(‘Nikmat’
menjadi Keberkahan atau Kecelakaan)
#Refleksi
4
Yaa Rabb, semoga segala nikmat yang
engkau berikan menjadi keberkahan yang mampu kami manfaatkan sebaik-baiknya..
Ramadhan
tahun ini merupakan ramadhan penuh dengan kemudahan di tengah kondisi umat yang
mulai simpang siur. Sadarkah kita, tepat sejak ramadhan pertama tiba-tiba Allah
mengguyur bumi dengan hujan setelah beberapa bulan cuaca begitu panas. Orang-orang
beriman memaknai ini sebagai kemudahan yang diberikan oleh Allah pada manusia
dalam melaksanakan bulan ramadhan. Dalam cuaca yang terik tentu lebih sulit
bagi kita menahan dahaga, namun sesungguhnya di dalamnya terdapat keutamaan
yang berlipat bagi orang-orang yang sabar. Namun Allah justru memberikan
kemudahan pada umat untuk melaksanakan ramadhan di tengah cuaca yang
bersahabat, sejuk. segar dan membelai.
Bagaimana
kita memaknai pemberian Allah ini? Cuaca yang nyaman ini, sadar tidak sadar
membawa efek yang juga sangat nayaman bagi kita, termasuk menimbulkan rasa
kantuk yang luar biasa karena udara yang nyaman digunakan untuk beristirahat
dan memejamkan mata. Namun bagaimana kita menyikapinya? Apakah kemudahan yang
Allah berikan ini akan menambah ketakwaan kita, ataukah justru menjauhkan kita
dari ketakwaan dikarenakan kita semakin banyak membiarkan waktu kita terbuang
sia-sia?
Namun
dari sisi lain, orang-orang beriman takut bahwa ini merupakan istidraj yang
Allah berikan dalam kondisi kecarut-marutan umat saat ini. Ntah harus dikatakan
seperti apa, mungkin tak habis kata digunakan untuk menjelaskan kondisi bangsa
Indonesia saat ini, yang jelas hanya atmosfer keprihatinan yang menyelimutinya.
Istidraj adalah kemudahan atau kesenangan yang Allah berikan kepada orang-orang
yang jauh atau semakin jauh dari Nya. Sederhananya adalah kita mendapati
orang-orang makin buruk kualitas ibadahnya, semakin jauh dari keikhlasan,
berkurang kuantitasnya, sementara maksiat semakin banyak, baik maksiat kepada
Allah maupun kepada manusia lain. Lalu Allah justru memberikan rezeki yang
melimpah ruah, kesenangan hidup yang mudah didapatkan, tidak pernah sakit,
mengalami kesulitan dan Allah memberikan segala kelebihan duniawi padanya. Maka
kita harus berhati-hati ketika menemui fenomena seperti ini, sebelum melihat
kondisi global yang ada di luar sana, atau melihat orang lain yang mungkin kita
pandang buruk, lebih utama kita melihat diri kita sendiri karena di yaumul
akhir nanti kita akan kepayahan menyelamatkan diri kita sendiri.
Para
sahabat masa Rasulullah sangat ketakutan dengan rasa takut yang luar biasa
dengan istidraj. Ketika menemuinya, mereka segera berlomba-lomba untuk
bertaubat dan memperbaiki diri mereka masing-masing. Mereka takut menjadi
bagian dari golongan yang menyebabkan terjadinya istidraj karena Allah memang
memberikan istidraj kepada orang-orang kafir dan ahli maksiat, seperti KalamNya
dalam surah Ali ‘Imran: 178:
“Dan janganlah sekali-kali orang-orang
kafir menyangka, bahwa pemberian tangguh kami kepada mereka[253] adalah lebih
baik bagi mereka. Sesungguhnya kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah
supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka azab yang menghinakan.”
[253] Yakni:
dengan memperpanjang umur mereka dan membiarkan mereka berbuat dosa sesuka
hatinya.
Hal ini juga dikabarkan oleh hadits Nabi dari ‘Uqbah bin ‘Amir
Radhiallahu ‘Anhu bahwa Nabi bersabda:
Apabila engkau melihat Allah memberikan kepada seorang hamba berupa
nikmat dunia yang disukainya padahal dia suka bermaksiat, maka itu hanyalah
istidraj belaka. Lalu Rasulullah membaca: Maka tatkala mereka melupakan
peringatan yang telah Kami berikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua
pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan
apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan
sekonyong-konyong. Maka ketika itu, mereka terdiam berputus asa. (Al An’am:
44). (HR. Ahmad No. 17311. Syaikh syu’aib
Al Arnauth mentatakan: hasan. Lihat Ta’liq Musnad Ahmad No.17311)
Begitulah Allah menguji manusia dengan kenikmatan. Lalu bagaimana
kita menyikapi kemudahan yang telah Allah berikan dalam ramadhan ini? Semoga kita
menjadi bagian dari orang-orang bertakwa yang akan senantiasa memperoleh
petunjukNya.
Selasa sore saat pelangi itu terlukis dalam perjalananku di langit
selatan. Allahu a’lam bish Showab
4
Ramadhan 1438H/ 30 Mei 2017
Princess
el-Fa
