Total Tayangan Halaman

Kamis, 29 November 2012

Ketika Bunga Desember Mekar di Bulan Oktober


Suara desahan nafasku terdengar jelas di telingaku sendiri. Aku menengadah menyongsong mentari pagi yang membelaiku dengan lembut, seolah ia begitu paham betapa kalutnya perasaanku di pagi itu, di sebuah tepian dermaga, duduk seorang diri menanti kehadiran seseorang yang telah lama kunanti. Semakin naik matahari, kulitku semakin merasakan sengatannya. Perlahan terdengar langkah kaki gontai menuju ke arahku, hingga akhirnya langkah itu terhenti di sampingku. Sosok laki-laki setengah baya duduk di sebelahku sambil tersenyum tipis padaku,
“ paman tidak kerja?” tanyaku
Sambil menggeleng lembut paman menjawab,” tidak Nak, paman ingin menemanimu hari ini. Kau ingin jalan-jalan?” tanyanya dengan senyum tersungging.
“ terimakasih paman, tapi saya tidak ingin pergi kemana-mana. Saya berharap hari ini saya benar-benar menemukannya disini. Sudah 13 tahun saya menunggu, dan sampai sekarang beliau belum juga kembali,” jawabku lembut
Tangan paman merogoh ke saku bajunya, aku melihat sepucuk surat di tangannya,” ini surat darinya, bacalah.”
Dengan gemetaran tanganku meraih surat kecil itu, aku tak tau apalagi yang akan terjadi setelah kubuka surat itu. Setiap tahun aku menunggu sosok kehadiran seorang ibu yang tak kunjung menemuiku seperti janjinya dulu untuk pulang tahun depan setelah kepergiannya, ternyata tahun depan itu begitu jauh. Bertahun-tahun aku menjalani hidup dalam keadaan jiwa yang tidak normal. Ayahku meninggal kecelakaan, dan selang 3 bulan Bunda turut pergi meninggalkanku yang saat itu masih berusia 6 tahun. Ulang tahunku yang selalu penuh dengan senyum kedua orang tuaku mendadak sirna bertahun-tahun lamanya, yang ada tinggal kehampaan layaknya tahun ke-20 ku, tepat hari ini. Aku hanya menerima sepucuk surat yang bahkan aku sendiri pun ketakutan untuk membukanya.
Aku hanya melihat surat itu lalu meletakkannya di sampingku. Pandanganku kembali tertuju ke depan, melihat genangan air yang begitu panjang. Aku mendengar desahan berat paman hingga ia berdiri lalu beranjak meninggalkanku seorang diri.
Paman.. aku bahkan tak tau siapa beliau. Bunda menitipkanku pada beliau sesaat sebelum kepergiannya, walau aku belum pernah mengenalnya sebelumnya. Bahkan tak sampai akalku untuk memecahkan pertanyaan mengapa beliau rela mengasuhku hingga dewasa ini, mengorbankan segalanya untukku, bahkan beliau sempat menyelematkanku dari insiden tragis yang hampir merenggut nyawaku sementara itu membuatnya harus terluka parah hingga harus diinapkan di rumah sakit selama setengah bulan.
Nafasku mendesah panjang, lagi-lagi hari ini dia tak datang. Bunda.. entah di mana sekarang keberadaannya. Mungkin saat ini dia sedang tersiksa karena merasakan sayatan hatiku hingga tahun ke-19 ku. Kadang aku berfikir, biar dia rasakan sakit yang tak terampunkan karena telah meninggalkanku begitu saja, namun di sisi lain hati kecilku merindukannya setengah mati. Ahh, di mana sesungguhnya engkau saat ini?
Setelah 3 jam duduk di dermaga, aku mulai beranjak. Langkahku layu, perlahan ku susuri sepanjang jalan yang dulu ku lewati bersama bunda setiap ulang tahunku, beliau bahkan selalu memetikkan setangkai bunga desember untukku. Ya.. tepat di ulang tahunku 12 Desember. Tapi entah hari ini tak kulihat mekarnya, tak ada satupun bunga desember yang mekar dengan cantiknya. Bunga-bunga itu satu-satunya yang menjadi pelepas rinduku pada bunda. Diriku hanya tertunduk lesu.

Setelah melewati hari yang lagi-lagi membuatku kecewa, hari ini kuputuskan untuk kembali ke dunia nyataku, dunia kampus yang penuh dengan dinamika pula. Seandainya bunda masih ada di sampingku, aku bisa menceritakan segala hal yang kualami tiap harinya. Meskipun aku bisa menceritakannya pada paman, tapi teramat beda rasanya, bercerita pada orang yang awalnya sama sekali tak ku kenali. Namun kebaikan hatinya selama ini membuatku perlahan-lahan mencintainya. Kadang jika tidak sedang menuruti keangkuhanku, aku menganggapnya seperti ayahku sendiri. Namun keadaannya sampai hari ini pun sikapku terhadapnya masih saja dingin, terlebih karena setiap kutanya tentang bunda, ia tak pernah memberiku informasi yang jelas untuk membuat remaja 19 tahun yang sakit ini merasa terobati.
“Fa, mau ke perpus?” Maya, sahabat yang selalu menemaniku sejak SMA tiba-tiba mengagetkanku yang sedang duduk termenung di sebuah bangku taman.
Senyumku terkembang melihat kedatangannya, sahabat yang hadirnya menyatu di hatiku. Dia adalah seorang sahabat yang tak pernah mengeluhkan segala kelakuanku yang sering membuat ulah, dia hanya selalu tersenyum dan membuatku terdiam menyadari ulahku.
“May, duduklah di sampingku. Aku ingin membuka surat dari bundaku bersamamu,” kataku sambil menyambut tangannya.
Dia tersenyum, seperti biasa senyumnya begitu manis dan menenangkanku. Dia duduk dengan lembut di sampingku, menatap mataku dan sekali lagi tersenyum tipis. Perlahan-lahan kubuka surat dari bunda, untuk membacanya saja kutarik nafasku dalam-dalam, dan...

11 Desember 1999
Ananda tercinta,
Saat kau baca surat ini, kau pasti sudah memasuki usia 19 tahun. Kau sudah beranjak dewasa sayang, kau pasti tumbuh sebagai gadis shalihah yang cantik dan tegar. Maafkan bunda telah meninggalkanmu selama ini, bunda tak tau apakah suatu saat kita bisa berkumpul kembali atau tidak. Tapi satu hal yang perlu Syifa pahami benar-benar, bunda sangat menyayangimu sayang. Bunda sangat mencintai Syifa. Bunda ingin Syifa tumbuh menjadi muslimah yang bijaksana dan kuat dan suatu saat Syifa akan paham tentang arti sebuah perjuangan dan pengorbanan. Syifa akan menjadi seseorang yang mampu memahami hikmah dengan dalam.
Sayang... Hidup ini penuh dengan keindahan. Dan perpisahan kita ini adalah salah satu dari keindahan yang ada di dunia. Mungkin bagi Syifa ini suatu hal yang berat, tapi percayalah sayang, suatu ketika Syifa akan memperoleh keindahan yang tak terduga. Syifa sayang, jika ibu tak salah memperkirakan, mungkin saat ini kau sudah menginjakkan kaki di dunia baru, dunia kampus. Ibu ingin menceritakan satu hal yang sangat penting bagimu, tapi ini baru tahun pertamamu di kampus, emosimu mungkin masih labil. Ibu akan menunggu sampai kau berusia 20 tahun dan kau akan mendapatkan apa yang seharusnya kau ketahui.
Sayang... Maafkan bunda nak, maaf. Bunda berharap kita masih bisa bertemu. Jika tahun depan bunda telah kembali, maka apa yang ingin bunda sampaikan padamu akan bunda sampaikan padamu secara langsung. Namun jika bunda tidak kembali, maka surat selanjutnya akan cukup mewakili. Bunda akan sangat merindukanmu sayang, semoga Syifa bahagia.
Bunda 

Setiap surat yang bunda kirimkan selalu dengan tanggal pembuatan yang sama, sehari sebelum ulang tahunku yang ke-6. Seolah-olah seharian itu bunda hanya menghabiskan waktunya untuk menulis semua surat yang akan dikirimkan untuk setiap ulang tahunku. Aku tak mengerti kenapa bunda melakukan hal ini, dan... apa yang sesungguhnya terjadi? Tentang suatu hal yang perlu kuketahui, apa itu?
Surat itu kututup, tak terasa aku menitikan air mata. Tapi tiba-tiba tangan sentuhan tangan lembut mengusap pipi basahku. Maya adalah sahabat terbaik yang pernah kumiliki. Sejak kami saling mengenal ia tak pernah jera bersamaku meskipun keadaannya kami nampak berbeda. Dia adalah seorang wanita shalihah, pakaiannya rapi, santun. Tapi ia bahkan tak pernah malu selalu menggandeng tanganku kemanapun kami pergi bersama. Aku tak mengerti kenapa sampai saat ini aku tak juga sepertinya, tapi setidaknya aku sedikit-sedikit memperoleh ilmu yang keluar dari ucapannya setiap hari, yang tak henti-hentinya menasihatiku dengan begitu lembut dan bijak.
Sesaat setelah emosiku reda, Maya menunjukkan jam di tangannya. Aku memahami maksudnya dan segera beranjak menuju kelas untuk menyusul perkuliahan karena ternyata kami sudah telat 10 menit. Sebenarnya mengesalkan untukku mengikuti kelas ini, tapi kuanggap ini untuk memenuhi absenku sebagai syarat ujian. Bagaimana tidak, hari ini baru saja memasuki kelas sudah kudapati kebodohan yang harus kudengarkan di sebuah kelas pendidikan.
“... jadi dua orang yang belum menikah melakukan hubungan suami istri itu tidak masalah. Jika mereka check in di hotel kemudian polisi menggrebek mereka, ya itu polisinya yang bodoh dan perlu dicerdaskan. Mereka kan melakukannya di dalam hotel sehingga itu tidak merugikan orang lain, itu hak asasi mereka,” suaranya yang terus berkicau memekakkan telinga itu membuat telingaku mendenging. Dosen satu ini selalu saja membuat ulah bodoh dengan gaya sok pintar. Dia selalu berkata bahwa ia lulusan dari luar negeri, tapi aku bahkan ragu dia pernah lulus SD.
Aku mengeluarkan sebuah dari dalam tas, lalu meminjam gunting pada seorang teman. Dengan santai kugunting buku yang baru saja kukeluarkan dari dalam tas.
“ Hei!! Apa-apaan kamu ini?? Kenapa kamu menggunting bukumu? Buku itu karya bapak, kamu benar-benar tidak tau norma!!” bentak dosen itu spontan.
Dengan wajah polos aku pun menjawabnya,”ada yang salah pak? Ini kan buku saya? Kenapa bapak yang marah? Ini buku kan sudah saya beli pak, saya bayar lho pak. Sepertinya bapak harus lebih dicerdaskan dibanding polisi-polisi bodoh tadi pak.”
Brakkk... karena begitu marah ia menggebrak meja dan pergi meninggalkan kelas, atau mungkin lebih tepatnya karena begitu malu ia melakukan itu. Dalam hatiku tertawa tergelitik, seolah hal ini mampu membuatku sejenak melupakan kerinduanku terhadap bunda. Maya menepuk bahuku dari belakang,” Syifa, apa-apaan kau ini? Jangan main-main seperti itu lagi,” tegurnya panik.
“ aku sudah dapat absen kok,” jawabku sambil mengedipkan sebelah mata pada Maya.
Dia hanya menggeleng, aku pun melangkah dengan santai menuju keluar kelas. Maya segera menyusulku. Di depan perpustakaan kami bertemu dengan seorang dosen yang memang sangat akrab dengan Maya.
“ assalamu’alaykum ustadzah,” sapa Maya
“ wa’alaykumussalam Maya, Syifa, hendak kemana kalian?”
“ tidak kemana-mana ustadzah, tadinya mau main-main ke perpus saja,” jawab Maya
Ustadzah tersenyum,” Maya, bagaimana kabar lembaga? Saya dengar ada isu baru lagi?”
“ tidak masalah ustadzah, isu klasik. Ya mungkin mereka memang menganggap dakwah kita menyimpang, kadang dikatakan bid’ah, kadang dikatakan jilbaber teroris, kadang pula saudara-saudara kita yang lain mengatakan bahwa cara dakwah kita sesat. Saya sih belum tau Us siapa kiranya yang sekarang menyebarkan isu itu kembali. Tapi insyaAllah, dengan ketulusan niat kita untuk dakwah, kami akan terus melaju Us,” Maya menjawabnya dan tersenyum simpul
“ insyaAllah May, tetap semangat saja. Titipkan salam untuk teman-teman yang lain. Assalamu’alaykum,” ustadzah tersenyum sembari melangkah pergi
“ wa’alaykumussalam.”
Aku yang sedari tadi hanya memandangi mereka berdua bercakap-cakap kini beralih memandangi wajah sahabatku dengan wajah manja. Rasanya aku seperti asing terhadap pembicaraan mereka, padahal setiap hari aku bersamanya dan paham betul apa yang dialaminya bersama teman-teman lembaganya. Tapi mungkin karena aku tak berada di dalamnya sehingga aku tak mampu merasuki keadaan mereka. Terkadang aku juga bertanya-tanya apa sebenarnya yang mereanya-tanya apa sebenarnya yang mereka lakukan, apa yang mereka tuju, namun hingga saat ini aku belum pernah sekalipun menanyakannya pada Maya. Aku hanya modal yakin pada sahabatku, meskipun aku sendiri pun mendengar isu-isu buruk tentang Maya dan teman-teman lembaganya, tapi aku cukup percaya diri untuk mengatakan bahwa aku mengenal betul siapa dan bagaimana sahabatku sehingga ia tak akan melakukan hal-hal yang di luar batas kewajaran.
Maya merespon pandanganku lagi-lagi dengan senyum. Dia kemudian mengambil sebuah buku dari tas dan memberikannya padaku. Dia menginginkanku membacanya. Entah hari ini mungkin adalah pertama kalinya ia memberiku sebuah buku langsung untuk kubaca, sesungguhnya aku masih heran karena selama ini ia terkesan membiarkanku merasa longgar dan tak pernah menyodoriku apapun yang berkaitan dengan lembaganya, lembaga dakwah biasanya mereka sebut.
Entah mengapa tapi setelah itu kami jadi tidak tertarik lagi untuk ke perpustakaan, sehingga aku memutuskan untuk pulang dan Maya melanjutkan agendanya sebagai seorang aktivis dakwah, begitu kira-kira biasanya mereka dipanggil. Setelah kami berpisah, aku masih terus berpikir sepanjang jalan mengapa tiba-tiba ia memberiku sebuah buku tentang dakwah. Aku bahkan tak mengerti tentang dakwah mereka. Karena aku tak cukup berani untuk menanyakan langsung padanya, maka kuberanikan diri untuk menanyakanya lewat telepon.
“... assalamu’alaykum, ada apa Fa?” suaranya dari seberang telepon terdengar agak parau
“ wa’alaykumussalam. May, langsung aja ya, aku mau tanya. Kenapa tiba-tiba kau memberikan buku seperti ini padaku? Padahal sebelumnya kau tidak pernah berlaku begini padaku.”
“ surat bundamu Syifa, aku menyayangimu dan memperoleh restu dari bundamu. Assalamu’alaykum.”
Tuuuuuuut... belum sempat kujawab salamnya, sambungan kami sudah terputus. Barangkali diputus. Dia mengatakan tentang surat bunda. Aku semakin tak paham, seandainya aku sedikit lebih punya pengetahuan tentang semua ini mungkin aku taka akan terlihat sebodoh ini. Bunda... ah, aku tak tau apa yang direncanakannya untukku, atau itu hanya perasaanku saja. Aku segera meninggalkan pikiran-pikiran bodohku dan pulang ke rumah.

Seperti biasa sesampainya di rumah aku segera memasak untuk makan siangku dengan paman. Walau bagaimana pun dia bekerja untuk memenuhi segala kebutuhan hidupku, dia yang telah mengasuh dan membesarkanku hingga saat ini, dan... dalam hatiku tersimpan cinta untuknya, dia seperti ayahku sendiri. Setiap siang ia pulang untuk mencicipi masakanku yang tak tentu rasanya, dan setelah itu ia akan kembali membanting tulang untukku di bawah terik matahari yang menyengat, dan baru kembali pulang setelah menjelang senja. Malam hari saja kami bisa menghabiskan waktu bersama secara leluasa, aku menceritakan apa yang terjadi di kampus, dan paman menceritakan apa yang terjadi di tempatnya bekerja. Anehnya, setiap malam kami bisa bercerita terbuka, sharing dengan hangat dan cair layaknya ayah dan anak, namun setiap pagi dan siang kami kembali bersikap kaku seolah dua orang yang baru saja saling mengenal.

Bersambung...

Rabu, 07 November 2012

Meraih Kedamaian Hati


Meraih Ketenangan Hati
Makna kehidupan di dunia ini tak dimiliki semua orang, bahkan sebagian kecil saja yang memilikinya. Untuk apa manusia hidup, serta apa yang diharapkan manusia dalam hidupnya pun terkadang kita tak paham. Banyak orang yang tak tentram hidupnya, karena banyak faktor yang di antaranya :
·         Jauh dari Allah sehingga menyebabkan ruhiyahnya kering
·         Mengejar popularitas sehingga tidak pernah puas
·         Mencari-cari kesalahan orang lain
·         Memperbesar perbedaan karena merasa keyakinan kita lah yang benar
·         Negative thinking

Jauh dari Allah
Jika dihitung-hitung sudah berapa abad jarak masa kita dengan masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yang menampakkan perbedaan yang sangat signifikan. Sungguh berbeda tingkat keimanan dan ketakwaan muslim zaman Rasul dengan zaman ini. Pada masa Rasul, setiap muslim benar-benar mampu merespon muraqabatullah dan ihsanullah, mereka selalu mencari-cari kebenaran dari Allah dan Rasul, berlomba-lomba dalam kebaikan dan khusuk dalam beribadah. Namun fenomena yang dapat kita amati dari masa kita saat ini bukan sekedar tidak mampu merespon muraqabatullah dan ihsanullah, manusia bahkan melalaikan hakikat kehidupan mereka sebagai Hamba Allah. Na’udzubillah.
Kini bahkan syari’at sudah seperti bahan olok-olok belaka, mereka tidak meyakini sepenuh hati namun mencari-cari kemudahan dunia saja. Sebagian orang berkata, islam ya islam saja lah, shalat, puasa, zakat, cukup. Sebagian orang berkata, hal yang penting dalam islam adalah bijak menghadapi hidup, tapi tanpa sadar mereka melalaikan akidah. Sebagian orang lagi bahkan tak acuh terhadap agama, mereka sibuk berlomba-lomba mengagung-agungkan dunia mereka. Sebagian orang ini bahkan tak merasakan kegelisahan sedikit pun dalam bermaksiat. Ruh mereka kering, dan ini sudah menjadi patokan mutlak bahwa hati mereka tidak akan sehat. Sebagian lagi sibuk dengan aktivitas mereka, meskipun bernilai ibadah namun kadang mereka hampir terlenakan hingga kurang maksimal dalam pengamalan ibadah-ibadah mahdhah.
Mengejar Popularitas
Pemuda adalah bagian penting dari kekuatan sebuah pasukan. Namun bagaimana kemudian jika para pemuda justru sibuk berlomba-lomba mengejar popularitas? Kembali sebuah fenomena dari kehidupan para pemuda, yakni menampakkan diri untuk memperoleh nama besar. Semakin dikenal, semakin melambung pamor, semakin banyak yang memuji, semakin bangga lubuk hati. Namun meresahkannya, hal ini tidak akan pernah membuat diri mereka puas. Mereka selalu mencoba berbagai macam hal untuk semakin meningkatkan pamor.
Tipe-tipe seperti ini biasanya akan sangat mudah sekali meremehkan orang karena menganggap dirinya orang hebat, padahal Rasulullah telah bersabda,
“ janganlah kalian saling dengki, tipu menipu, saling memurkai, dan saling membelakangi, jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara muslim yang lainnya, ia tidak mendzaliminya, tidak mendustakannya, dan tidak meremehkannya. Cukuplah seorang muslim dikatakan berdosa jika dia menghina saudaranya yang muslim” (HR. Muslim)
Hati akan tenang ketika kita mampu bersikap qonaah, menerima dengan ikhlas segala yang Allah berikan pada kita. Dengan memberi, hati mampu menemukan sebagian ketenangan yang hakiki.
Mencari-cari Kesalahan Orang Lain
“sesungguhnya, syaithan telah putus asa dari menjadikan dirinya sebagai sesembahan bagi orang-orang yang shalatnya di jazirah Arab, tetapi ia tidk pernah putus asa dalam menimbulkan permusuhan sema mereka”, (HR. Muslim)
Dari hadits di atas maka tak heran jika masih banyak orang yang mencari-cari kesalahan orang lain. Rasa iri, dengki, dan ingin tampak lebih baik membuat mereka rela mencari-cari kejelekan saudara mereka sendiri. Manusia memang memiliki naluri untuk senantiasa nampak baik, dan malu ketika keburukannya diketahui oleh orang lain, sehingga terkadang untuk menutupi kekurangan diri mereka justru mengkambing hitamkan orang lain.
Sesungguhnya mengakui kelemahan diri itu akan lebih menghangatkan suasana persaudaraan, tidak menimbulkan rasa gundah dan merasa rendah. Dalam islam, persaudaraan sangat dijunjung tinggi sehingga islam sangat membenci perpecah belahan, seperti dalam kalamullah kepada Nabi,
“ sesungguhnya, orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka menjadi bergolongan, tidak ada sedikitpun tanggung jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya, urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat”, (Al-An’am:159)
Allah tidak menghendaki perpecah belahan sehingga Allah tidak menurunkan ketentraman pada hati orang-orang yang menjelek-jelekkan saudara mereka sendiri, sehingga menimbulkan kebencian dan perpecahan di antaranya.
Memperbesar Perbedaan
Seiring berkembangnya islam, semakin berkembang juga golongan-golongan di antara umat islam. Meskipun memiliki tujuan yang sama, namun mereka memiliki metode ishlah yang berbeda-beda sehingga hal ini seringkali mengakibatkan perselisihan dan perdebatan. Namun ironis sekali kebanyakan dari golongan ini kurang menyadari arti penting dari ukhuwah islamiyah, atau paling tidak mereka kurang mampu menerapkan ilmu tentang persaudaraan yang sudah mereka ketahui. Biasanya hal-hal yang melenakan adalah ilmu baru yang diperoleh seseorang dari satu sudut pandang, hal ini biasanya sangat efektif untuk membuat seseorang merasa percaya diri untuk mendebat hingga timbul perselisihan. Terkadang beberapa dari orang-orang seperti ini akan merasakan kepuasan ketika mereka bisa beradu argumen dengan orang lain.
Di sisi lain, ada pula orang yang menolak adanya purifikasi sehingga yang maksud misinya adalah untuk memahamkan persatuan justru malah berbalik menjadi pernyataan menentang terhadap golongan-golongan yang ada. Mereka biasanya juga merasakan keresahan, hati tidak tenang karena ambisinya untuk menentang perpecahan dengan emosional. Hal ini pun bukan sebuah hal yang bisa dibenarkan. Perpecahan yang diakibatkan oleh gerakan purifikasi bukan berasal dari purifikasi itu sendiri, namun hal ini berasal dari sikap keras beberapa pelakunya. Maka dari itu yang perlu disadari bersama adalah Islam memiliki musuh utama yang sangat berambisi menghancurkan islam, dan harapannya umat islam mampu menyamakan musuh, bukan justru saling menyerang satu sama lain yang secara tidak disadari mereka telah terperangkap oleh jerat musuh islam yang berupaya memecah belah umat islam.
Negative Thinking
Salah satu faktor yang menghambat ketenangan hati seseorang adalah berprasangka buruk dan berfikir negatif dalam setiap hal. Orang yang berprasangka buruk tidak akan tenang karena apa yang ia pikirkan sepenuhnya merupakan rasa tidak suka, tidak percaya, kegelisahan, keresahan, dan sebagainya, sehingga yang ada di dalam hatinya justru bermacam-macam penyakit yang diakibatkan dari satu sebab dari dirinya sendiri. Selain itu, berprasangka buruk membuat seseorang tidak bisa berkomunikasi dengan baik, dan yang sudah sangat pasti akan menyebabkan perpecah belahan pula. Berfikir buruk juga merupakan aktivitas hati yang merugikan orang lain karena kita telah mengatakan sebuah keburukan tentang orang lain, sekalipun kita hanya mengatakan itu pada diri kita sendiri, setidaknya kita telah merusak citra orang di mata kita sendiri. Rasulullah bersabda,
“ jauhkanlah diri kalian dari prasangka karena prasangka itu merupakan ucapan yang paling dusta. Janganlah saling mencurigai, saling menghasut, saling iri hati, saling membenci, dan saling membuat makar. Akan tetapi jadilah hamba-hamba Allah yang saling bersaudara,” (HR. Mutafaqun ‘alaih)
Dengan demikian ketika kita berprasangka buruk terhadap seseorang, tidak ada bedanya dengan kita mengada-adakan sebuah kebohongan terhadap orang lain.
Mencoba untuk senantiasa ber-positive thinking merupakan hal yang mampu memberika aura ketenangan tersendiri terhadap hati kita. Dari hal itu kita mampu merasakan betapa kita sedang berkasih sayang, berukhuwah dengan saudara kita, walau sebatas berprasangka baik. Positive thinking itu mampu memberikan secercah senyum kepuasan dan ketenangan batin bagi kita. Maka dari itu husnudzon menjadi hal yang sangat penting dari umat islam.

Penyakit hati yang membuat hati kita kerdil memang beraneka ragam adanya. Namun setidaknya kita bisa berupaya untuk bertahap menyadarkan diri kita bahwa ketenangan batin itu bersumber mutlak dari segala yang diturunkan oleh Allah. Segala petunjuk yang diturunkan oleh Allah untuk manusia merupakan solusi paling menyeluruh bagi setiap permasalahan dunia, termasuk ketenangan hati. Maka dari itu, Bismillah.. ^^
        
Fantika_MV

Fiqhul Ikhtilaf (Yusuf Qardhawi)


Fiqhul Ikhtilaf
(Dr. Yusuf Qardhawi)
Ditinjau dari segi sebab dan akarnya, ada dua bentuk ikhtilaf (perselisihan):
1.       Ikhtilaf yang disebabkan oleh faktor akhlak
2.       Ikhtilaf yang disebabkan oleh faktor pemikiran

A.    Ikhtilaf yang Disebabkan oleh Faktor Akhlak
Ikhtilaf yang timbul karena faktor akhlak ini diketahui oleh para ulama dan murabbi (pembina) yang memperhatikan beraneka motivasi dari berbagai sikap dan peristiwa.
          Diantara sebab-sebabnya yaitu sebagai berikut :
1.       Membanggakan diri dan mengagumi pendapatnya sendiri
2.       Buruk sangka kepada oran g lain dan mudah menuduh orang lain tanpa bukti
3.       Egoisme dan mengikuti hawa nafsu. Diantaranya akubatnya ambisi terhadap kepemimpinan dan kedudukan
4.       Fanatik kepada pendapat orang, madzhab, dan golongan
5.       Fanatik kepada negeri, daerah, partai, jamaah atau pemimpin
Semua ini adalah akhlak tercela dan muhlikat (hal yang mencelakakan) dalam pandangan para ulama’ul qulub (ulama yang menyelidiki masalah hati). Wajib atas muslim awam-apalagi aktivis islam dan da’i- untuk berusaha menghindari sifat-sifat tercela tersebut.
Ikhtilaf yang timbul karena perangai yang tercela ini adalah perselisihan yang tidak terpuji, bahkan termasuk kategori perpecahan yang tercela.

B.    Ikhtilaf yang Disebabkan oleh Faktor Pemikiran
Ikhtilaf ini timbul karena perbedaan sudut pandang mengenai suatu masalah baik masalah alamiah ataupun masalah ‘amaliah. Contoh dalam masalah ilmiah adalah perbedaan menyangkut cabang-cabang syariat dan beberapa masalah aqidah yang tidak menyentuh prinsip-prinsip yang pasti. Adapun dalam masalah amaliah adalah perbedaan mengenai sikap-sikap politik dan pengambilan keputusan atas berbagai masalah, akibat, perbedaan sudut pandang, kelengkapan data dan informasi, pengaruh-pengaruh lingkungan dan zaman.
Diantara contoh yang paling nyata ialah perbadaan jamaah-jamaah islam seputar beberapa sikap politik pada masa kita sekarang ini. Seperti keikutsertaan dalam pemilihan umum, masuk ke dalam perlemen, partisipasi dalam pemerintahan yang tidak commit dalam beberapa penerapan syariat islam, koalisi dengan sebagian kekuatan non-Islam untuk menjatuhkan pemerintahan yang tidak memberikan kebebasan pendapat sama sekali, dan sebagainya.
Sebagian ikhtilaf tersebut bersifat politik semata, yakni berkaitan dengan pertimbangan antara kemashlahatan dan kemudharatan, antara pencapaian dan kerugian di masa sekarang dan yang akan datang.
Sebagian yang lain bersifat fiqh murni, yakni kembali kepada perbedaan hukum syar’i mengenai masalah tersebut, apakah boleh atau terlarang? Seperti masalah partisipasi dalam pemerintah berkoalisi dengan non-Muslim dan keikutsertaan wanita dalam pemilihan, baik sebagai pemilih maupun sebagai orang yang dicalonkan.
Sementara itu, sebagian yang lainnya merupakan gabungan antara perbedaan yang bersifat fiqh dan politis.
Diantara contoh yang paling nyata adalah perbedaan pendapat antara para aktivis islam mengenai metode-metode ishlah dan perubahan yang dicita-citakan :
·         Apakah dimulai dari atas atau dari bawah?
·         Apakah kita mengutamakan cara revolusi dan kekerasan atau cara bertahap dan keluwesan?
·         Apakah diutamakan kudeta militer atau perjuangan politik ataukah takwin tarbawi (pembinaan)?
·         Apakah kita memeberikan prioritas kepada aktivitas sosial ataukah pada pembentukan kader-kader?
·         Apakah dibolehkan adanya beberapa gerakan islam di mana masing-masing darinya bekerja di lapangan tertentu ataukah satu gerakan yang mencakup dan menyeluruh?
Juga pertanyaan-pertanyaan lainnya yang tidak sedikit jumlahnya.
Termasuk ke dalam khilafiah fikriyah: perbedaan pandangan mengenai penilaian terhadap sebagian ilmu pengetahuan, seperti ilmu kalam, ilmu tasawuf, ilmu mantiq, ilmu filsafat, dan fiqh madzhab.
Ada orang yang sangat fanatik terhadap ilmu-ilmu tersebut. Sebaliknya, ada orang yang menolak semua ilmu tersebut dan menganggapnya “barang baru” (bid’ah) dalam Islam, yang dosanya lebih besar ketimbang manfaatnya. Ada pula orang yang bersifat moderat; mengambil sebagian dan meninggalkan sebagian yang lainnya.
Ikhtilaf fikri lainnya adalah perbedaan mengenai penilaian terhadap sebagian peristiwa sejarah dan tokoh-tokohnya. Misalnya, apa yang terjadi antara sesama sahabat, antara sikap Umar terhadap Khalid bin Walid, Utsman terhadap Ibnu Mas’ud dan Abu Dzar, sikap Thalhah, Zubair, Aisyah terhadap Ali, Perang Shiffin, dan tahkim (Ali dan Mu’awiyah), dan lainnya.
Di antara tokoh yang diperselisihkan: Mu’awiyah dan ayahnya, Amr ibnul Ash, Abu Musa al-Asy’ari, dan lainnya.
Adapun perselisihan yang terbesar dan terluas ialah perselisihan dalam masalah cabang-cabang fiqh dan sebagian masalah aqidah yang tidak qath’i.
        
Fantika_MV