(Madrasatu
Ash-Sholihin)
#Refleksi
2
Telah
berlalu ramadhan pertama..
Nikmat,
sungguh nikmat terlaluinya ramadhan bagi orang-orang beriman. Setiap menit
menjadi nilai-nilai pembinaan diri, setiap detik menjadi titik-titik keberkahan
yang memperkokoh naluri. Ramadhan merupakan madrasatush sholihin, yakni
pendidikan bagi orang-orang sholih. Mengapa? Karena ramadhan menambah
kekhusukan ibadah mereka, menambah spirit amaliyah mereka, memperkuat
simpul-simpul hati yang terurai maksiat setiap harinya. Orang-orang sholih
mampu merasakan getaran cinta dari Sang Kholik dalam setiap sentuhan mushafnya,
dari setiap sujud tuma’ninahnya, dari ucap laku yang penuh kehati-hatian.
Kemana
orang-orang yang senantiasa mengeluarkan kalimat-kalimat tak berarti penuh
kesia-siaan?
Kemana
mereka yang begitu mudah meluapkan emosi saat merasa tersakiti hatinya?
Kemana
mereka yang sering jajan kesana kemari demi memuaskan nafsu mencicipi makanan
ini dan itu?
Kemana
mereka yang melakukan rutinitas dan seringkali lupa pada hakikatnya?
Madrasatush
sholihin, membawa orang-orang sholih pada mawas diri yang semakin
tinggi. Ketika lisan seringkali bersenda gurau tanpa makna “bi kalimatillah”,
maka dalam forum madrasatush sholihin mereka begitu berhati-hati
menjaga setiap kalimat yang keluar dari lisan. Berpikir, ya.. setiap saat
berpikir, karena senantiasa berpikir merupakan salah satu ciri orang yang
diberi petunjuk melalui Kalamullah. Berpikir atas setiap tutur kata, berpikir
atas setiap tingkah laku yang mana tak ridho dirinya melakukan kesia-siaan yang
tak memancing keberkahan Rabbnya.
Untuk menjadi petunjuk dan peringatan bagi orang-orang yang
berfikir (Al-Mu'min: 54)
Begitu Allah menjadikan Al Qur’an yang karim sebagai petunjuk bagi
orang-orang yang berpikir. Maka beruntung manusia yang senantiasa berpikir
dalam setiap pikiran, ucapan dan perbuatannya.
Hati dalam bahasa
arab disebut ‘qalb’ yang artinya berbolak-balik. Karenanya manusia mudah sekali
merasakan emosi yang tidak terkontrol. Namun menurut ElMalili Hamdi Yazid,
ramadhan berasal dari kata dasar ‘ramadiyu’ yang berarti ‘hujan’ yang terlihat
pada akhir musim panas, pada awal musim gugur dan membersihkan bumi dari debu. Seperti
hujan yang mencuci permukaan, bulan ramadhan mensucikan orang beriman dari dosa
dan membersihkan hati mereka.
Sifat ramadhan yang seperti hujan membersihkan hati manusia
mendorong manusia untuk berpikir lebih jernih dan matang dalam mengendalikan
fungsi hati (perasaan) sehingga ia memiliki kekuatan lebih dalam mengontrol
emosinya.
Ramadhan merupakan
madrasatush sholihin dimana dalam madrasah manusia terpacu untuk
senantiasa berpikir dan bertindak lebih baik daripada biasanya, karena dalam
madrasah manusia memperoleh ilmu yang tidak diperoleh ketika mereka berada di
luar madrasah. Keistimewaan ramadhan. Ramadhan istimewa, jangan lewatkan dengan
sia-sia.
Allahu a’lam..
2
Ramadhan 1438H/ 28 Mei 2017
Princess
el-Fa

Tidak ada komentar:
Posting Komentar