Sesudah
berpamitan sambil menciumi sang Ibu, berangkatlah ia menuju Madinah,
Menempuh perjalanan panjang 400 kilometer
dari Yaman kawan, 400 kilometer,
Medan ganas
dilaluinya..
Tak peduli penyamun Gurun Pasir, bukit
curam, luasnya gurun pasir yang mampu menyesatkan, terik matahari yang
menyengat ubun-ubun di kala siang, dan dingin yang merasuk tulang di kala
malam,
400 kilometer ia lalui, demi bertemu
Baginda Rasulullah saw yang dicintainya,
Meninggalkan
sang ibu yang renta dengan berat hati, penuh cinta dan doa,
Uwais Al Qorni Sang Penghuni Langit..
Pemuda yang
memberikan kecintaan terbesar kepada Sang Ibu yang tua renta, dijanjikan
keistimewaan walau sekalipun tak pernah bertemu dengan baginda Rasul saw..
Wahai anak
adam, tak rindukah engkau dengan sosoknya?
Tak
inginkah kau sanjung ibumu dengan perlakuan Uwais?
Ia
tak dikenal banyak orang, pemuda miskin, ditertawakan banyak orang,
diolok-olok, ia dituduh sebagai tukang membujuk dan pencuri,
Namun Allah
Maha Tau,
Uwais
persembahkan kepahitan dunianya untuk Ibu dengan persembahan terindah,
Keikhlasan..
Berapa kali
kau cium kening dan pipi Ibu?
Berapa kali
kau pijit kaki Ummi?
Berapa kali
dengan penuh senyum ceria kau laksanakan Perintah Sang Bunda?
Berapa kali
kau cium tangan Emak?
Berapa kali
kau beri hadiah pada Simbok?
Bukan.. bukan kalung emas berlian, bukan
cincin, bukan mobil mewah, bukan rumah megah,
Cukup Doa
dan kesholihan..
Mempersembahkan untaian Surga surah
Ar-Rahman untuk Bunda,
Berhijrah
menjadi bidadari-biadari yang sopan menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka
(penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin,
Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan,
Di dalam surga-surga itu ada bidadari-bidadari yang
baik-baik lagi cantik-cantik,
(Bidadari-bidadari) yang jelita, putih bersih dipingit
dalam rumah,
Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?
Kemudian kuingat kembali tentang kisah Bunda menjagaku
dalam rahimnya, dengan kondisi mual, terkulai lemas tak surut tekadnya,
Dalam kesunyian malam berkhalwat
dengan Sang Maha Rahman, memohon untuk menjadikan kita bidadari-bidadari
Surga-Nya kelak,
Setiap
malam kegelisahan menyertai hatinya, kesenduan menghiasi matanya, menantikan
tangisan kita menggetarkan dunia,
Engkau tau kawan betapa berkecamuk
hatinya, betapa hancur dirinya ketika kita hadir ke dunia tanpa tangis, kau tau
betapa remuk redam seolah seisi dunia menghimpit dirinya?
Pernahkah
kau rasakan hal yang sama pada bunda?
Bunda,
Aku ini
hanya butiran debu di antara bentangan gurun pasir,
Cintaku
padamu hanya sekelumit dari cinta yang kau berikan padaku,
Kau
mohonkan kebahagiaanku dalam sujud panjang di malam-malammu,
Kau
pancingkan rizqiku dalam dhuhamu,
Kau
ajari aku menahan diri dengan puasamu,
Kau
sejukkanku dengan lantunan ayat-ayat dari bibirmu,
Dalam sesak
kau mengais remahan cinta untukku, dan belum mampu kubalas apapun itu,
Hadiah terindah bagimu adalah
kesholihanku,
Menjadi
bidadari surga yang ada dalam doamu,
Mengukir secercah senyum di wajahmu,
Melontar
senyum manis di hadapanmu,
Dahulu kau tuntun aku dengan sholatmu,
Maka kini,
izinkan aku menuntunmu ke Surga bersamaku,
Bunda..
Izinkan ku
kirim Cinta Surga ini pada Sang Maha Rahman





