Total Tayangan Halaman

Senin, 29 September 2014

Pendidikan Berbasis Proses (MAN 1 Boyolali)



Pendidikan memiliki peranan besar dalam misi membangun generasi bangsa yang taat asas. Boyolali merupakan salah satu kota yang memiliki daya saing cukup tinggi dalam bidang pendidikan, baik di bidang akademik maupun non akademik. Keberhasilan semacam ini tidak mampu diraih oleh lembaga pendidikan tanpa sebuah sistem dan manajemen yang unggul. Lembaga pendidikan yang baik tidak sekedar terletak pada input dan output yang unggul, melainkan lebih menitik beratkan pada proses yang diperoleh dari sistem dan manajemen unggul tersebut.
MAN 1 Boyolali merupakan salah satu lembaga pendidikan formal di Boyolali yang memiliki sistem unggul dan manajemen yang rapi. Hal ini dapat dilihat dari budaya pembentukan akhlak dan karakter peserta didik melalui pembimbingan dan pemantauan kedisiplinan yang tegas dan mendidik seperti tadarus Al-Qur’an setiap pagi, pemantauan rutin kehadiran peserta didik melalui presensi keliling yang berlangsung setiap hari, budaya saling bersalam yang tak dilewatkan setiap pagi oleh guru-guru dengan menyambut peserta didik di depan gerbang sekolah sehingga memberikan efek saling menghargai dan menghormati, memberikan punishment yang mendidik pada peserta didik yang melanggar peraturan seperti membaca Al-Qur’an dalam pengawasan guru BP dalam jangka waktu yang ditentukan dan memberikan dukungan moril yang mampu memberikan motivasi kepada peserta didik agar semangat dalam menuntut ilmu. Keadaan mushola yang selalu ramai dan berdesakan setiap waktu dhuhur juga menjadi salah satu cerminan kedisiplinan dan ketaatan pada agama maupun bangsa.
Adanya manajemen yang unggul tak lepas dari peranan fungsi pengelola sekolah baik kepala sekolah, guru, maupun karyawan. Keberhasilan manajemen dicapai ketika kepala sekolah mampu melaksanakan tujuh fungsinya dengan baik yaitu sebagai Edukator, Manajer, Administrator, Supervisor, Pemimpin/ Leader, Inovator, dan Motivator. Di samping itu, peranan guru juga memiliki andil yang sangat besar dalam pelaksanaan manajemen sekolah. Seorang guru yang baik tidak sekedar dituntut memiliki hardskill melainkan juga softskill yang mampu mendukung pencapaian outcome yang lebih maksimal. Berdasarkan pengamatan, tidak banyak tenaga kependidikan yang mengaplikasikan softskill untuk memajukan lembaga pendidikan melainkan sekedar mengerahkan hardskill sebagai modal pembelajaran maupun pengelolaan sekolah. MAN 1 Boyolali memiliki tenaga kependidikan yang kaya akan softskill, sehingga kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler pun maju di bawah asuhan tenaga kependidikan internal. Hal ini menunjukkan bahwa proses di dalam lembaga berlangsung secara dinamis dan sinergis. Sebagai salah satu contoh, diselenggarakannya Diklat Jurnalistik untuk siswa siswa MAN 1 Boyolali yang kemudian membentuk sebuah komunitas jurnalist sekolah yang memiliki produk, sedangkan hal-hal semacam ini tidak banyak ditemui pada lembaga pendidikan lain. Ditemukannya keseimbangan antara akademik dan non akademik, hardskill dan softskill, religious dan nasionalis, sinergisitas antara pendidik dan peserta didik merupakan salah satu nilai plus dalam sebuah lembaga pendidikan, khususnya di MAN 1 Boyolali. Lembaga pendidikan yang mengedepankan proses berhak untuk memperoleh sebutan sebagai lembaga pendidikan sejati.