Meraih Ketenangan Hati
Makna kehidupan di dunia ini tak
dimiliki semua orang, bahkan sebagian kecil saja yang memilikinya. Untuk apa
manusia hidup, serta apa yang diharapkan manusia dalam hidupnya pun terkadang
kita tak paham. Banyak orang yang tak tentram hidupnya, karena banyak faktor
yang di antaranya :
·
Jauh dari Allah sehingga menyebabkan ruhiyahnya
kering
·
Mengejar popularitas sehingga tidak pernah puas
·
Mencari-cari kesalahan orang lain
·
Memperbesar perbedaan karena merasa keyakinan
kita lah yang benar
·
Negative thinking
Jauh dari Allah
Jika dihitung-hitung sudah berapa
abad jarak masa kita dengan masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yang
menampakkan perbedaan yang sangat signifikan. Sungguh berbeda tingkat keimanan
dan ketakwaan muslim zaman Rasul dengan zaman ini. Pada masa Rasul, setiap
muslim benar-benar mampu merespon muraqabatullah dan ihsanullah, mereka selalu
mencari-cari kebenaran dari Allah dan Rasul, berlomba-lomba dalam kebaikan dan
khusuk dalam beribadah. Namun fenomena yang dapat kita amati dari masa kita
saat ini bukan sekedar tidak mampu merespon muraqabatullah dan ihsanullah,
manusia bahkan melalaikan hakikat kehidupan mereka sebagai Hamba Allah. Na’udzubillah.
Kini bahkan syari’at sudah seperti
bahan olok-olok belaka, mereka tidak meyakini sepenuh hati namun mencari-cari
kemudahan dunia saja. Sebagian orang berkata, islam ya islam saja lah, shalat,
puasa, zakat, cukup. Sebagian orang berkata, hal yang penting dalam islam
adalah bijak menghadapi hidup, tapi tanpa sadar mereka melalaikan akidah.
Sebagian orang lagi bahkan tak acuh terhadap agama, mereka sibuk berlomba-lomba
mengagung-agungkan dunia mereka. Sebagian orang ini bahkan tak merasakan
kegelisahan sedikit pun dalam bermaksiat. Ruh mereka kering, dan ini sudah
menjadi patokan mutlak bahwa hati mereka tidak akan sehat. Sebagian lagi sibuk
dengan aktivitas mereka, meskipun bernilai ibadah namun kadang mereka hampir
terlenakan hingga kurang maksimal dalam pengamalan ibadah-ibadah mahdhah.
Mengejar Popularitas
Pemuda adalah bagian penting dari
kekuatan sebuah pasukan. Namun bagaimana kemudian jika para pemuda justru sibuk
berlomba-lomba mengejar popularitas? Kembali sebuah fenomena dari kehidupan
para pemuda, yakni menampakkan diri untuk memperoleh nama besar. Semakin
dikenal, semakin melambung pamor, semakin banyak yang memuji, semakin bangga
lubuk hati. Namun meresahkannya, hal ini tidak akan pernah membuat diri mereka
puas. Mereka selalu mencoba berbagai macam hal untuk semakin meningkatkan
pamor.
Tipe-tipe seperti ini biasanya
akan sangat mudah sekali meremehkan orang karena menganggap dirinya orang
hebat, padahal Rasulullah telah bersabda,
“ janganlah kalian saling dengki, tipu menipu, saling memurkai, dan
saling membelakangi, jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang
muslim adalah saudara muslim yang lainnya, ia tidak mendzaliminya, tidak
mendustakannya, dan tidak meremehkannya. Cukuplah seorang muslim dikatakan
berdosa jika dia menghina saudaranya yang muslim” (HR. Muslim)
Hati akan tenang ketika kita
mampu bersikap qonaah, menerima dengan ikhlas segala yang Allah berikan pada
kita. Dengan memberi, hati mampu menemukan sebagian ketenangan yang hakiki.
Mencari-cari Kesalahan Orang Lain
“sesungguhnya, syaithan telah putus asa dari menjadikan dirinya sebagai
sesembahan bagi orang-orang yang shalatnya di jazirah Arab, tetapi ia tidk
pernah putus asa dalam menimbulkan permusuhan sema mereka”, (HR. Muslim)
Dari hadits di atas maka tak
heran jika masih banyak orang yang mencari-cari kesalahan orang lain. Rasa iri,
dengki, dan ingin tampak lebih baik membuat mereka rela mencari-cari kejelekan
saudara mereka sendiri. Manusia memang memiliki naluri untuk senantiasa nampak
baik, dan malu ketika keburukannya diketahui oleh orang lain, sehingga
terkadang untuk menutupi kekurangan diri mereka justru mengkambing hitamkan
orang lain.
Sesungguhnya mengakui kelemahan diri itu akan lebih menghangatkan
suasana persaudaraan, tidak menimbulkan rasa gundah dan merasa rendah. Dalam
islam, persaudaraan sangat dijunjung tinggi sehingga islam sangat membenci
perpecah belahan, seperti dalam kalamullah
kepada Nabi,
“ sesungguhnya, orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka
menjadi bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu terhadap mereka.
Sesungguhnya, urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Allah, kemudian Allah
akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat”,
(Al-An’am:159)
Allah tidak menghendaki perpecah
belahan sehingga Allah tidak menurunkan ketentraman pada hati orang-orang yang
menjelek-jelekkan saudara mereka sendiri, sehingga menimbulkan kebencian dan
perpecahan di antaranya.
Memperbesar Perbedaan
Seiring berkembangnya islam,
semakin berkembang juga golongan-golongan di antara umat islam. Meskipun
memiliki tujuan yang sama, namun mereka memiliki metode ishlah yang berbeda-beda sehingga hal ini seringkali mengakibatkan
perselisihan dan perdebatan. Namun ironis sekali kebanyakan dari golongan ini
kurang menyadari arti penting dari ukhuwah
islamiyah, atau paling tidak mereka kurang mampu menerapkan ilmu tentang
persaudaraan yang sudah mereka ketahui. Biasanya hal-hal yang melenakan adalah
ilmu baru yang diperoleh seseorang dari satu sudut pandang, hal ini biasanya
sangat efektif untuk membuat seseorang merasa percaya diri untuk mendebat
hingga timbul perselisihan. Terkadang beberapa dari orang-orang seperti ini
akan merasakan kepuasan ketika mereka bisa beradu argumen dengan orang lain.
Di sisi lain, ada pula orang yang
menolak adanya purifikasi sehingga
yang maksud misinya adalah untuk memahamkan persatuan justru malah berbalik
menjadi pernyataan menentang terhadap golongan-golongan yang ada. Mereka biasanya
juga merasakan keresahan, hati tidak tenang karena ambisinya untuk menentang
perpecahan dengan emosional. Hal ini pun bukan sebuah hal yang bisa dibenarkan.
Perpecahan yang diakibatkan oleh gerakan purifikasi
bukan berasal dari purifikasi itu sendiri, namun hal ini berasal dari sikap
keras beberapa pelakunya. Maka dari itu yang perlu disadari bersama adalah
Islam memiliki musuh utama yang sangat berambisi menghancurkan islam, dan
harapannya umat islam mampu menyamakan musuh, bukan justru saling menyerang
satu sama lain yang secara tidak disadari mereka telah terperangkap oleh jerat
musuh islam yang berupaya memecah belah umat islam.
Negative Thinking
Salah satu faktor yang menghambat
ketenangan hati seseorang adalah berprasangka buruk dan berfikir negatif dalam
setiap hal. Orang yang berprasangka buruk tidak akan tenang karena apa yang ia
pikirkan sepenuhnya merupakan rasa tidak suka, tidak percaya, kegelisahan,
keresahan, dan sebagainya, sehingga yang ada di dalam hatinya justru
bermacam-macam penyakit yang diakibatkan dari satu sebab dari dirinya sendiri.
Selain itu, berprasangka buruk membuat seseorang tidak bisa berkomunikasi
dengan baik, dan yang sudah sangat pasti akan menyebabkan perpecah belahan
pula. Berfikir buruk juga merupakan aktivitas hati yang merugikan orang lain
karena kita telah mengatakan sebuah keburukan tentang orang lain, sekalipun
kita hanya mengatakan itu pada diri kita sendiri, setidaknya kita telah merusak
citra orang di mata kita sendiri. Rasulullah bersabda,
“ jauhkanlah diri kalian dari prasangka karena prasangka itu merupakan
ucapan yang paling dusta. Janganlah saling mencurigai, saling menghasut, saling
iri hati, saling membenci, dan saling membuat makar. Akan tetapi jadilah
hamba-hamba Allah yang saling bersaudara,” (HR. Mutafaqun ‘alaih)
Dengan demikian ketika kita
berprasangka buruk terhadap seseorang, tidak ada bedanya dengan kita
mengada-adakan sebuah kebohongan terhadap orang lain.
Mencoba untuk senantiasa
ber-positive thinking merupakan hal yang mampu memberika aura ketenangan
tersendiri terhadap hati kita. Dari hal itu kita mampu merasakan betapa kita
sedang berkasih sayang, berukhuwah dengan saudara kita, walau sebatas
berprasangka baik. Positive thinking itu mampu memberikan secercah senyum
kepuasan dan ketenangan batin bagi kita. Maka dari itu husnudzon menjadi hal
yang sangat penting dari umat islam.
Penyakit hati yang membuat hati
kita kerdil memang beraneka ragam adanya. Namun setidaknya kita bisa berupaya
untuk bertahap menyadarkan diri kita bahwa ketenangan batin itu bersumber
mutlak dari segala yang diturunkan oleh Allah. Segala petunjuk yang diturunkan
oleh Allah untuk manusia merupakan solusi paling menyeluruh bagi setiap
permasalahan dunia, termasuk ketenangan hati. Maka dari itu, Bismillah.. ^^
Fantika_MV
Tidak ada komentar:
Posting Komentar