Qonaah dalam Berbuka Puasa
#Refleksi
3
Ini
nuansa sore ramadhan ketiga, ketika saya menuju saat berbuka bukan lagi
berkumpul bersama keluarga melainkan berada dalam keramaian jalan raya. Beraneka
macam menu tersedia di kanan kiri jalan, seolah memudahkan sekali jika kita
ingin menikmati buka puasa di jalan. Bahkan ada satu stand yang saya lihat
berlabel, “TAKJIL GRATIS” yang dilayani oleh para pemuda berseragam merah
hitam, ntah dari mana mereka. Subhanallah, ini kemudahan diberikan pada para
musafir khususnya. Menjelang buka puasa, sempat terlintas di benak saya untuk
membeli menu takjil, bagaimana tidak? Menu beraneka macam, nampak segar dengan
bentuk kemasan cup, berwarna-warni dan tentu yang ada di benak saya adalah, “segar
ini”.
Sepersekian
menit kemudian tangan yang hampir menghentikan sepeda motor ini memberikan
reflek yang kontra, saya tetap mengemudikan motor saya sambir terus berpikir. Apakah
selepas buka, Allah memberikan keutamaanNya jika kemudian saya melampiaskan
dengan berbuka sepuas-puasnya sebanyak-banyaknya dan seenak-enaknya? Ahh..
astaghfirullah. Bahkan terhadap perkara mubah pun kita dianjurkan untuk
bersabar. Secara fungsional, puasa melatih kita untuk mensyukuri kehidupan yang
kita miliki dikarenakan masih banyak orang yang bernasib tak seberuntung kita. Banyak
orang miskin kelaparan, orang jalanan beberapa hari tak makan. Lalu jika kita
memuaskan diri dengan waktu berbuka, apakah kemudian kita lupa akan rasa empati
terhadap ‘mereka’?
Qonaah
dalam berbuka adalah satu keutamaan dalam berbuka puasa. Qonaah berarti
mensyukuri apa yang masih dapat kita peroleh untuk berbuka puasa. Kemudian saya
kembali pada perjalanan dan tidak ingin pula mengecewakan ibunda tercinta yang
pasti sudah menyiapkan menu istimewa walau sederhana untuk anak-anaknya yang
telah usai melaksanakan ibadah puasa hari ini.
Kita
dianjurkan untuk makan sebelum lapar dan berhenti sebelum kenyang, serta tidak
berlebih-lebihan dalam suatu hal, termasuk dalam hal yang mubah. Maka sudah
menjadi keutamaan jika kita mampu menahan diri untuk tidak berlebih-lebihan
dalam berbuka puasa. Lebih utama jika kita mampu memberikan buka kepada
orang-orang yang kekurangan untuk sekedar menikmati buka puasa yang tak mampu
diperolehnya. Dalam ilmu kesehatan, berlebihhan dalam berbuka puasa juga
mengakibatka berbagai masalah kesehatan seperti dyspepsia, terutama bagi
mereka yang sudah memiliki riwayat penyakit lambung sebelumnya. Selain itu,
berlebihan dalam berbuka puasa juga memicu rasa kantuk dan malas, hal ini sudah
sangat terbukti. Hal itu yang kemudian menjadi penghalang bagi kita untuk
beribadah. Maka hendaknya saat berbuka diawali dengan berbuka makanan manis
yang ringan, baru makan besar setelah sholat maghrib atau isya’, namun tetap
dalam porsi yang tidak berlebihan.
Kita
biasa mendapati orang berbuka puasa dengan porsi yang begitu banyak karena
nafsunya makan ini dan itu, ingin merasakan semua makanan ini dan itu sebab
telah berbuka sehingga sedikit-sedikit makanan yang masuk dalam tubuhnya
menjadi berlebih. Hakikat segala aktivitas kita adalah untuk Allah. Termasuk makan.
Manusia makan untuk memperoleh energy agar mampu beribadah dan beramal dengan
maksimal, atas nama Allah. Maka jika kita makan hanya untuk menuruti nafsu
kelaparan atau keinginan kita, hakikatnya kita sudah salah jalan. Nemun begitu
lah yang seringkali terjadi pada diri kita, lupa akan hakikat aktivitas kita.
Bulan
ramadhan seharusnya menjadi bulan menahan diri, namun survey membuktikan bahwa
konsumsi justru meningkat pesat dalam bulan ramadhan. Semoga kita mampu
memaknai esensi menahan diri dalam bulan ramadhan, termasuk menahan diri dalam
berbuka dan sahur. Qonaah dalam berbuka puasa lebih mendekatkan kita pada ridho
dan keberkahan Allah swt. Allahu a’lam..
3
Ramadhan 1438H/ 29 Mei 2017
Princess
el-Fa

Tidak ada komentar:
Posting Komentar