Total Tayangan Halaman

Minggu, 28 Mei 2017

Catatan Ramadhan 1438 H


(Madrasatu Ash-Sholihin)
 Hasil gambar untuk qalbun salim


#Refleksi 2
Telah berlalu ramadhan pertama..
Nikmat, sungguh nikmat terlaluinya ramadhan bagi orang-orang beriman. Setiap menit menjadi nilai-nilai pembinaan diri, setiap detik menjadi titik-titik keberkahan yang memperkokoh naluri. Ramadhan merupakan madrasatush sholihin, yakni pendidikan bagi orang-orang sholih. Mengapa? Karena ramadhan menambah kekhusukan ibadah mereka, menambah spirit amaliyah mereka, memperkuat simpul-simpul hati yang terurai maksiat setiap harinya. Orang-orang sholih mampu merasakan getaran cinta dari Sang Kholik dalam setiap sentuhan mushafnya, dari setiap sujud tuma’ninahnya, dari ucap laku yang penuh kehati-hatian.
Kemana orang-orang yang senantiasa mengeluarkan kalimat-kalimat tak berarti penuh kesia-siaan?
Kemana mereka yang begitu mudah meluapkan emosi saat merasa tersakiti hatinya?
Kemana mereka yang sering jajan kesana kemari demi memuaskan nafsu mencicipi makanan ini dan itu?
Kemana mereka yang melakukan rutinitas dan seringkali lupa pada hakikatnya?
Madrasatush sholihin, membawa orang-orang sholih pada mawas diri yang semakin tinggi. Ketika lisan seringkali bersenda gurau tanpa makna “bi kalimatillah”, maka dalam forum madrasatush sholihin mereka begitu berhati-hati menjaga setiap kalimat yang keluar dari lisan. Berpikir, ya.. setiap saat berpikir, karena senantiasa berpikir merupakan salah satu ciri orang yang diberi petunjuk melalui Kalamullah. Berpikir atas setiap tutur kata, berpikir atas setiap tingkah laku yang mana tak ridho dirinya melakukan kesia-siaan yang tak memancing keberkahan Rabbnya. 

Untuk menjadi petunjuk dan peringatan bagi orang-orang yang berfikir (Al-Mu'min: 54)

Begitu Allah menjadikan Al Qur’an yang karim sebagai petunjuk bagi orang-orang yang berpikir. Maka beruntung manusia yang senantiasa berpikir dalam setiap pikiran, ucapan dan perbuatannya.
            Hati dalam bahasa arab disebut ‘qalb’ yang artinya berbolak-balik. Karenanya manusia mudah sekali merasakan emosi yang tidak terkontrol. Namun menurut ElMalili Hamdi Yazid, ramadhan berasal dari kata dasar ‘ramadiyu’ yang berarti ‘hujan’ yang terlihat pada akhir musim panas, pada awal musim gugur dan membersihkan bumi dari debu. Seperti hujan yang mencuci permukaan, bulan ramadhan mensucikan orang beriman dari dosa dan membersihkan hati mereka.
Sifat ramadhan yang seperti hujan membersihkan hati manusia mendorong manusia untuk berpikir lebih jernih dan matang dalam mengendalikan fungsi hati (perasaan) sehingga ia memiliki kekuatan lebih dalam mengontrol emosinya.
            Ramadhan merupakan madrasatush sholihin dimana dalam madrasah manusia terpacu untuk senantiasa berpikir dan bertindak lebih baik daripada biasanya, karena dalam madrasah manusia memperoleh ilmu yang tidak diperoleh ketika mereka berada di luar madrasah. Keistimewaan ramadhan. Ramadhan istimewa, jangan lewatkan dengan sia-sia.
Allahu a’lam..


2 Ramadhan 1438H/ 28 Mei 2017
Princess el-Fa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar