Total Tayangan Halaman

Rabu, 31 Mei 2017

Catatan Ramadhan 1438 H

Qonaah dalam Berbuka Puasa
#Refleksi 3
Ini nuansa sore ramadhan ketiga, ketika saya menuju saat berbuka bukan lagi berkumpul bersama keluarga melainkan berada dalam keramaian jalan raya. Beraneka macam menu tersedia di kanan kiri jalan, seolah memudahkan sekali jika kita ingin menikmati buka puasa di jalan. Bahkan ada satu stand yang saya lihat berlabel, “TAKJIL GRATIS” yang dilayani oleh para pemuda berseragam merah hitam, ntah dari mana mereka. Subhanallah, ini kemudahan diberikan pada para musafir khususnya. Menjelang buka puasa, sempat terlintas di benak saya untuk membeli menu takjil, bagaimana tidak? Menu beraneka macam, nampak segar dengan bentuk kemasan cup, berwarna-warni dan tentu yang ada di benak saya adalah, “segar ini”.
Sepersekian menit kemudian tangan yang hampir menghentikan sepeda motor ini memberikan reflek yang kontra, saya tetap mengemudikan motor saya sambir terus berpikir. Apakah selepas buka, Allah memberikan keutamaanNya jika kemudian saya melampiaskan dengan berbuka sepuas-puasnya sebanyak-banyaknya dan seenak-enaknya? Ahh.. astaghfirullah. Bahkan terhadap perkara mubah pun kita dianjurkan untuk bersabar. Secara fungsional, puasa melatih kita untuk mensyukuri kehidupan yang kita miliki dikarenakan masih banyak orang yang bernasib tak seberuntung kita. Banyak orang miskin kelaparan, orang jalanan beberapa hari tak makan. Lalu jika kita memuaskan diri dengan waktu berbuka, apakah kemudian kita lupa akan rasa empati terhadap ‘mereka’?
Qonaah dalam berbuka adalah satu keutamaan dalam berbuka puasa. Qonaah berarti mensyukuri apa yang masih dapat kita peroleh untuk berbuka puasa. Kemudian saya kembali pada perjalanan dan tidak ingin pula mengecewakan ibunda tercinta yang pasti sudah menyiapkan menu istimewa walau sederhana untuk anak-anaknya yang telah usai melaksanakan ibadah puasa hari ini.
Kita dianjurkan untuk makan sebelum lapar dan berhenti sebelum kenyang, serta tidak berlebih-lebihan dalam suatu hal, termasuk dalam hal yang mubah. Maka sudah menjadi keutamaan jika kita mampu menahan diri untuk tidak berlebih-lebihan dalam berbuka puasa. Lebih utama jika kita mampu memberikan buka kepada orang-orang yang kekurangan untuk sekedar menikmati buka puasa yang tak mampu diperolehnya. Dalam ilmu kesehatan, berlebihhan dalam berbuka puasa juga mengakibatka berbagai masalah kesehatan seperti dyspepsia, terutama bagi mereka yang sudah memiliki riwayat penyakit lambung sebelumnya. Selain itu, berlebihan dalam berbuka puasa juga memicu rasa kantuk dan malas, hal ini sudah sangat terbukti. Hal itu yang kemudian menjadi penghalang bagi kita untuk beribadah. Maka hendaknya saat berbuka diawali dengan berbuka makanan manis yang ringan, baru makan besar setelah sholat maghrib atau isya’, namun tetap dalam porsi yang tidak berlebihan.
Kita biasa mendapati orang berbuka puasa dengan porsi yang begitu banyak karena nafsunya makan ini dan itu, ingin merasakan semua makanan ini dan itu sebab telah berbuka sehingga sedikit-sedikit makanan yang masuk dalam tubuhnya menjadi berlebih. Hakikat segala aktivitas kita adalah untuk Allah. Termasuk makan. Manusia makan untuk memperoleh energy agar mampu beribadah dan beramal dengan maksimal, atas nama Allah. Maka jika kita makan hanya untuk menuruti nafsu kelaparan atau keinginan kita, hakikatnya kita sudah salah jalan. Nemun begitu lah yang seringkali terjadi pada diri kita, lupa akan hakikat aktivitas kita.
Bulan ramadhan seharusnya menjadi bulan menahan diri, namun survey membuktikan bahwa konsumsi justru meningkat pesat dalam bulan ramadhan. Semoga kita mampu memaknai esensi menahan diri dalam bulan ramadhan, termasuk menahan diri dalam berbuka dan sahur. Qonaah dalam berbuka puasa lebih mendekatkan kita pada ridho dan keberkahan Allah swt. Allahu a’lam..



3 Ramadhan 1438H/ 29 Mei 2017
Princess el-Fa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar