Total Tayangan Halaman

Kamis, 01 Juni 2017

Catatan Ramadhan 1438 H



(Madrasatul Ula)


#Refleksi 5
“Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia Telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: "Ya Tuhanku, tunjukilah Aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang Telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya Aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya Aku bertaubat kepada Engkau dan Sesungguhnya Aku termasuk orang-orang yang berserah diri". (Al-Ahqaaf: 15)



            Ayat tersebut menegaskan pada kita bahwa kita diperintahkan untuk taat pada Allah dengan mengingat jasa kedua orang tua kita. Jika kita mampu memberikan pengabdian terbaik pada orang tua, maka layaknya kita memberikan pengabdian terbaik pada Allah.
            Lalu mari kita ulas bagaimana pengasuhan kita pada posisi sebagai orang tua dalam membentuk generasi berkarakter unggul (berakhlak mulia). Sekolah merupakan tempat kita menitipkan anak-anak untuk dididik agar menjadi sosok insan kamil. Mungkinkah pernah terlintas dalam pikiran, mengapa harus ada sekolah? Apakah orang tua sudah tidak mampu mendidik anak-anaknya? Bagaimana jika sekolah dihapuskan dan diganti dengan pendidikan oleh orang tua? Karena pendidikan terbaik adalah pendidikan dari orang tua (berilmu). Namun kemudian kita melihat kembali realitas kita sebagai orang tua di masa ini, tidak semua orang tua mampu melaksanakan tugasnya sebagai seorang pendidik, terlebih lagi paradigma tugas utama orang tua yang saat ini bergeser ke arah pemenuhan kebutuhan anak, baik untuk kehidupan sehari-hari maupun untuk biaya pendidikan.
            Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anak. Tahap pertama ketika anak terlahir ke dunia, seorang ibu membangun kedekatan batin dengan sang buah hati agar setelah menyedari kehidupannya kelak sang anak mampu memahami dan mentaati apa yang diajarkan oleh sang Ibu. Begitulah setiap hari seorang ibu mengajak anaknya berbicara, melantunkan ayat-ayat Allah untuk merangsang iman takwa buah hati tercinta. Lalu setelah memasuki usia sekolah, orang tua menitipkan anak-anaknya pada institusi yang disebut sekolah. Apakah hal ini lantaas memutus rantai pendidikan orang tua terhadap anaknya? Tentu tidak. Orang tua yang telah lebih dahulu dan lebih lama membangun kedekatan jiwa dengan sang anak, peran orang tua lah yang lebih besar dalam mendidik karakter anak.
            Memberikan pendidikan terbaik pada anak tidak cukup berbekal lisan dan perintah yang diucapkan berkali-kali, bertubi-tubi hingga memenuhi ruang pendengaran anak bahkan hingga mereka hafal apa yang akan disampaikan pada si anak. Untuk mendidik seorang anak, seorang ibu memerlukan ilmu. Ya, itu lah mengapa seorang wanita harus berpendidikan tinggi. Bukan lantas pendidikan dalam kacamata formal, namun seorang ibu yang tak pernah berhenti menuntut ilmu demi memberikan pengajaran dan pendidikan terbaik bagi anak. Begitulah kasih saying seorang ibu, tak rela anaknya terjerumus dalam kehidupan yang sesat segala macam akan diupayakan demi menyelamatkan putra-putrinya. Anak adalah asset terbesar orang tua. Siapakah yang akan mendoakan orang tua setelah tiada? Siapakah yang akan memberikan jubbah kebesaran pada orang tua di akhirat. Ya, mereka lah anak-anak kita. Bukan anak-anak biasa, melainkan anak sholih sholihah yang terlahir dari dedikasi orang tua mewakafkan hidupnya untuk mencetak sebuah generasi insan kamil.
            Dalam pendidikan karakter, 1000 kata dapat dikalahkan oleh 1 tindakan. Hal ini memiliki arti bahwa anak-anak cenderung lebih mudah terangsang untuk meneladani apa yang kita lakukan dibandingkan apa yang kita katakan. Jika kita terbiasa meneriaki anak, mungkin dia akan terbentuk menjadi anak yang suka meneriaki orang lain. Jika kita sering menyalahkan dia, maka barangkali ia akan terbentuk menjadi anak yang suka menyalahkan teman sebayanya, lebih mudah emosi. Maka mengelola emosi anak memerlukan kelembutan dan kasih sayang. Sebagai orang tua tentu kita mengharap suatu saat nanti mereka menjadi penolong kita di akhirat, maka sudah selayaknya kita mengupayakan segala hal untuk mengantarkan anak kita pada keunggulan akhlak. Jika kita ingin anak kita rajin membaca Al-Qur’an, maka harus dimulai dari kita sebagai orang tua. Jika kita menginginkan anak kita menjadi seorang penghafal Al Qur’an, mulai pula dari kita walau mungkin hafalan beberapa dari kita tak mampu mengejar hafalan anak. Jika kita menginginkan anak kita berjiwa pengasih, maka mulailah kita untuk mendidik anak-anak dengan cara yang sarat akan kasih sayang. Sekali lagi, menjadi seorang ibu memerlukan ilmu. Maka tak hentinya kita mencari ilmu dan mengharap hidayah dari Allah agar senantiasa membimbing kita untuk mampu memberikan pendidikan terbaik bagi buah hati tercinta.
Allahu a’lam..

5 Ramadhan 1438H/ 31 Mei 2017
Princess el-Fa


Tidak ada komentar:

Posting Komentar