(Marah?
Tak Malu?)
#Refleksi 7
Marah
merupakan sebuah ekspresi. Ekspresi dari emosi yang tak mampu ditahan oleh
kendali diri. Kemarahan biasa disebabkan oleh ketidakcocokan, rasa tidak puas,
merasa dirugikan atau disakiti dan lain sebagainya.
Saya
terkesan oleh sesuatu melalui ungkapan Hanum Rais yang dituturkannya untuk
memberikan komentar terhadap tuduhan yang belakangan ditujukan terhadap
ayahanda tercintanya, Amien Rais. Saya takjub membaca tulisan yang disampaikan
Hanum Rais sebagai jawaban atas percakapannya dengan ayahnya itu, saat Hanum
berpikir untuk mencari cara mengembalikan nama baik ayahnya, ayahanya justru
menjawab dengan senyum, “yang terjadi pada bapak semua atas ijin Allah The
Almighty. Ini Berkah! Ini Berkah! Tidak sedikitpun bapak merasa ini hukuman
atau ujian. Kamu kalau baca Al-Qur’an, gak perlu berkelit atau takut. Hadapi dengan
kejujuran.” Begitu lah yang
ditulisnya melalui akun facebooknya hari ini.
Saya
merasakan getaran keimanan yang luar biasa dari perkataan beliau, Amien Rais. Dalam
ilmu tasawuf Al-Ghazali, barangkali beliau sudah mencapai maqom Ma’rifah,
merupakan maqom kedua tertinggi, setahap di bawah Mahabbah. Hanya dengan Ma’rifatullah
yang benar membuat cara berpikir seorang mukmin menjadi benar. Tak ada
keresahan terhadap rezeki, tak ada khawatir atas makar manusia, tak ada ketakutan
akan penilaian manusia, melainkan hanya ridho dan berkah Allah saja yang mereka
harapkan. Karena hanya dengan ma’rifatullah yang benar manusia menyandarkan
segala kehidupannya pada Dzat yang benar, sehingga tak ada keraguan dalam
langkahnya selama berjalan atas Hidayah yang terlanjur bersarang dalam dada.
Lalu
bagaimana dengan kemarahan? Saya terkesan terhadap beliau, Amien Rais karena
saya tidak melihat kemarahan beliau dalam kondisi tersebut. Lalu bagaimana
dengan diri ini? Walau bahkan kita seringkali membaca hadits-hadits tentang
larangan marah,
عن أبي هريرة رضي
الله عنه، أن رجلا قال للنبي صلى الله عليه وسلم: أو صني قال: ” لا تغضب ” فردد
مرارا قال: ” لا تغضب ” رواه البخاري
Artinya: Dari Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu,
bahwasanya seorang laki laki berkata kepada Nabi Shollallahu ‘alaihi wa sallam:
” Wasiatkan kepadaku! Nabi bersabda: ” Janganlah engkau marah ” Orang tadi
mengulangi berkali kali. Nabi bersabda: ” Janganlah engkau marah ” [HR
Al-Bukhori]
Begitu sangat ditekankan larangan agar kita tidak terbawa pada
kondisi marah, dikarenakan orang yang sedang marah diumpamakan seperti orang
gila. Akalnya tidak mampu bekerja dengan sehat, perasaannya kehilangan belas
kasih dan rasa cinta. Namun rasanya larangan tersebut tak begitu berpengaruh
pada diri. Mengapa? Barangkali dikarenakan diri belum mampu mengenali Allah,
maka Allah memerintahkan kepada kita untuk senantiasa berdoa agar diberikan
Hidayah dan petunjuk.
Marah merupakan tanda bahwa jiwa kita sedang kalah. Kalah karena
tak mampu memperoleh ketenangan dan ketentraman dalam menghadapi kenyataan
hidup. Diri yang menyadari efek celaka dari kemarahan akan berpikir ribuan kali
untuk mengekspresikan kemarahan hingga akhirnya urung. Kemarahan mampu melukai
perasaan orang lain, mengganggu stabilitas sosial lingkungan, namun yang lebih
merugikan adalah bagi diri kita sendiri, karena tanpa kita sadari kita berada
pada posisi layaknya orang sakit jiwa. Sesungguhnya bukan orang lain yang
menyakiti kita. Tak ada seorang pun yang mampu menyakiti kita, karena kendali
hati ada pada diri kita sendiri, seberapa cerdas kita mampu mengelola emosi. Kecerdasan
tersebut tentu terkoneksi kuat dengan keimanan. Menuruti kemarahan dan emosi
ibarat mengambil pisau yang dibawa oleh lawan dan menghunjamkannya sendiri ke
dada kita, hingga kita terluka, bahkan hingga mati.
Maka
tak malu kah kita memperturutkan kemarahan? Sebelum tertarik untuk merasa marah
terhadap orang lain, barangkali kita perlu sadar bahwa kita ini jauh lebih
menjengkelkan dan seringkali melukai perasaan orang lain. Barangkali kita tidak
sadar sikap kita ini justru seringkali membuat orang marah, lalu pantaskah kita
marah terhadap orang lain? Saya bukan seseorang yang tak pernah marah, tapi
berharap besar untuk menjadi orang cerdas yang mampu mengendalikan kemarahan di
atas keimanan.
Allahu a’lam..
7
Ramadhan 1438H/ 2 Juni 2017
Princess
el-Fa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar