Total Tayangan Halaman

Jumat, 25 Desember 2015

CINTA SURGA UNTUK BUNDA



Sesudah berpamitan sambil menciumi sang Ibu, berangkatlah ia menuju Madinah,
       Menempuh perjalanan panjang 400 kilometer dari Yaman kawan, 400 kilometer,
Medan ganas dilaluinya..
       Tak peduli penyamun Gurun Pasir, bukit curam, luasnya gurun pasir yang mampu menyesatkan, terik matahari yang menyengat ubun-ubun di kala siang, dan dingin yang merasuk tulang di kala malam,
       400 kilometer ia lalui, demi bertemu Baginda Rasulullah saw yang dicintainya,
Meninggalkan sang ibu yang renta dengan berat hati, penuh cinta dan doa,
       Uwais Al Qorni Sang Penghuni Langit..
Pemuda yang memberikan kecintaan terbesar kepada Sang Ibu yang tua renta, dijanjikan keistimewaan walau sekalipun tak pernah bertemu dengan baginda Rasul saw..
Wahai anak adam, tak rindukah engkau dengan sosoknya?
Tak inginkah kau sanjung ibumu dengan perlakuan Uwais?
Ia tak dikenal banyak orang, pemuda miskin, ditertawakan banyak orang, diolok-olok, ia dituduh sebagai tukang membujuk dan pencuri,
Namun Allah Maha Tau,
Uwais persembahkan kepahitan dunianya untuk Ibu dengan persembahan terindah, Keikhlasan..


Berapa kali kau cium kening dan pipi Ibu?
Berapa kali kau pijit kaki Ummi?
Berapa kali dengan penuh senyum ceria kau laksanakan Perintah Sang Bunda?
Berapa kali kau cium tangan Emak?
Berapa kali kau beri hadiah pada Simbok?
       Bukan.. bukan kalung emas berlian, bukan cincin, bukan mobil mewah, bukan rumah megah,
Cukup Doa dan kesholihan..
       Mempersembahkan untaian Surga surah Ar-Rahman untuk Bunda,
Berhijrah menjadi bidadari-biadari yang sopan menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin,
Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan,
Di dalam surga-surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik,
(Bidadari-bidadari) yang jelita, putih bersih dipingit dalam rumah,
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Kemudian kuingat kembali tentang kisah Bunda menjagaku dalam rahimnya, dengan kondisi mual, terkulai lemas tak surut tekadnya,
Dalam kesunyian malam berkhalwat dengan Sang Maha Rahman, memohon untuk menjadikan kita bidadari-bidadari Surga-Nya kelak,
Setiap malam kegelisahan menyertai hatinya, kesenduan menghiasi matanya, menantikan tangisan kita menggetarkan dunia,
       Engkau tau kawan betapa berkecamuk hatinya, betapa hancur dirinya ketika kita hadir ke dunia tanpa tangis, kau tau betapa remuk redam seolah seisi dunia menghimpit dirinya?
Pernahkah kau rasakan hal yang sama pada bunda?

Bunda,
Aku ini hanya butiran debu di antara bentangan gurun pasir,
Cintaku padamu hanya sekelumit dari cinta yang kau berikan padaku,
Kau mohonkan kebahagiaanku dalam sujud panjang di malam-malammu,
Kau pancingkan rizqiku dalam dhuhamu,
Kau ajari aku menahan diri dengan puasamu,
Kau sejukkanku dengan lantunan ayat-ayat dari bibirmu,
Dalam sesak kau mengais remahan cinta untukku, dan belum mampu kubalas apapun itu,
       Hadiah terindah bagimu adalah kesholihanku,
Menjadi bidadari surga yang ada dalam doamu,
       Mengukir secercah senyum di wajahmu,
Melontar senyum manis di hadapanmu,
       Dahulu kau tuntun aku dengan sholatmu,
Maka kini, izinkan aku menuntunmu ke Surga bersamaku,

Bunda..
Izinkan ku kirim Cinta Surga ini pada Sang Maha Rahman