Total Tayangan Halaman

Rabu, 31 Mei 2017

Catatan Ramadhan 1438 H



(‘Nikmat’ menjadi Keberkahan atau Kecelakaan)
Hasil gambar untuk hujan 



#Refleksi 4
            Yaa Rabb, semoga segala nikmat yang engkau berikan menjadi keberkahan yang mampu kami manfaatkan sebaik-baiknya..
Ramadhan tahun ini merupakan ramadhan penuh dengan kemudahan di tengah kondisi umat yang mulai simpang siur. Sadarkah kita, tepat sejak ramadhan pertama tiba-tiba Allah mengguyur bumi dengan hujan setelah beberapa bulan cuaca begitu panas. Orang-orang beriman memaknai ini sebagai kemudahan yang diberikan oleh Allah pada manusia dalam melaksanakan bulan ramadhan. Dalam cuaca yang terik tentu lebih sulit bagi kita menahan dahaga, namun sesungguhnya di dalamnya terdapat keutamaan yang berlipat bagi orang-orang yang sabar. Namun Allah justru memberikan kemudahan pada umat untuk melaksanakan ramadhan di tengah cuaca yang bersahabat, sejuk. segar dan membelai.
Bagaimana kita memaknai pemberian Allah ini? Cuaca yang nyaman ini, sadar tidak sadar membawa efek yang juga sangat nayaman bagi kita, termasuk menimbulkan rasa kantuk yang luar biasa karena udara yang nyaman digunakan untuk beristirahat dan memejamkan mata. Namun bagaimana kita menyikapinya? Apakah kemudahan yang Allah berikan ini akan menambah ketakwaan kita, ataukah justru menjauhkan kita dari ketakwaan dikarenakan kita semakin banyak membiarkan waktu kita terbuang sia-sia?
Namun dari sisi lain, orang-orang beriman takut bahwa ini merupakan istidraj yang Allah berikan dalam kondisi kecarut-marutan umat saat ini. Ntah harus dikatakan seperti apa, mungkin tak habis kata digunakan untuk menjelaskan kondisi bangsa Indonesia saat ini, yang jelas hanya atmosfer keprihatinan yang menyelimutinya. Istidraj adalah kemudahan atau kesenangan yang Allah berikan kepada orang-orang yang jauh atau semakin jauh dari Nya. Sederhananya adalah kita mendapati orang-orang makin buruk kualitas ibadahnya, semakin jauh dari keikhlasan, berkurang kuantitasnya, sementara maksiat semakin banyak, baik maksiat kepada Allah maupun kepada manusia lain. Lalu Allah justru memberikan rezeki yang melimpah ruah, kesenangan hidup yang mudah didapatkan, tidak pernah sakit, mengalami kesulitan dan Allah memberikan segala kelebihan duniawi padanya. Maka kita harus berhati-hati ketika menemui fenomena seperti ini, sebelum melihat kondisi global yang ada di luar sana, atau melihat orang lain yang mungkin kita pandang buruk, lebih utama kita melihat diri kita sendiri karena di yaumul akhir nanti kita akan kepayahan menyelamatkan diri kita sendiri.
Para sahabat masa Rasulullah sangat ketakutan dengan rasa takut yang luar biasa dengan istidraj. Ketika menemuinya, mereka segera berlomba-lomba untuk bertaubat dan memperbaiki diri mereka masing-masing. Mereka takut menjadi bagian dari golongan yang menyebabkan terjadinya istidraj karena Allah memang memberikan istidraj kepada orang-orang kafir dan ahli maksiat, seperti KalamNya dalam surah Ali ‘Imran: 178:
“Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka, bahwa pemberian tangguh kami kepada mereka[253] adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka azab yang menghinakan.”
[253] Yakni: dengan memperpanjang umur mereka dan membiarkan mereka berbuat dosa sesuka hatinya.

Hal ini juga dikabarkan oleh hadits Nabi dari ‘Uqbah bin ‘Amir Radhiallahu ‘Anhu bahwa Nabi bersabda:
Apabila engkau melihat Allah memberikan kepada seorang hamba berupa nikmat dunia yang disukainya padahal dia suka bermaksiat, maka itu hanyalah istidraj belaka. Lalu Rasulullah membaca: Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah Kami berikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong. Maka ketika itu, mereka terdiam berputus asa. (Al An’am: 44). (HR. Ahmad No. 17311. Syaikh syu’aib Al Arnauth mentatakan: hasan. Lihat Ta’liq Musnad Ahmad No.17311)
Begitulah Allah menguji manusia dengan kenikmatan. Lalu bagaimana kita menyikapi kemudahan yang telah Allah berikan dalam ramadhan ini? Semoga kita menjadi bagian dari orang-orang bertakwa yang akan senantiasa memperoleh petunjukNya.
Selasa sore saat pelangi itu terlukis dalam perjalananku di langit selatan. Allahu a’lam bish Showab

4 Ramadhan 1438H/ 30 Mei 2017
Princess el-Fa


Catatan Ramadhan 1438 H

Qonaah dalam Berbuka Puasa
#Refleksi 3
Ini nuansa sore ramadhan ketiga, ketika saya menuju saat berbuka bukan lagi berkumpul bersama keluarga melainkan berada dalam keramaian jalan raya. Beraneka macam menu tersedia di kanan kiri jalan, seolah memudahkan sekali jika kita ingin menikmati buka puasa di jalan. Bahkan ada satu stand yang saya lihat berlabel, “TAKJIL GRATIS” yang dilayani oleh para pemuda berseragam merah hitam, ntah dari mana mereka. Subhanallah, ini kemudahan diberikan pada para musafir khususnya. Menjelang buka puasa, sempat terlintas di benak saya untuk membeli menu takjil, bagaimana tidak? Menu beraneka macam, nampak segar dengan bentuk kemasan cup, berwarna-warni dan tentu yang ada di benak saya adalah, “segar ini”.
Sepersekian menit kemudian tangan yang hampir menghentikan sepeda motor ini memberikan reflek yang kontra, saya tetap mengemudikan motor saya sambir terus berpikir. Apakah selepas buka, Allah memberikan keutamaanNya jika kemudian saya melampiaskan dengan berbuka sepuas-puasnya sebanyak-banyaknya dan seenak-enaknya? Ahh.. astaghfirullah. Bahkan terhadap perkara mubah pun kita dianjurkan untuk bersabar. Secara fungsional, puasa melatih kita untuk mensyukuri kehidupan yang kita miliki dikarenakan masih banyak orang yang bernasib tak seberuntung kita. Banyak orang miskin kelaparan, orang jalanan beberapa hari tak makan. Lalu jika kita memuaskan diri dengan waktu berbuka, apakah kemudian kita lupa akan rasa empati terhadap ‘mereka’?
Qonaah dalam berbuka adalah satu keutamaan dalam berbuka puasa. Qonaah berarti mensyukuri apa yang masih dapat kita peroleh untuk berbuka puasa. Kemudian saya kembali pada perjalanan dan tidak ingin pula mengecewakan ibunda tercinta yang pasti sudah menyiapkan menu istimewa walau sederhana untuk anak-anaknya yang telah usai melaksanakan ibadah puasa hari ini.
Kita dianjurkan untuk makan sebelum lapar dan berhenti sebelum kenyang, serta tidak berlebih-lebihan dalam suatu hal, termasuk dalam hal yang mubah. Maka sudah menjadi keutamaan jika kita mampu menahan diri untuk tidak berlebih-lebihan dalam berbuka puasa. Lebih utama jika kita mampu memberikan buka kepada orang-orang yang kekurangan untuk sekedar menikmati buka puasa yang tak mampu diperolehnya. Dalam ilmu kesehatan, berlebihhan dalam berbuka puasa juga mengakibatka berbagai masalah kesehatan seperti dyspepsia, terutama bagi mereka yang sudah memiliki riwayat penyakit lambung sebelumnya. Selain itu, berlebihan dalam berbuka puasa juga memicu rasa kantuk dan malas, hal ini sudah sangat terbukti. Hal itu yang kemudian menjadi penghalang bagi kita untuk beribadah. Maka hendaknya saat berbuka diawali dengan berbuka makanan manis yang ringan, baru makan besar setelah sholat maghrib atau isya’, namun tetap dalam porsi yang tidak berlebihan.
Kita biasa mendapati orang berbuka puasa dengan porsi yang begitu banyak karena nafsunya makan ini dan itu, ingin merasakan semua makanan ini dan itu sebab telah berbuka sehingga sedikit-sedikit makanan yang masuk dalam tubuhnya menjadi berlebih. Hakikat segala aktivitas kita adalah untuk Allah. Termasuk makan. Manusia makan untuk memperoleh energy agar mampu beribadah dan beramal dengan maksimal, atas nama Allah. Maka jika kita makan hanya untuk menuruti nafsu kelaparan atau keinginan kita, hakikatnya kita sudah salah jalan. Nemun begitu lah yang seringkali terjadi pada diri kita, lupa akan hakikat aktivitas kita.
Bulan ramadhan seharusnya menjadi bulan menahan diri, namun survey membuktikan bahwa konsumsi justru meningkat pesat dalam bulan ramadhan. Semoga kita mampu memaknai esensi menahan diri dalam bulan ramadhan, termasuk menahan diri dalam berbuka dan sahur. Qonaah dalam berbuka puasa lebih mendekatkan kita pada ridho dan keberkahan Allah swt. Allahu a’lam..



3 Ramadhan 1438H/ 29 Mei 2017
Princess el-Fa