Suara desahan nafasku terdengar
jelas di telingaku sendiri. Aku menengadah menyongsong mentari pagi yang
membelaiku dengan lembut, seolah ia begitu paham betapa kalutnya perasaanku di
pagi itu, di sebuah tepian dermaga, duduk seorang diri menanti kehadiran
seseorang yang telah lama kunanti. Semakin naik matahari, kulitku semakin
merasakan sengatannya. Perlahan terdengar langkah kaki gontai menuju ke arahku,
hingga akhirnya langkah itu terhenti di sampingku. Sosok laki-laki setengah
baya duduk di sebelahku sambil tersenyum tipis padaku,
“ paman tidak kerja?” tanyaku
Sambil menggeleng lembut paman
menjawab,” tidak Nak, paman ingin menemanimu hari ini. Kau ingin jalan-jalan?”
tanyanya dengan senyum tersungging.
“ terimakasih paman, tapi saya
tidak ingin pergi kemana-mana. Saya berharap hari ini saya benar-benar
menemukannya disini. Sudah 13 tahun saya menunggu, dan sampai sekarang beliau
belum juga kembali,” jawabku lembut
Tangan paman merogoh ke saku
bajunya, aku melihat sepucuk surat di tangannya,” ini surat darinya, bacalah.”
Dengan gemetaran tanganku meraih
surat kecil itu, aku tak tau apalagi yang akan terjadi setelah kubuka surat
itu. Setiap tahun aku menunggu sosok kehadiran seorang ibu yang tak kunjung menemuiku
seperti janjinya dulu untuk pulang tahun depan setelah kepergiannya, ternyata
tahun depan itu begitu jauh. Bertahun-tahun aku menjalani hidup dalam keadaan
jiwa yang tidak normal. Ayahku meninggal kecelakaan, dan selang 3 bulan Bunda
turut pergi meninggalkanku yang saat itu masih berusia 6 tahun. Ulang tahunku
yang selalu penuh dengan senyum kedua orang tuaku mendadak sirna bertahun-tahun
lamanya, yang ada tinggal kehampaan layaknya tahun ke-20 ku, tepat hari ini.
Aku hanya menerima sepucuk surat yang bahkan aku sendiri pun ketakutan untuk
membukanya.
Aku hanya melihat surat itu lalu
meletakkannya di sampingku. Pandanganku kembali tertuju ke depan, melihat
genangan air yang begitu panjang. Aku mendengar desahan berat paman hingga ia
berdiri lalu beranjak meninggalkanku seorang diri.
Paman.. aku bahkan tak tau siapa
beliau. Bunda menitipkanku pada beliau sesaat sebelum kepergiannya, walau aku
belum pernah mengenalnya sebelumnya. Bahkan tak sampai akalku untuk memecahkan
pertanyaan mengapa beliau rela mengasuhku hingga dewasa ini, mengorbankan
segalanya untukku, bahkan beliau sempat menyelematkanku dari insiden tragis
yang hampir merenggut nyawaku sementara itu membuatnya harus terluka parah
hingga harus diinapkan di rumah sakit selama setengah bulan.
Nafasku mendesah panjang, lagi-lagi
hari ini dia tak datang. Bunda.. entah di mana sekarang keberadaannya. Mungkin
saat ini dia sedang tersiksa karena merasakan sayatan hatiku hingga tahun ke-19
ku. Kadang aku berfikir, biar dia rasakan sakit yang tak terampunkan karena
telah meninggalkanku begitu saja, namun di sisi lain hati kecilku merindukannya
setengah mati. Ahh, di mana
sesungguhnya engkau saat ini?
Setelah 3 jam duduk di dermaga, aku
mulai beranjak. Langkahku layu, perlahan ku susuri sepanjang jalan yang dulu ku
lewati bersama bunda setiap ulang tahunku, beliau bahkan selalu memetikkan
setangkai bunga desember untukku. Ya.. tepat di ulang tahunku 12 Desember. Tapi
entah hari ini tak kulihat mekarnya, tak ada satupun bunga desember yang mekar
dengan cantiknya. Bunga-bunga itu satu-satunya yang menjadi pelepas rinduku
pada bunda. Diriku hanya tertunduk lesu.
Setelah melewati hari yang
lagi-lagi membuatku kecewa, hari ini kuputuskan untuk kembali ke dunia nyataku,
dunia kampus yang penuh dengan dinamika pula. Seandainya bunda masih ada di
sampingku, aku bisa menceritakan segala hal yang kualami tiap harinya. Meskipun
aku bisa menceritakannya pada paman, tapi teramat beda rasanya, bercerita pada
orang yang awalnya sama sekali tak ku kenali. Namun kebaikan hatinya selama ini
membuatku perlahan-lahan mencintainya. Kadang jika tidak sedang menuruti
keangkuhanku, aku menganggapnya seperti ayahku sendiri. Namun keadaannya sampai
hari ini pun sikapku terhadapnya masih saja dingin, terlebih karena setiap
kutanya tentang bunda, ia tak pernah memberiku informasi yang jelas untuk
membuat remaja 19 tahun yang sakit ini merasa terobati.
“Fa, mau ke perpus?” Maya,
sahabat yang selalu menemaniku sejak SMA tiba-tiba mengagetkanku yang sedang
duduk termenung di sebuah bangku taman.
Senyumku terkembang melihat
kedatangannya, sahabat yang hadirnya menyatu di hatiku. Dia adalah seorang
sahabat yang tak pernah mengeluhkan segala kelakuanku yang sering membuat ulah,
dia hanya selalu tersenyum dan membuatku terdiam menyadari ulahku.
“May, duduklah di sampingku. Aku
ingin membuka surat dari bundaku bersamamu,” kataku sambil menyambut tangannya.
Dia tersenyum, seperti biasa senyumnya
begitu manis dan menenangkanku. Dia duduk dengan lembut di sampingku, menatap
mataku dan sekali lagi tersenyum tipis. Perlahan-lahan kubuka surat dari bunda,
untuk membacanya saja kutarik nafasku dalam-dalam, dan...
11
Desember 1999
Ananda
tercinta,
Saat
kau baca surat ini, kau pasti sudah memasuki usia 19 tahun. Kau sudah beranjak
dewasa sayang, kau pasti tumbuh sebagai gadis shalihah yang cantik dan tegar.
Maafkan bunda telah meninggalkanmu selama ini, bunda tak tau apakah suatu saat
kita bisa berkumpul kembali atau tidak. Tapi satu hal yang perlu Syifa pahami
benar-benar, bunda sangat menyayangimu sayang. Bunda sangat mencintai Syifa.
Bunda ingin Syifa tumbuh menjadi muslimah yang bijaksana dan kuat dan suatu
saat Syifa akan paham tentang arti sebuah perjuangan dan pengorbanan. Syifa
akan menjadi seseorang yang mampu memahami hikmah dengan dalam.
Sayang...
Hidup ini penuh dengan keindahan. Dan perpisahan kita ini adalah salah satu
dari keindahan yang ada di dunia. Mungkin bagi Syifa ini suatu hal yang berat,
tapi percayalah sayang, suatu ketika Syifa akan memperoleh keindahan yang tak
terduga. Syifa sayang, jika ibu tak salah memperkirakan, mungkin saat ini kau
sudah menginjakkan kaki di dunia baru, dunia kampus. Ibu ingin menceritakan
satu hal yang sangat penting bagimu, tapi ini baru tahun pertamamu di kampus,
emosimu mungkin masih labil. Ibu akan menunggu sampai kau berusia 20 tahun dan
kau akan mendapatkan apa yang seharusnya kau ketahui.

Sayang...
Maafkan bunda nak, maaf. Bunda berharap kita masih bisa bertemu. Jika tahun
depan bunda telah kembali, maka apa yang ingin bunda sampaikan padamu akan
bunda sampaikan padamu secara langsung. Namun jika bunda tidak kembali, maka
surat selanjutnya akan cukup mewakili. Bunda akan sangat merindukanmu sayang,
semoga Syifa bahagia.
Bunda
Setiap surat yang bunda kirimkan
selalu dengan tanggal pembuatan yang sama, sehari sebelum ulang tahunku yang
ke-6. Seolah-olah seharian itu bunda hanya menghabiskan waktunya untuk menulis
semua surat yang akan dikirimkan untuk setiap ulang tahunku. Aku tak mengerti
kenapa bunda melakukan hal ini, dan... apa yang sesungguhnya terjadi? Tentang
suatu hal yang perlu kuketahui, apa itu?
Surat itu kututup, tak terasa aku
menitikan air mata. Tapi tiba-tiba tangan sentuhan tangan lembut mengusap pipi
basahku. Maya adalah sahabat terbaik yang pernah kumiliki. Sejak kami saling
mengenal ia tak pernah jera bersamaku meskipun keadaannya kami nampak berbeda.
Dia adalah seorang wanita shalihah, pakaiannya rapi, santun. Tapi ia bahkan tak
pernah malu selalu menggandeng tanganku kemanapun kami pergi bersama. Aku tak
mengerti kenapa sampai saat ini aku tak juga sepertinya, tapi setidaknya aku
sedikit-sedikit memperoleh ilmu yang keluar dari ucapannya setiap hari, yang
tak henti-hentinya menasihatiku dengan begitu lembut dan bijak.
Sesaat setelah emosiku reda, Maya
menunjukkan jam di tangannya. Aku memahami maksudnya dan segera beranjak menuju
kelas untuk menyusul perkuliahan karena ternyata kami sudah telat 10 menit.
Sebenarnya mengesalkan untukku mengikuti kelas ini, tapi kuanggap ini untuk
memenuhi absenku sebagai syarat ujian. Bagaimana tidak, hari ini baru saja
memasuki kelas sudah kudapati kebodohan yang harus kudengarkan di sebuah kelas
pendidikan.
“... jadi dua orang yang belum menikah
melakukan hubungan suami istri itu tidak masalah. Jika mereka check in di hotel kemudian polisi
menggrebek mereka, ya itu polisinya yang bodoh dan perlu dicerdaskan. Mereka
kan melakukannya di dalam hotel sehingga itu tidak merugikan orang lain, itu
hak asasi mereka,” suaranya yang terus berkicau memekakkan telinga itu membuat
telingaku mendenging. Dosen satu ini selalu saja membuat ulah bodoh dengan gaya
sok pintar. Dia selalu berkata bahwa ia lulusan dari luar negeri, tapi aku
bahkan ragu dia pernah lulus SD.
Aku mengeluarkan sebuah dari dalam
tas, lalu meminjam gunting pada seorang teman. Dengan santai kugunting buku
yang baru saja kukeluarkan dari dalam tas.
“ Hei!! Apa-apaan kamu ini?? Kenapa
kamu menggunting bukumu? Buku itu karya bapak, kamu benar-benar tidak tau
norma!!” bentak dosen itu spontan.
Dengan wajah polos aku pun
menjawabnya,”ada yang salah pak? Ini kan buku saya? Kenapa bapak yang marah?
Ini buku kan sudah saya beli pak, saya bayar lho pak. Sepertinya bapak harus
lebih dicerdaskan dibanding polisi-polisi bodoh tadi pak.”
Brakkk... karena
begitu marah ia menggebrak meja dan pergi meninggalkan kelas, atau mungkin
lebih tepatnya karena begitu malu ia melakukan itu. Dalam hatiku tertawa
tergelitik, seolah hal ini mampu membuatku sejenak melupakan kerinduanku
terhadap bunda. Maya menepuk bahuku dari belakang,” Syifa, apa-apaan kau ini?
Jangan main-main seperti itu lagi,” tegurnya panik.
“ aku sudah dapat absen kok,” jawabku
sambil mengedipkan sebelah mata pada Maya.
Dia hanya menggeleng, aku pun
melangkah dengan santai menuju keluar kelas. Maya segera menyusulku. Di depan
perpustakaan kami bertemu dengan seorang dosen yang memang sangat akrab dengan
Maya.
“ assalamu’alaykum ustadzah,” sapa
Maya
“ wa’alaykumussalam Maya, Syifa,
hendak kemana kalian?”
“ tidak kemana-mana ustadzah, tadinya
mau main-main ke perpus saja,” jawab Maya
Ustadzah tersenyum,” Maya, bagaimana
kabar lembaga? Saya dengar ada isu baru lagi?”
“ tidak masalah ustadzah, isu klasik.
Ya mungkin mereka memang menganggap dakwah kita menyimpang, kadang dikatakan
bid’ah, kadang dikatakan jilbaber teroris, kadang pula saudara-saudara kita
yang lain mengatakan bahwa cara dakwah kita sesat. Saya sih belum tau Us siapa
kiranya yang sekarang menyebarkan isu itu kembali. Tapi insyaAllah, dengan
ketulusan niat kita untuk dakwah, kami akan terus melaju Us,” Maya menjawabnya
dan tersenyum simpul
“ insyaAllah May, tetap semangat saja.
Titipkan salam untuk teman-teman yang lain. Assalamu’alaykum,” ustadzah
tersenyum sembari melangkah pergi
“ wa’alaykumussalam.”
Aku yang sedari tadi hanya memandangi
mereka berdua bercakap-cakap kini beralih memandangi wajah sahabatku dengan
wajah manja. Rasanya aku seperti asing terhadap pembicaraan mereka, padahal
setiap hari aku bersamanya dan paham betul apa yang dialaminya bersama
teman-teman lembaganya. Tapi mungkin karena aku tak berada di dalamnya sehingga
aku tak mampu merasuki keadaan mereka. Terkadang aku juga bertanya-tanya apa
sebenarnya yang mereanya-tanya apa sebenarnya yang mereka lakukan, apa yang
mereka tuju, namun hingga saat ini aku belum pernah sekalipun menanyakannya
pada Maya. Aku hanya modal yakin pada sahabatku, meskipun aku sendiri pun
mendengar isu-isu buruk tentang Maya dan teman-teman lembaganya, tapi aku cukup
percaya diri untuk mengatakan bahwa aku mengenal betul siapa dan bagaimana sahabatku
sehingga ia tak akan melakukan hal-hal yang di luar batas kewajaran.
Maya merespon pandanganku
lagi-lagi dengan senyum. Dia kemudian mengambil sebuah buku dari tas dan
memberikannya padaku. Dia menginginkanku membacanya. Entah hari ini mungkin adalah
pertama kalinya ia memberiku sebuah buku langsung untuk kubaca, sesungguhnya
aku masih heran karena selama ini ia terkesan membiarkanku merasa longgar dan
tak pernah menyodoriku apapun yang berkaitan dengan lembaganya, lembaga dakwah
biasanya mereka sebut.
Entah mengapa tapi setelah itu
kami jadi tidak tertarik lagi untuk ke perpustakaan, sehingga aku memutuskan
untuk pulang dan Maya melanjutkan agendanya sebagai seorang aktivis dakwah,
begitu kira-kira biasanya mereka dipanggil. Setelah kami berpisah, aku masih
terus berpikir sepanjang jalan mengapa tiba-tiba ia memberiku sebuah buku
tentang dakwah. Aku bahkan tak mengerti tentang dakwah mereka. Karena aku tak
cukup berani untuk menanyakan langsung padanya, maka kuberanikan diri untuk
menanyakanya lewat telepon.
“... assalamu’alaykum, ada apa
Fa?” suaranya dari seberang telepon terdengar agak parau
“ wa’alaykumussalam. May,
langsung aja ya, aku mau tanya. Kenapa tiba-tiba kau memberikan buku seperti
ini padaku? Padahal sebelumnya kau tidak pernah berlaku begini padaku.”
“ surat bundamu Syifa, aku
menyayangimu dan memperoleh restu dari bundamu. Assalamu’alaykum.”
Tuuuuuuut... belum sempat kujawab salamnya, sambungan kami sudah
terputus. Barangkali diputus. Dia mengatakan tentang surat bunda. Aku semakin
tak paham, seandainya aku sedikit lebih punya pengetahuan tentang semua ini
mungkin aku taka akan terlihat sebodoh ini. Bunda... ah, aku tak tau apa yang
direncanakannya untukku, atau itu hanya perasaanku saja. Aku segera
meninggalkan pikiran-pikiran bodohku dan pulang ke rumah.
Seperti biasa sesampainya di
rumah aku segera memasak untuk makan siangku dengan paman. Walau bagaimana pun
dia bekerja untuk memenuhi segala kebutuhan hidupku, dia yang telah mengasuh
dan membesarkanku hingga saat ini, dan... dalam hatiku tersimpan cinta
untuknya, dia seperti ayahku sendiri. Setiap siang ia pulang untuk mencicipi
masakanku yang tak tentu rasanya, dan setelah itu ia akan kembali membanting
tulang untukku di bawah terik matahari yang menyengat, dan baru kembali pulang
setelah menjelang senja. Malam hari saja kami bisa menghabiskan waktu bersama
secara leluasa, aku menceritakan apa yang terjadi di kampus, dan paman
menceritakan apa yang terjadi di tempatnya bekerja. Anehnya, setiap malam kami
bisa bercerita terbuka, sharing dengan
hangat dan cair layaknya ayah dan anak, namun setiap pagi dan siang kami
kembali bersikap kaku seolah dua orang yang baru saja saling mengenal.
Bersambung...
