(Madrasatul
Ula)
#Refleksi
5
“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik
kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan
melahirkannya dengan susah payah (pula). mengandungnya sampai menyapihnya
adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia Telah dewasa dan umurnya sampai
empat puluh tahun ia berdoa: "Ya Tuhanku, tunjukilah Aku untuk mensyukuri
nikmat Engkau yang Telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan
supaya Aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan
kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya Aku bertaubat
kepada Engkau dan Sesungguhnya Aku termasuk orang-orang yang berserah
diri". (Al-Ahqaaf: 15)
Ayat tersebut menegaskan pada kita
bahwa kita diperintahkan untuk taat pada Allah dengan mengingat jasa kedua
orang tua kita. Jika kita mampu memberikan pengabdian terbaik pada orang tua,
maka layaknya kita memberikan pengabdian terbaik pada Allah.
Lalu mari kita ulas bagaimana
pengasuhan kita pada posisi sebagai orang tua dalam membentuk generasi berkarakter
unggul (berakhlak mulia). Sekolah merupakan tempat kita menitipkan anak-anak
untuk dididik agar menjadi sosok insan kamil. Mungkinkah pernah terlintas
dalam pikiran, mengapa harus ada sekolah? Apakah orang tua sudah tidak mampu
mendidik anak-anaknya? Bagaimana jika sekolah dihapuskan dan diganti dengan
pendidikan oleh orang tua? Karena pendidikan terbaik adalah pendidikan dari
orang tua (berilmu). Namun kemudian kita melihat kembali realitas kita sebagai
orang tua di masa ini, tidak semua orang tua mampu melaksanakan tugasnya
sebagai seorang pendidik, terlebih lagi paradigma tugas utama orang tua yang
saat ini bergeser ke arah pemenuhan kebutuhan anak, baik untuk kehidupan
sehari-hari maupun untuk biaya pendidikan.
Ibu adalah madrasah pertama bagi
anak-anak. Tahap pertama ketika anak terlahir ke dunia, seorang ibu membangun
kedekatan batin dengan sang buah hati agar setelah menyedari kehidupannya kelak
sang anak mampu memahami dan mentaati apa yang diajarkan oleh sang Ibu. Begitulah
setiap hari seorang ibu mengajak anaknya berbicara, melantunkan ayat-ayat Allah
untuk merangsang iman takwa buah hati tercinta. Lalu setelah memasuki usia
sekolah, orang tua menitipkan anak-anaknya pada institusi yang disebut sekolah.
Apakah hal ini lantaas memutus rantai pendidikan orang tua terhadap anaknya? Tentu
tidak. Orang tua yang telah lebih dahulu dan lebih lama membangun kedekatan
jiwa dengan sang anak, peran orang tua lah yang lebih besar dalam mendidik
karakter anak.
Memberikan pendidikan terbaik pada
anak tidak cukup berbekal lisan dan perintah yang diucapkan berkali-kali,
bertubi-tubi hingga memenuhi ruang pendengaran anak bahkan hingga mereka hafal
apa yang akan disampaikan pada si anak. Untuk mendidik seorang anak, seorang
ibu memerlukan ilmu. Ya, itu lah mengapa seorang wanita harus berpendidikan
tinggi. Bukan lantas pendidikan dalam kacamata formal, namun seorang ibu yang
tak pernah berhenti menuntut ilmu demi memberikan pengajaran dan pendidikan
terbaik bagi anak. Begitulah kasih saying seorang ibu, tak rela anaknya
terjerumus dalam kehidupan yang sesat segala macam akan diupayakan demi
menyelamatkan putra-putrinya. Anak adalah asset terbesar orang tua. Siapakah yang
akan mendoakan orang tua setelah tiada? Siapakah yang akan memberikan jubbah kebesaran
pada orang tua di akhirat. Ya, mereka lah anak-anak kita. Bukan anak-anak
biasa, melainkan anak sholih sholihah yang terlahir dari dedikasi orang tua
mewakafkan hidupnya untuk mencetak sebuah generasi insan kamil.
Dalam pendidikan karakter, 1000 kata
dapat dikalahkan oleh 1 tindakan. Hal ini memiliki arti bahwa anak-anak
cenderung lebih mudah terangsang untuk meneladani apa yang kita lakukan
dibandingkan apa yang kita katakan. Jika kita terbiasa meneriaki anak, mungkin
dia akan terbentuk menjadi anak yang suka meneriaki orang lain. Jika kita
sering menyalahkan dia, maka barangkali ia akan terbentuk menjadi anak yang
suka menyalahkan teman sebayanya, lebih mudah emosi. Maka mengelola emosi anak
memerlukan kelembutan dan kasih sayang. Sebagai orang tua tentu kita mengharap
suatu saat nanti mereka menjadi penolong kita di akhirat, maka sudah selayaknya
kita mengupayakan segala hal untuk mengantarkan anak kita pada keunggulan
akhlak. Jika kita ingin anak kita rajin membaca Al-Qur’an, maka harus dimulai
dari kita sebagai orang tua. Jika kita menginginkan anak kita menjadi seorang
penghafal Al Qur’an, mulai pula dari kita walau mungkin hafalan beberapa dari
kita tak mampu mengejar hafalan anak. Jika kita menginginkan anak kita berjiwa
pengasih, maka mulailah kita untuk mendidik anak-anak dengan cara yang sarat akan
kasih sayang. Sekali lagi, menjadi seorang ibu memerlukan ilmu. Maka tak
hentinya kita mencari ilmu dan mengharap hidayah dari Allah agar senantiasa
membimbing kita untuk mampu memberikan pendidikan terbaik bagi buah hati
tercinta.
Allahu
a’lam..
5
Ramadhan 1438H/ 31 Mei 2017
Princess
el-Fa

Tidak ada komentar:
Posting Komentar