Total Tayangan Halaman

Rabu, 05 Februari 2014

Mengapa Harus Berhijab??

Teruntuk ukhti-ukhti yang insyaAllah senantiasa kucintai karena Allah, dunia wanita memang memiliki spesifikasi yang lebih istimewa dari dunia pria. Maka merasa beruntung lah kita sebagai kaum hawa, Allah menjaga kita melebihi penjagaan terhadap kaum adam.
“wanita merupakan perhiasan dunia,” begitu biasanya kita temui kalimat syahdu yang menyejukkan kaum hawa. Namun perlu kita garis bawahi, wanita yang seperti apa sih sholihah?
Seringkali kita dengar sebuah celetukan,”untuk apa berjilbab kalau cuma luarnya aja tapi dalamnya tidak lebih baik dari yang tidak berjilbab?”
Atau malah,” buat apa sih berjilbab besar? Toh orang-orang berjilbab besar belum tentu ilmu dan wawasannya lebih luas, bahkan akhlaknya belum tentu lebih baik dari orang-orang berjilbab kecil atau yang tidak berjilbab.”
Ukhtifillah.. sesungguhnya seperti yang kita ketahui bersama bahwasanya berhijab bukan lah pilihan, melainkan ia merupakan tuntunan syari’at yang dihadiahkan oleh Allah kepada kita para muslimah, agar senantiasa terjaga dari fitnah.
Mari kita mulai berpikir cerdas, menghijabi fisik kita merupakan tuntunan syari’at yang sudah jelas diterangkan dalam kalamullah,
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (Q.S. An-Nuur:31)
Nah sholihah, sudah jelas bahwa Allah sendiri telah memerintahkan kepada kita untuk menghijabi fisik kita, untuk menjaga kesucian kita dari laki-laki yang bukan mahram. Maka dari itu kita harus pandai dalam memprioritaskan antara hijab dalam dan hijab luar. Berhijab luar secara fisik haruslah kita dahulukan karena ia mengandung perintah Allah yang tersurat dengan jelas, sedangkan berhijab dalam atau memperbaiki akhlak bukanlah sesuatu yang instan, melainkan sebuah proses yang akan berlangsung secara kontinyu. Perlu kita ketahui sholihah, bahwa sesungguhnya berhijab secara fisik merupakan salah satu proses menuju hijab akhlak. Dengan keadaan kita yang sudah berhijab, maka kita pun akan merasakan kontrol diri yang lebih karena menyadari posisi kita saat ini. Jika kita tidak pernah berani atau mau untuk memulai, maka kapan kita akan melakukannya? Terlebih lagi, akhlak kita tidak akan pernah mencapai kesempurnaan, jika kita merasa akhlak kita sudah baik, maka saat itulah kita justru perlu berhati-hati karena bisa jadi kita sedang terserang penyakit sombong. Sesungguhnya tidak ada manusia baik di dunia ini, yang ada hanyalah manusia-manusia yang berusaha menjadi baik.
Sungguh sholihah, kami hanya ingin berbagi kebahagiaan yang telah kami rasakan. Keindahan bersama hijab yang senantiasa melindungi kami, hijab yang membuat kami nyaman untuk melakukan prestasi-prestasi kami, dsb.
Kemudian pada kasus kedua, mengenai mengapa kita harus berjilbab besar? Sesungguhnya bukan jilbab besar yang ditekankan dalam syari’at ini, melainkan jilbab yang mampu menutupi perhiasan kita, lekuk tubuh kita, dan segala gerak-gerik tubuh yang menarik perhatian dan segala hal yang telah diterangkan dalam hadits. Dalam menganalisis pertanyaan di atas, perlu kita pahami bersama bahwa hal itu bukan sebuah alasan. Segala keadaan dan kemampuan manusia yang berbeda-beda merupakan sunatullah. Maka bukan sebuah kesalahan jika orang-orang yang berhijab fisik dengan baik tidak semuanya memiliki pengetahuan dan akhlak yang memuaskan, karena sekali lagi segalanya memerlukan proses. Jika orang-orang yang belum menghijab fisik dengan baik mengatakan hal seperti di atas, berarti dia pun telah melakukan sebuah kesalahan karena mengatasnamakan sebuah kondisi untuk lari dari syari’at Allah. Sesungguhnya bukan manusia yang berhak menilai tentang keimanan seseorang, melainkan hanya Allah semata. Coba kita lihat kalamullah ini,
“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang-orang mukmin : Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal dan oleh karenanya mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Qs. Al-Ahzab: 59).
Seperti yang telah Allah perintahkan, sesungguhnya kita dianjurkan berhijab agar kita mudah dibedakan dengan wanita-wanita lain serta untuk menjaga kita dari godaan-godaan yang ada, ntah godaan syaithan maupun lawan jenis.
Dalam riwayat ‘Aisyah ra, bahwasanya Asma binti Abu Bakar masuk menjumpai Rasulullah dengan pakaian yang tipis, lantas Rasulullah berpaling darinya dan berkata : Hai Asma, sesungguhnya jika seorang wanita sudah mencapai usia haidh (akil baligh) maka tak ada yang layak terlihat kecuali ini, sambil beliau menunjuk wajah dan telapak tangan. (HR. Abu Daud dan Baihaqi).
Hadits ini menunjukkan dua hal:
  1. Kewajiban menutup seluruh tubuh wanita kecuali wajah dan telapak tangan.
  2. Pakaian yang tipis tidak memenuhi syarat untuk menutup aurat.
Ukhti sholihah yang senantiasa dimuliakan Allah, semoga mulai saat ini kita menyadari bersama-sama bahwasanya fastabiqul khoirot merupakan berlomba-lomba dalam menggapai kebaikan sesuai syari’at Allah, bukan mencari-cari perbandingan untuk melazimkan apa yang kita lakukan. Jika kita ingin mendekatkan diri kepada Allah secara ikhlas, maka upayakan lah apa yang menurut Allah itu baik. Cukup dengan fokus pada kebaikan, tak perlu membanding-bandingkan dengan kelemahan orang lain karena sekali lagi kita hidup bersaudara. Kita terlahir di dunia untuk berkasih mesra bersama menuju ridho-Nya.
Semoga sedikit apa yang tertera di atas dapat menjadi koreksi kita bersama, dapat menjadi sebuah kontrol kecil kita dalam menggapai cinta-Nya..
Allahu a’lam bish showab.. ^^
Beloved

Fantika_MV

Tidak ada komentar:

Posting Komentar