Total Tayangan Halaman

Jumat, 21 Maret 2014

Retorika SMS

Dalam sebuah jama’ah, entah itu organisasi atau lembaga yang ada seringkali kita temui kendala-kendala yang menyendat berjalannya jama’ah tersebut, satu diantaranya adalah komunikasi.
Ya, komunikasi menjadi faktor yang urgen berkaitan dengan kelancaran berjalannya sebuah jama’ah. Maka dari itu, bentuk komunikasi sekecil apapun hendaknya kita berikan perhatian khusus dalam hal ini.
Letak permasalahan komunikasi kini bukan sekedar pada miss-communication, tapi juga dilihat dari pola komunikasi. Salah satu hal yang ingin saya soroti di sini berkenaan dengan interaksi aktivis dari segi sms (short message service). Perlu saya tekankan, bahwa para aktivis berjuang dengan menjunjung prinsip ukhuwah islamiyah. Ukhuwah islamiyah merupakan ikatan persaudaraan yang dasarnya adalah hati. Maka ketika membalas sebuah pesan dari saudara kita, hendaknya kita sadari betul bahwasanya kita sedang menyampaikan kasih kita pada saudara yang kita cintai, bukan sekedar membalas pesan seorang rekan bisnis yang memerlukan jawaban apa perlunya. Pesan-pesan singkat ini merupakan sarana kita berkasih sayang di sela kesibukan, menebar senyum tanpa harus melengkungkan bibir, memberikan perhatian ringan yang mampu menyentuh sisi bawah sadar saudara kita.
Dari sekian banyak aktivis dakwah, tidak sedikit darinya yang mengeluhkan kekecewaan mengenai hal ini, bahasa sms yang terlalu kaku, menjawab pertanyaan terlalu singkat,dsb. Jangan sampai karena kesibukan-kesibukan kita menjalankan sebuah amanah lantas kita mengabaikan amanah yang lain yaitu menunaikan hak saudara kita untuk mendapatkan perlakuan terbaik dari kita.
Berikut beberapa contoh sms yang biasa menjadi keluhan :
1.       “y”, “g” dsb
Balasan sms semacam ini sungguh sangat riskan dalam menimbulkan pikiran-pikiran negatif. Antara akan dikatakan sok sibuk, atau sedang mangkel. Coba kita pahami keadaan psikis yang akan dialami si penerima sms. Tentu ia akan merasakan kegundahan di hatinya, mungkin dia akan berpikir “apakah si X marah padaku?” atau malah “sok penting banget, kayak pejabat aja”.
2.       “ya.” “gpp.” dsb
Model pesan dengan menggunakan tanda (.) seperti ini memberikan kesan tegas. Penerima pesan seperti ini biasanya akan merasakan ketidaknyamanan, tak terlalu berbeda dengan efek model sebelumnya, pesan ini juga mengakibatkan keresahan di hati si penerima, dan jika pesan-pesan model seperti ini terus-menerus mereka dapatkan, akan mengakibatkan kedongkolan.


Masih banyak lagi pola-pola sms yang mengakibatkan kesalahpahaman dan mengeringnya ukhuwah antar aktivis dakwah. Maka kita perlu merasakan isi pesan kita sebelum mengirimkannya pada saudara kita, akan seperti apakah kesannya ketika pesan kita itu dibaca oleh saudara kita. Mengantisipasi kesibukan kita yang sungguh membuat kita kesulitan untuk membalas pesan lebih, maka paling tidak kita dapat menyertakan ekspresi senyum,dsb. Meskipun pesan kita singkat, namun saudara kita akan melihat representasi senyuman kita disitu, dan dengan ekspresi itu pula saudara kita akan mempu memahami keadaan kita. Maka sebisa mungkin jangan kita lupakan senyum kita untuk saudara kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar