Total Tayangan Halaman

Rabu, 07 November 2012

Meraih Kedamaian Hati


Meraih Ketenangan Hati
Makna kehidupan di dunia ini tak dimiliki semua orang, bahkan sebagian kecil saja yang memilikinya. Untuk apa manusia hidup, serta apa yang diharapkan manusia dalam hidupnya pun terkadang kita tak paham. Banyak orang yang tak tentram hidupnya, karena banyak faktor yang di antaranya :
·         Jauh dari Allah sehingga menyebabkan ruhiyahnya kering
·         Mengejar popularitas sehingga tidak pernah puas
·         Mencari-cari kesalahan orang lain
·         Memperbesar perbedaan karena merasa keyakinan kita lah yang benar
·         Negative thinking

Jauh dari Allah
Jika dihitung-hitung sudah berapa abad jarak masa kita dengan masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yang menampakkan perbedaan yang sangat signifikan. Sungguh berbeda tingkat keimanan dan ketakwaan muslim zaman Rasul dengan zaman ini. Pada masa Rasul, setiap muslim benar-benar mampu merespon muraqabatullah dan ihsanullah, mereka selalu mencari-cari kebenaran dari Allah dan Rasul, berlomba-lomba dalam kebaikan dan khusuk dalam beribadah. Namun fenomena yang dapat kita amati dari masa kita saat ini bukan sekedar tidak mampu merespon muraqabatullah dan ihsanullah, manusia bahkan melalaikan hakikat kehidupan mereka sebagai Hamba Allah. Na’udzubillah.
Kini bahkan syari’at sudah seperti bahan olok-olok belaka, mereka tidak meyakini sepenuh hati namun mencari-cari kemudahan dunia saja. Sebagian orang berkata, islam ya islam saja lah, shalat, puasa, zakat, cukup. Sebagian orang berkata, hal yang penting dalam islam adalah bijak menghadapi hidup, tapi tanpa sadar mereka melalaikan akidah. Sebagian orang lagi bahkan tak acuh terhadap agama, mereka sibuk berlomba-lomba mengagung-agungkan dunia mereka. Sebagian orang ini bahkan tak merasakan kegelisahan sedikit pun dalam bermaksiat. Ruh mereka kering, dan ini sudah menjadi patokan mutlak bahwa hati mereka tidak akan sehat. Sebagian lagi sibuk dengan aktivitas mereka, meskipun bernilai ibadah namun kadang mereka hampir terlenakan hingga kurang maksimal dalam pengamalan ibadah-ibadah mahdhah.
Mengejar Popularitas
Pemuda adalah bagian penting dari kekuatan sebuah pasukan. Namun bagaimana kemudian jika para pemuda justru sibuk berlomba-lomba mengejar popularitas? Kembali sebuah fenomena dari kehidupan para pemuda, yakni menampakkan diri untuk memperoleh nama besar. Semakin dikenal, semakin melambung pamor, semakin banyak yang memuji, semakin bangga lubuk hati. Namun meresahkannya, hal ini tidak akan pernah membuat diri mereka puas. Mereka selalu mencoba berbagai macam hal untuk semakin meningkatkan pamor.
Tipe-tipe seperti ini biasanya akan sangat mudah sekali meremehkan orang karena menganggap dirinya orang hebat, padahal Rasulullah telah bersabda,
“ janganlah kalian saling dengki, tipu menipu, saling memurkai, dan saling membelakangi, jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara muslim yang lainnya, ia tidak mendzaliminya, tidak mendustakannya, dan tidak meremehkannya. Cukuplah seorang muslim dikatakan berdosa jika dia menghina saudaranya yang muslim” (HR. Muslim)
Hati akan tenang ketika kita mampu bersikap qonaah, menerima dengan ikhlas segala yang Allah berikan pada kita. Dengan memberi, hati mampu menemukan sebagian ketenangan yang hakiki.
Mencari-cari Kesalahan Orang Lain
“sesungguhnya, syaithan telah putus asa dari menjadikan dirinya sebagai sesembahan bagi orang-orang yang shalatnya di jazirah Arab, tetapi ia tidk pernah putus asa dalam menimbulkan permusuhan sema mereka”, (HR. Muslim)
Dari hadits di atas maka tak heran jika masih banyak orang yang mencari-cari kesalahan orang lain. Rasa iri, dengki, dan ingin tampak lebih baik membuat mereka rela mencari-cari kejelekan saudara mereka sendiri. Manusia memang memiliki naluri untuk senantiasa nampak baik, dan malu ketika keburukannya diketahui oleh orang lain, sehingga terkadang untuk menutupi kekurangan diri mereka justru mengkambing hitamkan orang lain.
Sesungguhnya mengakui kelemahan diri itu akan lebih menghangatkan suasana persaudaraan, tidak menimbulkan rasa gundah dan merasa rendah. Dalam islam, persaudaraan sangat dijunjung tinggi sehingga islam sangat membenci perpecah belahan, seperti dalam kalamullah kepada Nabi,
“ sesungguhnya, orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya, urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat”, (Al-An’am:159)
Allah tidak menghendaki perpecah belahan sehingga Allah tidak menurunkan ketentraman pada hati orang-orang yang menjelek-jelekkan saudara mereka sendiri, sehingga menimbulkan kebencian dan perpecahan di antaranya.
Memperbesar Perbedaan
Seiring berkembangnya islam, semakin berkembang juga golongan-golongan di antara umat islam. Meskipun memiliki tujuan yang sama, namun mereka memiliki metode ishlah yang berbeda-beda sehingga hal ini seringkali mengakibatkan perselisihan dan perdebatan. Namun ironis sekali kebanyakan dari golongan ini kurang menyadari arti penting dari ukhuwah islamiyah, atau paling tidak mereka kurang mampu menerapkan ilmu tentang persaudaraan yang sudah mereka ketahui. Biasanya hal-hal yang melenakan adalah ilmu baru yang diperoleh seseorang dari satu sudut pandang, hal ini biasanya sangat efektif untuk membuat seseorang merasa percaya diri untuk mendebat hingga timbul perselisihan. Terkadang beberapa dari orang-orang seperti ini akan merasakan kepuasan ketika mereka bisa beradu argumen dengan orang lain.
Di sisi lain, ada pula orang yang menolak adanya purifikasi sehingga yang maksud misinya adalah untuk memahamkan persatuan justru malah berbalik menjadi pernyataan menentang terhadap golongan-golongan yang ada. Mereka biasanya juga merasakan keresahan, hati tidak tenang karena ambisinya untuk menentang perpecahan dengan emosional. Hal ini pun bukan sebuah hal yang bisa dibenarkan. Perpecahan yang diakibatkan oleh gerakan purifikasi bukan berasal dari purifikasi itu sendiri, namun hal ini berasal dari sikap keras beberapa pelakunya. Maka dari itu yang perlu disadari bersama adalah Islam memiliki musuh utama yang sangat berambisi menghancurkan islam, dan harapannya umat islam mampu menyamakan musuh, bukan justru saling menyerang satu sama lain yang secara tidak disadari mereka telah terperangkap oleh jerat musuh islam yang berupaya memecah belah umat islam.
Negative Thinking
Salah satu faktor yang menghambat ketenangan hati seseorang adalah berprasangka buruk dan berfikir negatif dalam setiap hal. Orang yang berprasangka buruk tidak akan tenang karena apa yang ia pikirkan sepenuhnya merupakan rasa tidak suka, tidak percaya, kegelisahan, keresahan, dan sebagainya, sehingga yang ada di dalam hatinya justru bermacam-macam penyakit yang diakibatkan dari satu sebab dari dirinya sendiri. Selain itu, berprasangka buruk membuat seseorang tidak bisa berkomunikasi dengan baik, dan yang sudah sangat pasti akan menyebabkan perpecah belahan pula. Berfikir buruk juga merupakan aktivitas hati yang merugikan orang lain karena kita telah mengatakan sebuah keburukan tentang orang lain, sekalipun kita hanya mengatakan itu pada diri kita sendiri, setidaknya kita telah merusak citra orang di mata kita sendiri. Rasulullah bersabda,
“ jauhkanlah diri kalian dari prasangka karena prasangka itu merupakan ucapan yang paling dusta. Janganlah saling mencurigai, saling menghasut, saling iri hati, saling membenci, dan saling membuat makar. Akan tetapi jadilah hamba-hamba Allah yang saling bersaudara,” (HR. Mutafaqun ‘alaih)
Dengan demikian ketika kita berprasangka buruk terhadap seseorang, tidak ada bedanya dengan kita mengada-adakan sebuah kebohongan terhadap orang lain.
Mencoba untuk senantiasa ber-positive thinking merupakan hal yang mampu memberika aura ketenangan tersendiri terhadap hati kita. Dari hal itu kita mampu merasakan betapa kita sedang berkasih sayang, berukhuwah dengan saudara kita, walau sebatas berprasangka baik. Positive thinking itu mampu memberikan secercah senyum kepuasan dan ketenangan batin bagi kita. Maka dari itu husnudzon menjadi hal yang sangat penting dari umat islam.

Penyakit hati yang membuat hati kita kerdil memang beraneka ragam adanya. Namun setidaknya kita bisa berupaya untuk bertahap menyadarkan diri kita bahwa ketenangan batin itu bersumber mutlak dari segala yang diturunkan oleh Allah. Segala petunjuk yang diturunkan oleh Allah untuk manusia merupakan solusi paling menyeluruh bagi setiap permasalahan dunia, termasuk ketenangan hati. Maka dari itu, Bismillah.. ^^
        
Fantika_MV

Tidak ada komentar:

Posting Komentar