Teruntuk ukhti-ukhti yang insyaAllah senantiasa kucintai
karena Allah, dunia wanita memang memiliki spesifikasi yang lebih istimewa dari
dunia pria. Maka merasa beruntung lah kita sebagai kaum hawa, Allah menjaga
kita melebihi penjagaan terhadap kaum adam.
“wanita merupakan perhiasan dunia,” begitu biasanya kita
temui kalimat syahdu yang menyejukkan kaum hawa. Namun perlu kita garis bawahi,
wanita yang seperti apa sih sholihah?
Seringkali kita dengar sebuah celetukan,”untuk apa berjilbab
kalau cuma luarnya aja tapi dalamnya tidak lebih baik dari yang tidak
berjilbab?”
Atau malah,” buat apa sih berjilbab besar? Toh orang-orang
berjilbab besar belum tentu ilmu dan wawasannya lebih luas, bahkan akhlaknya
belum tentu lebih baik dari orang-orang berjilbab kecil atau yang tidak
berjilbab.”
Ukhtifillah.. sesungguhnya seperti yang kita ketahui bersama
bahwasanya berhijab bukan lah pilihan, melainkan ia merupakan tuntunan syari’at
yang dihadiahkan oleh Allah kepada kita para muslimah, agar senantiasa terjaga
dari fitnah.
Mari kita mulai berpikir cerdas, menghijabi fisik kita
merupakan tuntunan syari’at yang sudah jelas diterangkan dalam kalamullah,
“Katakanlah kepada wanita yang
beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara
kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang
(biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke
dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka,
atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau
putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau
putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan
mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau
pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau
anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka
memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan
bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya
kamu beruntung.” (Q.S. An-Nuur:31)
Nah sholihah, sudah jelas bahwa Allah
sendiri telah memerintahkan kepada kita untuk menghijabi fisik kita, untuk
menjaga kesucian kita dari laki-laki yang bukan mahram. Maka dari itu kita
harus pandai dalam memprioritaskan antara hijab dalam dan hijab luar. Berhijab
luar secara fisik haruslah kita dahulukan karena ia mengandung perintah Allah yang
tersurat dengan jelas, sedangkan berhijab dalam atau memperbaiki akhlak
bukanlah sesuatu yang instan, melainkan sebuah proses yang akan berlangsung
secara kontinyu. Perlu kita ketahui sholihah, bahwa sesungguhnya berhijab
secara fisik merupakan salah satu proses menuju hijab akhlak. Dengan keadaan
kita yang sudah berhijab, maka kita pun akan merasakan kontrol diri yang lebih
karena menyadari posisi kita saat ini. Jika kita tidak pernah berani atau mau
untuk memulai, maka kapan kita akan melakukannya? Terlebih lagi, akhlak kita
tidak akan pernah mencapai kesempurnaan, jika kita merasa akhlak kita sudah
baik, maka saat itulah kita justru perlu berhati-hati karena bisa jadi kita
sedang terserang penyakit sombong. Sesungguhnya tidak ada manusia baik di dunia
ini, yang ada hanyalah manusia-manusia yang berusaha menjadi baik.
Sungguh sholihah, kami hanya ingin
berbagi kebahagiaan yang telah kami rasakan. Keindahan bersama hijab yang
senantiasa melindungi kami, hijab yang membuat kami nyaman untuk melakukan prestasi-prestasi
kami, dsb.
Kemudian pada kasus kedua, mengenai
mengapa kita harus berjilbab besar? Sesungguhnya bukan jilbab besar yang
ditekankan dalam syari’at ini, melainkan jilbab yang mampu menutupi perhiasan
kita, lekuk tubuh kita, dan segala gerak-gerik tubuh yang menarik perhatian dan
segala hal yang telah diterangkan dalam hadits. Dalam menganalisis pertanyaan
di atas, perlu kita pahami bersama bahwa hal itu bukan sebuah alasan. Segala
keadaan dan kemampuan manusia yang berbeda-beda merupakan sunatullah. Maka
bukan sebuah kesalahan jika orang-orang yang berhijab fisik dengan baik tidak
semuanya memiliki pengetahuan dan akhlak yang memuaskan, karena sekali lagi
segalanya memerlukan proses. Jika orang-orang yang belum menghijab fisik dengan
baik mengatakan hal seperti di atas, berarti dia pun telah melakukan sebuah
kesalahan karena mengatasnamakan sebuah kondisi untuk lari dari syari’at Allah.
Sesungguhnya bukan manusia yang berhak menilai tentang keimanan seseorang,
melainkan hanya Allah semata. Coba kita lihat kalamullah ini,
“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak
perempuanmu, dan istri-istri orang-orang mukmin : Hendaklah mereka mengulurkan
jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah
untuk dikenal dan oleh karenanya mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Qs.
Al-Ahzab: 59).
Seperti yang telah Allah perintahkan, sesungguhnya kita dianjurkan berhijab
agar kita mudah dibedakan dengan wanita-wanita lain serta untuk menjaga kita
dari godaan-godaan yang ada, ntah godaan syaithan maupun lawan jenis.
Dalam riwayat ‘Aisyah ra, bahwasanya Asma binti Abu
Bakar masuk menjumpai Rasulullah dengan pakaian yang tipis, lantas Rasulullah
berpaling darinya dan berkata : Hai Asma, sesungguhnya jika seorang wanita
sudah mencapai usia haidh (akil baligh) maka tak ada yang layak terlihat
kecuali ini, sambil beliau menunjuk wajah dan telapak tangan. (HR. Abu Daud dan
Baihaqi).
Hadits ini menunjukkan
dua hal:
- Kewajiban menutup seluruh tubuh wanita kecuali wajah dan telapak
tangan.
- Pakaian yang tipis tidak memenuhi syarat untuk menutup aurat.
Ukhti sholihah yang senantiasa
dimuliakan Allah, semoga mulai saat ini kita menyadari bersama-sama bahwasanya
fastabiqul khoirot merupakan berlomba-lomba dalam menggapai kebaikan sesuai
syari’at Allah, bukan mencari-cari perbandingan untuk melazimkan apa yang kita
lakukan. Jika kita ingin mendekatkan diri kepada Allah secara ikhlas, maka
upayakan lah apa yang menurut Allah itu baik. Cukup dengan fokus pada kebaikan,
tak perlu membanding-bandingkan dengan kelemahan orang lain karena sekali lagi
kita hidup bersaudara. Kita terlahir di dunia untuk berkasih mesra bersama
menuju ridho-Nya.
Semoga sedikit apa yang tertera di
atas dapat menjadi koreksi kita bersama, dapat menjadi sebuah kontrol kecil
kita dalam menggapai cinta-Nya..
Allahu a’lam bish showab.. ^^
Beloved
Fantika_MV
Tidak ada komentar:
Posting Komentar