9.      Melayani Orang Lain dan Membantu Keperluan Mereka
Dakwah bukan hanya sekedar melalui mimbar. Seorang da’I bukanlah radio yang senantiasa memutar ulang berbagai konsep dan pemikiran semata. Akan tetapi seorang da’I wajib menerjemahkan pikiran pemikira dan konsepnya dalam bentuk tindakan konkret. Salah satunya adalah dengan turut merasakan problematika umat, dan berusaha semaksimal mungkin untuk ikut menyelesaikan.
Hal ini bukanlah sekedar propaganda dan eksploitasi, seperti yang dilakukan oleh lembaga-lembaga kristenisasi, akan tetapi hal ini adalah benar-benar sesuatu yang mendasar di dalam manhaj islam, sehingga tanpa hal ini keislaman seseorang dianggap tidak sempurna. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang tidur tanpa peduli terhadap permasalahan kaum muslimin maka ia tidak termasuk golongan mereka.”
Kadangkala problematika yang dihadapi masyarakat berujung pada sikap penolakan terhadapa berbagai pemikiran dan pemahaman yang disampaikan kepada mereka. Entah karena tidak konsentrasi, atau karena disibukkan dengan segala permasalahan sehingga tidak sempat menghadiri sebuah ceramah, atau karena hal lainnya. Apapun alasannya yang pasti semua ini adalah satu fakta yang memaksa seorang da’I untuk turut menyelesaikan problematika masyarakat secepat mungkin. Dengan begitu ia telah membuka satu pintu yang tertutup agar ia dan dakwah yang dibawanya dapat leluasa masuk.
            Dari sekian uraian tuntutan untuk menjadi seorang da’I yang sukses di atas, sebagai seorang Murabbi, seseorang juga dituntut untuk menguasai hal-hal di atas, terutama untuk menghadapi dan membimbing mad’u nya. Seorang murabbi harus telaten untuk menghadapi setiap permasalahan yang dialami mutarobbi dan senantiasa menampakkan wajah yang berseri-seri sehingga mereka bahkan tidak tau ketika seorang murobbi sedang menghadapi sebuah masalah.
Di samping itu, untuk menjadi seorang Murobbi yang sukses, seseorang harus memiliki beberapa sifat/ kriteria, di antaranya:
1.      Iman                      : Muraqabatullah dan amalan
Ikhlas                    : Bertahan  di atas cobaan
Taqwa                  
2.      Qudwah Hasanah (Keteladanan yang baik)
3.      Al Qudrah ‘alal Bina al ‘alaqah Al Insaniah (kemampuan membangun hubungan social)
4.      Ats Tsaqofah al Wasi’ah (Ilmu pengetahuan dan wawasan yang luas)
5.      Al Qudrah ‘ala At Taurits (Kemampuan menyampaikan ilmu)
6.      Al Qudrah ‘alal Qiyadah (Kemampuan memimpin)
7.      Al Qudrah ‘alal Idaroh (Kemampuan Me-manage)
8.      Al Qudrah ‘alal Takhtit (Kemampuan membuat perencanaan)
9.      Al Qudrah ‘alal Mutaba’ah (Kemampuan mengevaluasi)
10.  Al Qudrah ‘alal Taqwim (Kemampuan menilai)
Berikut merupakan kemampuan-kemampuan yang harus dimiliki seorang murobbi sehingga ia bisa mencetak generasi-generasi pilihan selanjutnya.








Description: Description: D:\febry's photos\FAVOURITES\roses\72903978-white-rose.jpg
                                                                                                             Fantika_MH

Tidak ada komentar:

Posting Komentar