(Merenungi Makna Ramadhan)
#Refleksi
1
Marhaban
yaa Ramadhan..
Memasuki
bulan Ramadhan memang tak seperti memasuki bulan-bulan selainnya. Kaum muslimin
bahkan menyambutnya dengan doa agar disampaikan padanya sejak jauh-jauh hari.
Betapa tidak, Allah telah memberikan keistimewaan berlipat pada bulan ini
melalui KalamNya serta risalah yang dibawa oleh RasulNya. Maka tak heran bagi
insan mukmin merasakan nikmat yang luar biasa dan mungkin tak mampu
tersuratkan.
Ramadhan
memiliki makna yang dalam tentang hati. Tentang kedekatan hati seorang hamba
dengan Rabbnya. Merupakan momentum bagi kaum muslimin untuk mengembalikan makna
ibadah secara fungsional. Fenomena fastabiqul khoirot menjadi pemandangan yang
menyejukkan bukan? Ya, ini lah istimewanya bulan ramadhan. Di mana bertebaran
orang menyedekahkan rezekinya (dengan rasa ringan), di mana targetan membaca Al
Qur’an melonjak jauh lebih tinggi dari biasanya (untuk mencapai ketenangan
batiniyah), di mana orang berbondong-bondong menuju masjid melaksanakan
tarawih. Ada hal yang menarik bukan? Di mana fenomena kerakusan akan harta
sedang menjangkiti negeri tercinta, di mana fenomena pendidikan menyatakan
bahwa begitu banyak mahasiswa yang bahkan belum bisa membaca Al Qur’an, di mana
masjid-masjid sepi pengunjung hari-harinya, lalu Ramadhan mengubah wajah hari.
Ya, sekali lagi ini lah istimewanya.
Ramadhan
memberikan makna batin yang mendalam. Ramadhan merupakan permulaan, momentum
menata kembali segalanya dari awal. Ramadhan bukan sekedar momentum
meningkatkan aktivitas ibadah, namun lebih dari itu menyimpan makna “Istiqomah”
yang sering terlupa. Pernah bukan kita mendapati kalimat,”lakukan ini tidak
apa-apa selagi belum puasa”, atau,”jangan lakukan ini kan sedang puasa”,
sedangkan perbuatan tersebut bukan perilaku yang diharamkan sebab puasa. Di
satu sisi, puasa memiliki peran yang kuat dalam mengendalikan manusia
(beriman), namun menjadi renungan bagi kita bahwa setiap hari dalam hembusan
nafas kita adalah perintah ma’ruf yang diberikanNya. Sudah selayaknya kita
mengupayakan setiap amal dan kebaikan tidak saja di bulan ramadhan.
Maka
bukankah Ramadhan ini sebuah “Momentum Beristiqomah”? kita diberi bonus
oleh Allah mengawali kebaikan dengan rasa yang lebih ringan, maka bukankah rugi
jika tidak kita manfaatkan? Maka bukankah rugi jika kita melewatkan makna bahwa
Ramadhan merupakan “Awal”?
Ishlah
bulan ramadhan meliputi 4 wilayah yang sangat esensial:
·
Perbaikan iman
agar bertakwa (Al-Baqarah: 183)
·
Perbaikan kepada
sesame muslim (Al-Baqarah: 184)
·
Perbaikan diri
melalui Al-Qur’an (Al-Baqarah: 185)
·
Perbaikan
hubungan dengan Allah melalui “Do’a”
Sahabat-sahabat
saya memberikan makna yang indah terhadap kehadiran ramadhan,
“Bulan
yang tidak ada selainnya pada keistimewaannya, hingga karena istimewanya jika
saja orang meninggal bisa hidup lagi, ingin sekali mereka dihidupkan agar bisa
bertemu dengan ramadhan. Tiap detiknya upayakan untuk ibadah.” (Saudara dari
Salafy)
“Ramadhan
adalah bulan panen. Panen dari hasil yang kita tanam sejak bulan Rojab dan kita
sirami / rawat di bulan Sya’ban.” (Saudara dari Tarbiyah)
“According
to me, ramadhan is getting closer to Allah and maybe doing your part in helping
somebody else getting closer to Allah. Ramadhan adalah bulan di mana Allah
menjadi yang lebih didahulukan. Salah satu tujuannya adalah agar Allah tetap
diprioritaskan setelah bulan Ramadhan.” (Saudara dari Pascasarjana MPI)
“Puasa
itu ibarat proses install ulang computer. Hanya saja objeknya manusia. Install
ulang dimaksudkan untuk memperbarui system, supaya lebih produktif dan enteng
dalam memproses program. Ramadhan sekaligus bulan penyeimbang ukhrowi
(transedental) dan duniawi (humanism) dalam kehidupan.” (Saudara dari
Muhammadiyah)
“Ramadhan
adalah bulan yang penuh rahmat dan berkah yang berfungsi sebagai
tazkiyyatunnafs.” (Saudara dari NU)
“Ramadhan
adalah bulan istimewa yang selalu saya nantikan. Bulan penuh ampunan, pintu
kebaikan dibuka lebar-lebar. Bulan ini merupakan bulan di mana kita dilatih
untuk bersabar.”(Saudara dari MTA)
“Ramadhan
adalah bulan takwa. Takwa esensinya adalah tunduk pada syariat Allah secara
kaffah. (Saudara dari HTI)
Mereka yang menyadari makna
kehadiran ramadhan tak ingin melewatkannya dengan sia-sia. Kaum muslimin
memaknai bulan Ramadhan dengan begitu mulia. Tak ada keraguan terhadap
keistimewaannya. Maka tentu tidak rela bagi kita kaum muslimin melewatkan ramadhan
sekedar seperti hari-hari yang telah berlalu.
Lalu ada apa dengan hati?
Hati
ini menanti ramadhan seperti kehadiran sosok yang dicinta dan dirindukan.
Sehingga kegelisahan hampir selalu menghampiri,”Bilamana usiaku tak sampai
di bulan ramadhan?” begitulah kemudian mendorong hati untuk senantiasa
berdoa agar sampai pada bulan Ramadhan. Konsekuensi dari penantian adalah
sebuah komitmen. Karena hati telah berani menanti ramadhan, maka ia harus
berani berkomitmen untuk mengadakan perubahan. Peningkatan pesat terhadap
rutinitas ibadah mahdah harus diikuti dengan peningkatan kualitas hati.
Hati
yang jauh dari prasangka
Hati
yang jauh dari membenci
Hati
yang jauh dari hasad, iri, dengki
Hati
yang jauh dari underestimate
Hati
yang jauh dari dendam
Hati
yang jauh dari kekufuran
Hati
yang jauh dari kekikiran
Kini
kita telah berada padanya (Ramadhan). Apa yang hendak kita lakukan? Akankah
berlalu tanpa perubahan? Tidakkah menyesal jika kita meninggalkan ramadhan
dengan kerugian walau sedikit? Do’a menjadi sumber kekuatan, atas kesadaran
betapa kecilnya kita di dunia, tak ada daya tanpa kekuatanNya. Tak ada manusia
bertakwa tanpa Rabbnya.
Maka
berdo’a agar diberi “Istiqomah” bermula dari Ramadhan.
1
Ramadhan 1438H/ 27 Mei 2017
Princess
el-Fa

Tidak ada komentar:
Posting Komentar