Total Tayangan Halaman

Jumat, 02 Juni 2017

Catatan Ramadhan 1438 H



(Marah? Tak Malu?)


 
#Refleksi 7
Marah merupakan sebuah ekspresi. Ekspresi dari emosi yang tak mampu ditahan oleh kendali diri. Kemarahan biasa disebabkan oleh ketidakcocokan, rasa tidak puas, merasa dirugikan atau disakiti dan lain sebagainya.
Saya terkesan oleh sesuatu melalui ungkapan Hanum Rais yang dituturkannya untuk memberikan komentar terhadap tuduhan yang belakangan ditujukan terhadap ayahanda tercintanya, Amien Rais. Saya takjub membaca tulisan yang disampaikan Hanum Rais sebagai jawaban atas percakapannya dengan ayahnya itu, saat Hanum berpikir untuk mencari cara mengembalikan nama baik ayahnya, ayahanya justru menjawab dengan senyum, “yang terjadi pada bapak semua atas ijin Allah The Almighty. Ini Berkah! Ini Berkah! Tidak sedikitpun bapak merasa ini hukuman atau ujian. Kamu kalau baca Al-Qur’an, gak perlu berkelit atau takut. Hadapi dengan kejujuran.”  Begitu lah yang ditulisnya melalui akun facebooknya hari ini.
Saya merasakan getaran keimanan yang luar biasa dari perkataan beliau, Amien Rais. Dalam ilmu tasawuf Al-Ghazali, barangkali beliau sudah mencapai maqom Ma’rifah, merupakan maqom kedua tertinggi, setahap di bawah Mahabbah. Hanya dengan Ma’rifatullah yang benar membuat cara berpikir seorang mukmin menjadi benar. Tak ada keresahan terhadap rezeki, tak ada khawatir atas makar manusia, tak ada ketakutan akan penilaian manusia, melainkan hanya ridho dan berkah Allah saja yang mereka harapkan. Karena hanya dengan ma’rifatullah yang benar manusia menyandarkan segala kehidupannya pada Dzat yang benar, sehingga tak ada keraguan dalam langkahnya selama berjalan atas Hidayah yang terlanjur bersarang dalam dada.
Lalu bagaimana dengan kemarahan? Saya terkesan terhadap beliau, Amien Rais karena saya tidak melihat kemarahan beliau dalam kondisi tersebut. Lalu bagaimana dengan diri ini? Walau bahkan kita seringkali membaca hadits-hadits tentang larangan marah,

عن أبي هريرة رضي الله عنه، أن رجلا قال للنبي صلى الله عليه وسلم: أو صني قال: ” لا تغضب ” فردد مرارا قال: ” لا تغضب ”  رواه البخاري

Artinya: Dari Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu, bahwasanya seorang laki laki berkata kepada Nabi Shollallahu ‘alaihi wa sallam: ” Wasiatkan kepadaku! Nabi bersabda: ” Janganlah engkau marah ” Orang tadi mengulangi berkali kali. Nabi bersabda: ” Janganlah engkau marah ” [HR Al-Bukhori]

Begitu sangat ditekankan larangan agar kita tidak terbawa pada kondisi marah, dikarenakan orang yang sedang marah diumpamakan seperti orang gila. Akalnya tidak mampu bekerja dengan sehat, perasaannya kehilangan belas kasih dan rasa cinta. Namun rasanya larangan tersebut tak begitu berpengaruh pada diri. Mengapa? Barangkali dikarenakan diri belum mampu mengenali Allah, maka Allah memerintahkan kepada kita untuk senantiasa berdoa agar diberikan Hidayah dan petunjuk.
Marah merupakan tanda bahwa jiwa kita sedang kalah. Kalah karena tak mampu memperoleh ketenangan dan ketentraman dalam menghadapi kenyataan hidup. Diri yang menyadari efek celaka dari kemarahan akan berpikir ribuan kali untuk mengekspresikan kemarahan hingga akhirnya urung. Kemarahan mampu melukai perasaan orang lain, mengganggu stabilitas sosial lingkungan, namun yang lebih merugikan adalah bagi diri kita sendiri, karena tanpa kita sadari kita berada pada posisi layaknya orang sakit jiwa. Sesungguhnya bukan orang lain yang menyakiti kita. Tak ada seorang pun yang mampu menyakiti kita, karena kendali hati ada pada diri kita sendiri, seberapa cerdas kita mampu mengelola emosi. Kecerdasan tersebut tentu terkoneksi kuat dengan keimanan. Menuruti kemarahan dan emosi ibarat mengambil pisau yang dibawa oleh lawan dan menghunjamkannya sendiri ke dada kita, hingga kita terluka, bahkan hingga mati.
Maka tak malu kah kita memperturutkan kemarahan? Sebelum tertarik untuk merasa marah terhadap orang lain, barangkali kita perlu sadar bahwa kita ini jauh lebih menjengkelkan dan seringkali melukai perasaan orang lain. Barangkali kita tidak sadar sikap kita ini justru seringkali membuat orang marah, lalu pantaskah kita marah terhadap orang lain? Saya bukan seseorang yang tak pernah marah, tapi berharap besar untuk menjadi orang cerdas yang mampu mengendalikan kemarahan di atas keimanan. 
Allahu a’lam..

7 Ramadhan 1438H/ 2 Juni 2017
Princess el-Fa
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar