Seolah berjalan seorang diri, minder, rendah diri,
berkecil hati, dan takut, mungkin hanya rasa-rasa semacam itu saja yang ia
miliki. Badannya kurus kering, kecil, pendek, dan layu. Suatu ketika, kesunyian
seakan hendak menelannya ketika ia sedang berdiri tampak merenung di sudut
sebuah ruangan, nampaknya ia bagai berada dalam ruang kosong, bergelut dengan
isi kepalanya sendiri.
“Tazkia, melamun saja
kerjamu ini,” sapa seorang gadis berparas elok, berkerudung biru, busananya nampak
sopan, rapi, dan anggun. Mungkin dia lah satu-satunya orang yang bisa diajak
dan mengajak Tazkia bicara, meskipun tak sering juga karena ia sudah tidak
sering berada di kampus. Sarah, gadis dewasa berparas manis.
“ Mbak Sarah, maaf.
Saya tak tau harus melakukan pekerjaan apa,” Tazkia menjawab masih sedikit
gelagapan karena kaget. Dalam hiruk pikuk sebuah event perkemahan remaja
muslimah, ia bahkan tak merasakan sedikit pun suasana ramai mengisi hatinya.
“ Mari ikut..” Sarah
hanya menyuruh Tazkia mengikuti dirinya sampai di area registrasi peserta, “
Kau lihat teman-temanmu di sana?”
Tazkia hanya mengangguk
pelan, tanda tak paham jawaban apa yang diharapkan Sarah.
Sarah tersenyum, “
Mereka semua sama denganmu. Sama-sama sedang tidak bahagia.”
“ Kenapa mereka tidak
bahagia? Siapa orang di jalan dakwah ini yang tidak bahagia ketika mereka bisa
menjadi aktivis yang dapat diandalkan? Bukankah mereka punya semua itu?”
“ Lihat Irene? Dia yang
selalu kita andalkan. Coba kau perhatikan raut wajahnya?”
“ Nampak lelah? Merah
dan….. apa itu berarti dia tidak bahagia?” Tazkia berusaha menanggapi dengan
suaranya yang tetap rendah.
Seraya tertawa kecil
Sarah menjawab, “ Sama. Kau pun tak punya senyum. Kenapa sejak tadi kau murung?
Kenapa tak kau coba hibur saudara-saudaramu itu?”
“ Mana bisa aku
menghibur mereka, aku bahkan tak dianggap ada. Aku tidak sehebat mereka,”
jawabnya lirih sambil merunduk takut.
Sarah hanya tersenyum
dan menepuk bahu Tazkia, lalu berlalu meninggalkannya membiarkan Tazkia
berpikir. Mata Tazkia terarah lurus pada teman-temannya yang sedang kewalahan
menyelesaikan tugas-tugas lapangan.
***
Tazkia tak melepas pandangannya dari aktivitas Irene.
Irene justru selama ini mungkin tak pernah memandang keberadaan Tazkia karena
bisa dikatakan gadis berperawakan kecil ini tak begitu smart sepertinya. Mungkin
beberapa kali Tazkia pernah mencoba mengajak Irene bicara, namun sepertinya
Irene tak begitu tertarik. Beberapa kali pula Tazkia mengirimkan sms untuk
mendekatkan diri dengan Irene, namun tanggapannya juga taak seperti yang
diharapkan, kadang “ga”, kadang “y” dan sebagainya seperti yang biasa digunakan orang marah untuk
menjawab pesan, bahkan kadang tak ada jawaban.
Irene nampak begitu
sibuk, berjalan kesana kemari mencari berkas, mengkoordinir acara, sampai
senyum tersembunyi rapat di balik wajahnya.
“ Ren, kenapa? Ada yang
bisa ku bantu?” Tazkia menawarkan segurat senyum.
“ Nggak usah. Misi
dong.”
Irene berlalu begitu
saja. Tazkia terdiam, tertunduk lesu, namun tetap berusaha berdiri tegak dengan
senyum manis di wajah kecilnya.
Irene nampak begitu
lelah, sejenak ia duduk menyandar pada tiang untuk mengurangi rasa lelahnya. Ia
memandangi kondisi teman-teman di sekelilingnya, nampaknya mereka begitu
kelelahan, kecuali satu orang, Tazkia. Matanya mendelik memandang Tazkia yang
saat itu sedang duduk membawa secarik kertas dan pena. Tazkia memang memiliki
hoby melukis, namun tak ada yang mengetahuinya di sini. Tiap kali Tazkia
mengeluarkan kertas khusus dan pena nya, orang yang melihat hanya berpikir
Tazkia si gadis tertutup yang hoby corat-coret mengasingkan diri. Sedikit kesal
melihat Tazkia, Irene membuang muka dan beranjak kembali pada tugas-tugasnya.
Malam ini mungkin malam
yang ditunggu, sedikit untuk melepas penat, karena malam ini para peserta akan
menampilkan pertunjukan menarik dari tiap regu masing-masing. Irene
mempersiapkan diri untuk memandu acara malam ini. Dia nampak begitu semangat
dalam acara mala mini, ia membuka acara dengan penampilan yang spektakuler dan
mempesona.
***
Usai juga tiga hari agenda yang cukup memberi motivasi
pada remaja muslimah itu, setiap panitia nampak begitu kelelahan. Bagaimana
tidak, mereka bekerja luar biasa tanpa kenal istirahat, karena seharusnya
sekecil apapun yang mereka kerjakan, semua itu di dedikasikan karena ridho
Allah.
“ Irene sudah makan?”
Sekali lagi Tazkia mencoba memberi Irene perhatian.
“ Masih repot. Awas,”
sambil menghela Tazkia dari depan jalannya.
Sakit fisik mungkin tak
terasa, namun mungkin ada sedikit kesedihan yang menggores hati Tazkia. Irene
bergegas membereskan perlengkapan dan sampah yang berserakan, lagi-lagi ia
melihat Tazkia duduk santai dengan kertas dan pena nya.
Irene kesana kemari
membersihkan sampah yang berserakan di setiap ujung lapangan. Berat bak sampah
mungkin tak seberapa, namun karena tenaganya sudah terkuras selama tiga hari ia
tak mampu mengangkatnya seorang diri, sampai seseorang membantunya mengangkat
dan membuangnya ke pembuangan akhir. Usai beres-beres, seluruh panitia bergegas
pulang karena mereka butuh istirahat. Berjalan hendak pulang, Tazkia menabrak
Irene.
“ Aduh.. jalan
pelan-pelan bisa kan!” Irene mungkin terlalu lelah untuk berkata lembut.
“ Maaf Ren, aku cuma bisa ngasih itu.
Assalamu’alaykum,” dan segera berlalu dari hadapan Irene.
***
Irene melempar tas nya ke atas kasur
dan menjatuhkan badannya yang sudah tak berasa. Baru saja menghela nafas
panjang hendak menutup mata, ia melihat lipatan kertas terselip di tas bagian
depan. Dibukanya dengan perasaan curiga, sepertinya corak kertas itu tak asing
di mata Rene. Dibuka lipatan perlahan dan ia melihat gambar karikatur dengan
kenampakan dua orang gadis berhadapan, “
ini aku…. Dan Tazkia?”
![]() |
![]() |
||

![]() |
![]() |
||

Irene baru menyadari sesuatu dan tersenyum, meskipun
kemudian ia menutup matanya sambil meneteskan air mata. Kini isi kepalanya
sedang diganggu oleh pikiran tentang Tazkia yang berusaha mengajak dirinya
menikmati apapun yang ia lakukan walau sedang lelah, dan ia teringat tangan
kecil yang membantunya mengangkat bak sampah, yang bahkan saat itu sama sekali
tak ditoleh olehnya, Tazkia. ”Sungguh
sederhana apa yang dilakukannya, tapi kini aku mengerti.” Irene memejamkan
matanya dan tersenyum.



