Dalam sebuah jama’ah, entah itu organisasi atau lembaga yang
ada seringkali kita temui kendala-kendala yang menyendat berjalannya jama’ah
tersebut, satu diantaranya adalah komunikasi.
Ya, komunikasi menjadi faktor yang urgen berkaitan dengan kelancaran
berjalannya sebuah jama’ah. Maka dari itu, bentuk komunikasi sekecil apapun
hendaknya kita berikan perhatian khusus dalam hal ini.
Letak permasalahan komunikasi kini bukan sekedar pada miss-communication, tapi juga dilihat
dari pola komunikasi. Salah satu hal yang ingin saya soroti di sini berkenaan
dengan interaksi aktivis dari segi sms (short message service). Perlu saya tekankan,
bahwa para aktivis berjuang dengan menjunjung prinsip ukhuwah islamiyah.
Ukhuwah islamiyah merupakan ikatan persaudaraan yang dasarnya adalah hati. Maka
ketika membalas sebuah pesan dari saudara kita, hendaknya kita sadari betul
bahwasanya kita sedang menyampaikan kasih kita pada saudara yang kita cintai,
bukan sekedar membalas pesan seorang rekan bisnis yang memerlukan jawaban apa
perlunya. Pesan-pesan singkat ini merupakan sarana kita berkasih sayang di sela
kesibukan, menebar senyum tanpa harus melengkungkan bibir, memberikan perhatian
ringan yang mampu menyentuh sisi bawah sadar saudara kita.
Dari sekian banyak aktivis dakwah, tidak sedikit darinya yang
mengeluhkan kekecewaan mengenai hal ini, bahasa sms yang terlalu kaku, menjawab
pertanyaan terlalu singkat,dsb. Jangan sampai karena kesibukan-kesibukan kita
menjalankan sebuah amanah lantas kita mengabaikan amanah yang lain yaitu
menunaikan hak saudara kita untuk mendapatkan perlakuan terbaik dari kita.
Berikut beberapa contoh sms yang biasa menjadi keluhan :
1.
“y”,
“g” dsb
2.
“ya.”
“gpp.” dsb
Model pesan dengan menggunakan tanda
(.) seperti ini memberikan kesan tegas. Penerima pesan seperti ini biasanya
akan merasakan ketidaknyamanan, tak terlalu berbeda dengan efek model
sebelumnya, pesan ini juga mengakibatkan keresahan di hati si penerima, dan
jika pesan-pesan model seperti ini terus-menerus mereka dapatkan, akan
mengakibatkan kedongkolan.
Masih banyak lagi pola-pola sms yang mengakibatkan
kesalahpahaman dan mengeringnya ukhuwah antar aktivis dakwah. Maka kita perlu
merasakan isi pesan kita sebelum mengirimkannya pada saudara kita, akan seperti
apakah kesannya ketika pesan kita itu dibaca oleh saudara kita. Mengantisipasi
kesibukan kita yang sungguh membuat kita kesulitan untuk membalas pesan lebih,
maka paling tidak kita dapat menyertakan ekspresi senyum,dsb. Meskipun pesan
kita singkat, namun saudara kita akan melihat representasi senyuman kita
disitu, dan dengan ekspresi itu pula saudara kita akan mempu memahami keadaan
kita. Maka sebisa mungkin jangan kita lupakan senyum kita untuk saudara kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar