Seribu tahun telah kutempuh
Harapan untuk bertemu dengannya
tambatan hati yang selama ini didamba
yang akan menemani seluruh hidupku…
Tak lupa kukumandangkan Do’a
Panda Allah Tuhan Semesta
Berharap kan segera kutemukan
Tak lupa ku persiapkan diri untuk masa masa itu..
Dimana hanya ada aq dan dia
Dan kan kubangun keluarga bahagia dengan anak-anak yang ceria
Kan kubangunkan dia sebuah rumah yang indah
Dengan taman dan kebun yang menghiasi
Dan air mengalir jernih didalam taman itu dengan kumpulan ikan dikolam
Kebunku dipenuhi kicauan burung, kokok ayam, merpati dan burung dara
Dan buah anggur yang melambai –lambai, empon-empon beraneka, dan bermacam-macam buah
Tak lupa berbagai macam sayur kutanam, ada melinjo, ketela, pohon asam dan lainnya
Jika kami ingin maka ia tersanding dan mudah didapat…
Kami melewati hari-hari penuh riang dan keceriaan hingga akhir hayat.
Sajak diatas merupakan gambaran sifat manusia ini yang mencintai yang enak, indah dan tak bergejolak. Sungguh tenang dan indah memang
Sifat tersebut diatas memang sejalan sebagaiman Allah SWT sampaikan dalam Al Qur’an Surat Ali Imron ayat 14 yang berbunyi:
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). “ (Ali Imron 14)
Akan tetapi ada yang lebih baik dari itu yaitu (sebagaimana dalam surat Al Imron ayat selanjutnya 15)
“Katakanlah: "Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?." Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai; mereka kekal didalamnya. Dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. (Ali Imron : 15)
Berikutnya kami sampaikan macam-macam cinta sebagai berikut: agar kita mampu mengetahui bahwa cinta dunia dengan deskripsinya itu adalah tingkatan kelima cinta yang perlu ada sesuai dengan proporsinya.
Cinta dalam Islam terbagi menjadi beberapa macam, Dalam salah satu kitabnya "Jawabul Kaafii" Ibnul Qayyim al-Jauziyah membagi cinta menjadi beberapa macam:
Pertama, Mahabbatullah (cinta kepada Allah)
Hal ini saja belum cukup untuk menyelamatkan seseorang dari adzab Allah dan memperoleh pahala dari-Nya. Sebab, kaum musyrikin, kaum Nasrani, Yahudi, dan selain mereka juga mencintai Allah (namun kecintaan mereka tidak bermanfaat).
Kedua, Mahabbatu maa yuhibbullah (mencintai perkara yang dicintai Allah)
Cinta yang seperti inilah yang memasukkan pemiliknya ke dalam Islam dan mengeluarkan pelakunya dari kekufuran. Dan orang yang paling dicintai Allah adalah yang paling lurus dan kuat kecintaanya terhadap apa-apa yang dicintai Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Ketiga, Al-Hubb lillah wa fillah (mencintai karena Allah dan dalam ketaatan kepada-Nya)
Hal ini merupakan konsekwensi dari mencintai perkara yang dicintai-Nya. Dan tidak lurus kecintaan terhadap sesuatu yang dicintai Allah, melainkan dengan mencintai sesuatu karena Allah dan dalam ketaatan kepada-Nya.
Keempat, Al-Mahabbatu ma’allah (mencintai selain Allah bersama Allah)
Ini adalah kecintaan yang syirik, barang siapa yang mencintai sesuatu bersama Allah bukan karena Allah, bukan sebagai sarana kepadaNya, dan bukan dalam ketaatan kepadaNya, maka dia telah menjadikan sesuatu tersebut sebagai tandingan bagi Allah. Seperti inilah kecintaan kaum musyrikin.
Kelima, cinta yang sejalan dengan tabiat
Yaitu kecenderungan seseorang terhadap perkara yang sesuai dengan tabiatnya, seperti seorang yang haus mencintai air, yang lapar mencintai makanan, seseorang mencintai isteri dan anaknya, dll. Kecintaan ini sebenarnya tidaklah tercela, kecuali jika tabiat cinta tersebut melalaikan dari mengingat Allah dan yang menyibukkan hamba dari mencintai-Nya serta taat kepadaNya. Sebagaimana yang telah Allah firmankan:
( يا أيها الذين آمنوا لا تلهكم أموالكم ولا أولادكم عن ذكر الله )
"Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian Maka mereka Itulah orang-orang yang merugi."QS. Al-Munafiquun: 9)
Dan firman-Nya:
( رجال لا تلهيهم تجارة ولا بيع عن ذكر الله )
…orang-orang yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah."(QS An-Nuur: 37).
Wallahu A’lam Bi Showab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar