“Sesungguhnya
Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan
memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka
membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di
dalam Taurat, Injil dan Al Qur'an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya
(selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu
lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.”
(At-Taubah:111)
Dalam ayat ini Allah telah
menjanjikan sesuatu yang tak mungkin manusia menolak jika saja manusia mampu
melihat sebesar apa bayaran bagi seorang muslim yang menjual dirinya untuk
Allah. Karena ayat ini lah manusia berlomba-lomba dalam kebaikan, mengerjakan
amal sholih serta mengajarkan dan senantiasa mempelajari ilmu Allah.
Mengajarkan kebaikan, ia merupakan
salah satu hal yang tidak terputus amalannya hingga manusia meninggalkan dunia
ini.
Dari abu Mas’ud Al Anshory ra,
berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, barangsiapa
menunjukkan pada kebaikan, maka baginya seperti pahala orang yang mengerjakan
kebaikan itu. (HR. Imam Muslim:5007)
Dari
uraian di atas, kita akan mengenal sebuah istilah “Murabbi”. Murabbi adalah
guru. Guru yang mengajarkan kebaikan pada orang-orang di sekitarnya. Dalam
mengajarkan suatu kebaikan, tentulah seorang murabbi tidak melakukannya ala
kadarnya. Ada beberapa dasar yang harus dipenuhi/ dimiliki seorang murabbi, di
antaranya:
1.
Shalat : Perbaikilah shalat
“Hai orang-orang yang beriman,
rukuklah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan,
supaya kamu mendapat kemenangan.”(Al-Hajj:77)
2.
Al Qur’an : Perbanyak Tilawah Al Qur’an
Berkatalah
Rasul: "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur'an ini suatu
yang tidak diacuhkan". (Al-Furqon:30)
3.
Dzikir :
Perbanyak dzikir
“Karena
itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan
bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat) -Ku.”
(Al-Baqarah:152)
4.
Faqih :
Mengetahui ilmu dan mampu menerapkan sesuai dengan kondisi (senantiasa
memperluas wawasan dan pengetahuan)
5.
Memperluas pergerakan dan
pengorganisasian
Menjadi seorang Murabbi berarti
dituntut untuk menjadi seorang da’I yang sukses. Da’I yang sukses adalah da’I
yang mampu masuk dan dapat mempengaruhi setiap manusia, dengan pemikiran dan
dakwahnya, sekalipun kecenderungan, karakter, dan tingkatan mereka beragam. Di
samping mampu menarik sejumlah besar manusia dan mampu menampung mereka baik
dalam tataran pemikiran ataupun pergerakan.
Beberapa
tuntutan yang harus dipenuhi untuk menjadi da’I/ murabbi yang sukses, di
antaranya:
1.
Kepahaman tentang Agama
Untuk
menjadi seorang dai’I/ murabbi, seseorang harus memiliki pemahaman yang memadai
tentang islam. Setidaknya ia mampu membedakan antara yang halal dan yang haram,
kebaikan dan kejahatan. Juga mengetahui aqidah dan hukum. Ini diperlukan karena
ia bagaikan mercusuar yang senantiasa
memberikan petunjuka dalam kegelapan.
“(Apakah kamu hai orang musyrik
yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan
sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (adzab) akhirat dan mengharapkan rahmat
Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan
orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah
yang dapat menerima pelajaran.” (Az-Zumar:9)
2.
Teladan yang Baik
Seseorang
yang mengajak pada akhlak mulia, sedang akhlaknya sendiri tidak terpuji, maka
tidak aka nada orang yang mau merespon dakwahnya, justru orang akan
menjauhinya. Demikian juga orang yang mengajak dalam berjihad, namun dirinya
sendiri bukan mujahid, maka orang pun tidak akan merespon.
Atau
seseorang yang mengajak berkorban dengan harta yang dimiliki, namun ia sendiri
kikir, maka ajakan itu tidak akan mampu menembus telinga orang yang diajaknya.
“Hai orang-orang yang beriman,
mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di
sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.”
(Ash-Shaff:2-3)
3.
Kesabaran
Hidayah
tidak akan masuk ke dalam jiwa seseorang sekaligus, ia memerlukan usaha yang
terus-menerus hingga bisa mencapai tingkat yang diinginkan. Ini semua tentu
membutuhkan kesabaran. Orang memiliki kebutuhan yang beragam. Ada yang
menganggap bahwa tidak ada yang lebih penting dari kepentingan pribadinya,
orang seperti ini kadang tidak puas kecuali bertemu da’I, tanpa mempedulikan
kondisi da’I. Kadang ia datang ketika anda sedang makan, atau mungkin ketika
anda tidur untuk istirahat. Semua itu tentunya membutuhkan kesabaran untuk
tetap bisa mengarahkannya dengan baik. Jika tidak, tentu akan terjadi kebencian
bahkan mungkin permusuhan.
“Siapa yang berusaha untuk bersabar
maka Allah akan mengaruniai kesabaran, dan tidak ada karunia yang lebih baik
dan lebih luas bagi seseorang selain kesabaran.” (HR. Bukhori-Muslim)
4.
Santun dan Lemah Lembut
Dalam
usaha menarik hati orang, seorang da’I juga harus bersikap lemah lembut
terhadap mereka. Karena orang membenci kekerasan dan menjauhi pelakunya,
”Maka disebabkan rahmat dari
Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap
keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.
Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan
bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah
membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai
orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.” (Ali-Imron:159)
Seorang
da’I tidak hanya sekedar menawarkan konsep kepada orang-orang di sekelilingnya
tanpa mempedulikan apakah mereka menerima atau menolaknya, akan tetapi lebih
dari itu ia dituntut menghayati dan menerjemahkan seluruh pemikiran dan
pemahaman yang diyakininya dalam bentuk riil, meliputi segala perbuatan, akhlak
dan kehidupan sehari-hari. Karena rasa cinta dan kasih sayangnya kepada mereka,
seorang da’I berupaya sekuat tenaga untuk mengeluarkan mereka dari lumpur dan
nestapa.
5.
Memudahkan tidak Mempersulit
Salah
satu sifat yang membantu para da’I agar dakwahnya bisa diterima oleh masyarakat
adalah sikap mempermudah bukan mempersulit dalam menyelesaikan berbagai
persoalan.
Manusia
memiliki karakter, kemampuan dan daya tahan yang berbeda-beda. Apa yang bisa
dilakukan seseorang belum tentu bisa dilakukan oleh orang lain. Apa yang cocok
untuk seseorang belum tentu cocok untuk orang lain. Karena itu Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan prinsip “Berjalanlah dengan meneggang perjalanan orang yang paling lemah di
antara kalian”.
Sangat
disayangkan islam hari ini tengah diuji dengan orang-orang yang lebih sering
mempersulit dalam segala hal, seolah kemudahan bukan dari islam sama sekali.
Mereka mempersulit masalah shalat, mempersulit masalah wudhu, mempersulit
masalah pakaian, makanan, minuman, hubungan dengan orang lain, jual beli dan
bahkan mereka mempersulit dalam berdakwah. Ini semua jelas bertentangan dengan
manhaj Nabi.
“Tidaklah Rasulullah dihadapkan
pada pilihan antara dua hal kecuali memilih yang paling mudah selama tidak
mengandung dosa. Jika pilihan itu mengandung dosa maka beliau adalah orang yang
paling jauh darinya. Dan Rasulullah tidak pernah menaruh dendam terhadap
sesuatu untuk dirinya sendiri, melainkan karena larangan Allah telah dilanggar
hingga beliau marah karena Allah semata.” (HR. Bukhori-Muslim)
6.
Tawadhu’ dan Merendahkan Sayap
Salah
satu ssifat paling menonjol yang menjadikan seorang da’I disukai oleh keluarga
dan masyarakatnya, juga menjadikan ia memiliki pengaruh yang sangat kuat adalah
sifat tawadhu dan merendahkan sayap.
Sedangkan
kesombongan hanya akan menjadi dinding penghalang antara da’I dan masyarakat,
bahkan menjadikan da’I terisolasi dan tidak disukai lingkungannya. Hal inilah
yang diisyaratkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:
“Sesungguhnya orang yang paling aku
cintai adalah orang yang paling baik akhlaknya, yang merendahkan sayap, yang
mau menghimpun dan mau dihimpun. Sedangkan orang yang paling aku benci adalah
orang yang mengadu domba, yang memecah belah orang-orang yang saling mencintai,
dan mencari-cari aib orang yang tidak berdosa.” (HR. Thabrani)
Fenomena
kesombongan ini tampak dalam berbagai hal berikut ini:
a.
Lebih senang bergaul dengan orang-orang
kaya dan berpangkat daripada orang-orang miskin ataupun orang-orang awam
b.
Lebih memperhatikan pakaian dan
penampilan dan suka meremehkan orang-orang yang kelihatan kumal
c.
Memilih-milin audien. Jika audiennya
sedikit dan terdiri dari orang rendahan, ia tidak mau memberikan ceramah
d.
Lebih mementingkan ungkapan-ungkapan
yang indah bahkan berlebihan sehingga tema inti dan tujuan tidak tersampaikan
e.
Merasa takjub dengan ilmu yang ia
miliki, berbicara tentang dirinya dengan penuh kekaguman, berusaha menyaingi
ulama lainnya dan pamer di hadapan orang-orang bodoh
7.
Muka Berseri-seri dan Perkataan yang
Baik
Bagaimanapun
wajah adalah lambing bagi seorang da’I, bahkan wajah merupakan cermin yang
merefleksikan kejiwaan. Jika wajah seseorang seram maka hal itu merupakan
cerminan dari kekasarannya, dan jika wajah seseorang senantiasa berseri-seri
dan murah senyum, maka ini adalah pertanda kebaikannya.
Yang
dimaksud muka berseri-seri ini bukanlah karena ketampanan yang dimiliki. Betapa
banyak wajah tampan tapi menyeramkan. Betapa banyak wajah yang tidak terlalu
tampan tapi menyenangkan . karena itulah seorang da’I hendaklah melatih diri
agar wajahnya senantiasa tampak berseri-seri dan murah senyum, dalam kondisi
apapun. Ini dikarenakan keberhasilan seorang da’I sangat dipengaruhi oleh
kemampuan untuk mengontrol dan menguasai dirinya dalam segala situasi dan
kondisi.
Selain
itu, seorang da’I juga dituntut untuk mampu berkata dengan baik,
”Dan katakanlah kepada
hamba-hamba-Ku: " Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik
(benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka.
Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.” (Al-Israa’:53)
8.
Dermawan dan Berinfaq kepada Orang Lain
Termasuk
syarat yang harus dimiliki oleh seorang da’I agar sukses dalam dakwah dan mampu
menarik manusia adalah kedermawanan. Karena kedermawanan dengan materi
menunjukkan kelapangan jiwa, sebaliknya orang yang kikir menunjukkan kekerdilan
jiwa.
Kadang
seorang da’I menghadapi berbagai problematika yang menuntut untuk mengaluarkan
dana. Jika ia bakhil, boleh jadi kebakhilan itu akan menyebabkan hilangnya
sebuah kesempatan emas atau bahkan berdampak negative bagi dakwah itu sendiri.
“Orang yang dermawan dekat dengan
Allah dan dekat dengan surge, dekat dengan manusia dan jauh dari api neraka.
Sedang orang yang bakhil jauh dari Allah, jauh dari surge, jauh dari manusia
dan dekat dengan api neraka. Orang yang jahil tapi dermawan lebih dicintai
Allah daripada orang yang banyak ibadahnya tapi bakhil.” (HR. Tirmidzi)
9.
Melayani Orang Lain dan Membantu
Keperluan Mereka
Dakwah
bukan hanya sekedar melalui mimbar. Seorang da’I bukanlah radio yang senantiasa
memutar ulang berbagai konsep dan pemikiran semata. Akan tetapi seorang da’I
wajib menerjemahkan pikiran pemikira dan konsepnya dalam bentuk tindakan
konkret. Salah satunya adalah dengan turut merasakan problematika umat, dan
berusaha semaksimal mungkin untuk ikut menyelesaikan.
Hal
ini bukanlah sekedar propaganda dan eksploitasi, seperti yang dilakukan oleh
lembaga-lembaga kristenisasi, akan tetapi hal ini adalah benar-benar sesuatu
yang mendasar di dalam manhaj islam, sehingga tanpa hal ini keislaman seseorang
dianggap tidak sempurna. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang tidur tanpa peduli
terhadap permasalahan kaum muslimin maka ia tidak termasuk golongan mereka.”
Kadangkala
problematika yang dihadapi masyarakat berujung pada sikap penolakan terhadapa
berbagai pemikiran dan pemahaman yang disampaikan kepada mereka. Entah karena
tidak konsentrasi, atau karena disibukkan dengan segala permasalahan sehingga
tidak sempat menghadiri sebuah ceramah, atau karena hal lainnya. Apapun
alasannya yang pasti semua ini adalah satu fakta yang memaksa seorang da’I
untuk turut menyelesaikan problematika masyarakat secepat mungkin. Dengan
begitu ia telah membuka satu pintu yang tertutup agar ia dan dakwah yang
dibawanya dapat leluasa masuk.
Dari sekian uraian tuntutan untuk
menjadi seorang da’I yang sukses di atas, sebagai seorang Murabbi, seseorang
juga dituntut untuk menguasai hal-hal di atas, terutama untuk menghadapi dan
membimbing mad’u nya. Seorang murabbi harus telaten untuk menghadapi setiap
permasalahan yang dialami mutarobbi dan senantiasa menampakkan wajah yang
berseri-seri sehingga mereka bahkan tidak tau ketika seorang murobbi sedang
menghadapi sebuah masalah.
Di
samping itu, untuk menjadi seorang Murobbi yang sukses, seseorang harus
memiliki beberapa sifat/ kriteria, di antaranya:
1.
Iman :
Muraqabatullah dan amalan
Ikhlas : Bertahan di atas cobaan
Taqwa
2.
Qudwah Hasanah (Keteladanan yang baik)
3.
Al Qudrah ‘alal Bina al ‘alaqah Al Insaniah
(kemampuan membangun hubungan social)
4.
Ats Tsaqofah al Wasi’ah (Ilmu
pengetahuan dan wawasan yang luas)
5.
Al Qudrah ‘ala At Taurits (Kemampuan
menyampaikan ilmu)
6.
Al Qudrah ‘alal Qiyadah (Kemampuan
memimpin)
7.
Al Qudrah ‘alal Idaroh (Kemampuan
Me-manage)
8.
Al Qudrah ‘alal Takhtit (Kemampuan
membuat perencanaan)
9.
Al Qudrah ‘alal Mutaba’ah (Kemampuan
mengevaluasi)
10. Al
Qudrah ‘alal Taqwim (Kemampuan menilai)
Berikut
merupakan kemampuan-kemampuan yang harus dimiliki seorang murobbi sehingga ia
bisa mencetak generasi-generasi pilihan selanjutnya.

Fantika_MH
Tidak ada komentar:
Posting Komentar