Total Tayangan Halaman

Sabtu, 27 Mei 2017

Catatan Ramadhan 1438 H

(Merenungi Makna Ramadhan)




#Refleksi 1

Marhaban yaa Ramadhan..
Memasuki bulan Ramadhan memang tak seperti memasuki bulan-bulan selainnya. Kaum muslimin bahkan menyambutnya dengan doa agar disampaikan padanya sejak jauh-jauh hari. Betapa tidak, Allah telah memberikan keistimewaan berlipat pada bulan ini melalui KalamNya serta risalah yang dibawa oleh RasulNya. Maka tak heran bagi insan mukmin merasakan nikmat yang luar biasa dan mungkin tak mampu tersuratkan.

Ramadhan memiliki makna yang dalam tentang hati. Tentang kedekatan hati seorang hamba dengan Rabbnya. Merupakan momentum bagi kaum muslimin untuk mengembalikan makna ibadah secara fungsional. Fenomena fastabiqul khoirot menjadi pemandangan yang menyejukkan bukan? Ya, ini lah istimewanya bulan ramadhan. Di mana bertebaran orang menyedekahkan rezekinya (dengan rasa ringan), di mana targetan membaca Al Qur’an melonjak jauh lebih tinggi dari biasanya (untuk mencapai ketenangan batiniyah), di mana orang berbondong-bondong menuju masjid melaksanakan tarawih. Ada hal yang menarik bukan? Di mana fenomena kerakusan akan harta sedang menjangkiti negeri tercinta, di mana fenomena pendidikan menyatakan bahwa begitu banyak mahasiswa yang bahkan belum bisa membaca Al Qur’an, di mana masjid-masjid sepi pengunjung hari-harinya, lalu Ramadhan mengubah wajah hari. Ya, sekali lagi ini lah istimewanya.

Ramadhan memberikan makna batin yang mendalam. Ramadhan merupakan permulaan, momentum menata kembali segalanya dari awal. Ramadhan bukan sekedar momentum meningkatkan aktivitas ibadah, namun lebih dari itu menyimpan makna “Istiqomah” yang sering terlupa. Pernah bukan kita mendapati kalimat,”lakukan ini tidak apa-apa selagi belum puasa”, atau,”jangan lakukan ini kan sedang puasa”, sedangkan perbuatan tersebut bukan perilaku yang diharamkan sebab puasa. Di satu sisi, puasa memiliki peran yang kuat dalam mengendalikan manusia (beriman), namun menjadi renungan bagi kita bahwa setiap hari dalam hembusan nafas kita adalah perintah ma’ruf yang diberikanNya. Sudah selayaknya kita mengupayakan setiap amal dan kebaikan tidak saja di bulan ramadhan.

Maka bukankah Ramadhan ini sebuah “Momentum Beristiqomah”? kita diberi bonus oleh Allah mengawali kebaikan dengan rasa yang lebih ringan, maka bukankah rugi jika tidak kita manfaatkan? Maka bukankah rugi jika kita melewatkan makna bahwa Ramadhan merupakan “Awal”?

Ishlah bulan ramadhan meliputi 4 wilayah yang sangat esensial:

·         Perbaikan iman agar bertakwa (Al-Baqarah: 183)
·         Perbaikan kepada sesame muslim (Al-Baqarah: 184)
·         Perbaikan diri melalui Al-Qur’an (Al-Baqarah: 185)
·         Perbaikan hubungan dengan Allah melalui “Do’a”


Sahabat-sahabat saya memberikan makna yang indah terhadap kehadiran ramadhan,

“Bulan yang tidak ada selainnya pada keistimewaannya, hingga karena istimewanya jika saja orang meninggal bisa hidup lagi, ingin sekali mereka dihidupkan agar bisa bertemu dengan ramadhan. Tiap detiknya upayakan untuk ibadah.” (Saudara dari Salafy)

“Ramadhan adalah bulan panen. Panen dari hasil yang kita tanam sejak bulan Rojab dan kita sirami / rawat di bulan Sya’ban.” (Saudara dari Tarbiyah)

“According to me, ramadhan is getting closer to Allah and maybe doing your part in helping somebody else getting closer to Allah. Ramadhan adalah bulan di mana Allah menjadi yang lebih didahulukan. Salah satu tujuannya adalah agar Allah tetap diprioritaskan setelah bulan Ramadhan.” (Saudara dari Pascasarjana MPI)

“Puasa itu ibarat proses install ulang computer. Hanya saja objeknya manusia. Install ulang dimaksudkan untuk memperbarui system, supaya lebih produktif dan enteng dalam memproses program. Ramadhan sekaligus bulan penyeimbang ukhrowi (transedental) dan duniawi (humanism) dalam kehidupan.” (Saudara dari Muhammadiyah)

“Ramadhan adalah bulan yang penuh rahmat dan berkah yang berfungsi sebagai tazkiyyatunnafs.” (Saudara dari NU)

“Ramadhan adalah bulan istimewa yang selalu saya nantikan. Bulan penuh ampunan, pintu kebaikan dibuka lebar-lebar. Bulan ini merupakan bulan di mana kita dilatih untuk bersabar.”(Saudara dari MTA)

“Ramadhan adalah bulan takwa. Takwa esensinya adalah tunduk pada syariat Allah secara kaffah. (Saudara dari HTI)


            Mereka yang menyadari makna kehadiran ramadhan tak ingin melewatkannya dengan sia-sia. Kaum muslimin memaknai bulan Ramadhan dengan begitu mulia. Tak ada keraguan terhadap keistimewaannya. Maka tentu tidak rela bagi kita kaum muslimin melewatkan ramadhan sekedar seperti hari-hari yang telah berlalu.
            Lalu ada apa dengan hati?
Hati ini menanti ramadhan seperti kehadiran sosok yang dicinta dan dirindukan. Sehingga kegelisahan hampir selalu menghampiri,”Bilamana usiaku tak sampai di bulan ramadhan?” begitulah kemudian mendorong hati untuk senantiasa berdoa agar sampai pada bulan Ramadhan. Konsekuensi dari penantian adalah sebuah komitmen. Karena hati telah berani menanti ramadhan, maka ia harus berani berkomitmen untuk mengadakan perubahan. Peningkatan pesat terhadap rutinitas ibadah mahdah harus diikuti dengan peningkatan kualitas hati.
Hati yang jauh dari prasangka
Hati yang jauh dari membenci
Hati yang jauh dari hasad, iri, dengki
Hati yang jauh dari underestimate
Hati yang jauh dari dendam
Hati yang jauh dari kekufuran
Hati yang jauh dari kekikiran
Kini kita telah berada padanya (Ramadhan). Apa yang hendak kita lakukan? Akankah berlalu tanpa perubahan? Tidakkah menyesal jika kita meninggalkan ramadhan dengan kerugian walau sedikit? Do’a menjadi sumber kekuatan, atas kesadaran betapa kecilnya kita di dunia, tak ada daya tanpa kekuatanNya. Tak ada manusia bertakwa tanpa Rabbnya.
Maka berdo’a agar diberi “Istiqomah” bermula dari Ramadhan.

1 Ramadhan 1438H/ 27 Mei 2017
Princess el-Fa
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar