Total Tayangan Halaman

Sabtu, 12 Juli 2014

Mahasiswa Berprestasi, Ujung Tombak Kebangkitan Bangsa



Generasi muda pada setiap bangsa merupakan tiang kebangkitan. Pada setiap kebangkitan, mereka adalah rahasianya dan pada setiap gagasan, mereka adalah pembawa benderanya. (Hasan Al Banna)
Tersimpan sebuah petuah besar dalam petikan kalimat Asy-Syahid Hasan al Banna di atas, bahwasanya pada setiap bangsa memiliki generasi yang akan mengobarkan semangat kebangkitan, di mana mereka adalah para generasi muda. Namun untuk membangunkan semangat kebangkitan, sebuah bangsa membutuhkan generasi muda yang memiliki ideologi, wawasan, dan keteguhan. Dari sekian banyak generasi muda, yang terdiri dari pemuda-pemuda jalanan, pemuda terlatih dan pemuda terdidik, ada satu segmen yang sekiranya lebih mampu mengemban amanah kebangkitan bangsa yaitu pemuda terdidik. Mahasiswa merupakan generasi muda terdidik yang memiliki ideologi yang kuat, wawasan luas, dan teguh terhadap prinsip. Dengan modal dasar ini, mahasiswa menjadi pelopor perubahan bangsa. Dalam buku Risalah Pergerakan Pemuda Islam dikemukakan beberapa alasan mengapa pemuda/ mahasiswa menjadi pasukan terdepan dalam membangun kemajuan bangsa, di antaranya:
1.      Pemuda adalah kemampuan, tekad, keberanian, dan kesabaran menghadapi tantangan.
2.      Pemuda adalah unsur kokoh yang mampu belajar keras, menguasai dan menghasilkan pemikiran serta pembaharuan.
3.      Pemuda adalah pelopor dan sarana perubahan.
Mahasiswa menempati posisi strategis dalam memajukan bangsa, karena mahasiswa yang berwawasan luas dan memiliki pengalaman mampu mengembangkan suatu hal secara dinamis, ditambah kemampuan mengembangkan diri serta memandang jauh ke depan menyebabkan mereka mampu berpikir objektif dan positif.
Namun dari sekian banyak mahasiswa, tidak semuanya memiliki kapabilitas seperti yang dipaparkan di atas. Hanya mahasiswa-mahasiswa berprestasi yang mampu mengemban amanah ini, baik prestasi akademik ataupun non-akademik.
Pendidikan ini tidak terlepas dari prestasi dalam bentuk score atau nilai. Sebagian mahasiswa mengejar nilai setinggi-tingginya sebagai prestasi mereka, sebagian yang lain rajin belajar untuk mencapai pemahaman yang matang. Keduanya merupakan prestasi yang gemilang, namun ada prestasi lain yang jauh lebih berarti daripada sekedar itu, yaitu bagaimana seorang mahasiswa mampu memahamkan mahasiswa-mahasiswa lain, minimal dalam lingkup kelas. Bagaimana mahasiswa tidak pandai seorang diri, tidak memiliki ilmu itu sendiri, namun mampu mensosialisasikan kepada teman-temannya. Bagaimana seorang mahasiswa mampu memberikan motivasi kepada mahasiswa lain yang memiliki kelemahan dari segi percaya diri. Bagaimana mahasiswa memberikan pancingan untuk membuat teman-teman diskusinya juga mampu menguasai materi yang ada. Dengan pencapaian ini, secara otomatis target terhadap dirinya sendiri sudah tercapai, namun ia memiliki satu point lebih yaitu memahamkan teman-teman seperjuangannya.
Untuk memajukan bangsa, seseorang tidak bisa melakukannya seorang diri. Ibaratnya dalam konsep beragama, kurang afdhol jika seseorang sholih sendirian tanpa mengajak saudara-saudaranya kepada jalan kesholihan. Begitu pula dalam konsep membangun bangsa, umpamakan jika hanya ada satu orang pemuda yang ingin memajukan bangsa, maka ia akan kesulitan untuk melangkah. Ia akan kesulitan akan memulai dari mana dan menjalankan dengan siapa. Namun akan berbeda keadaannya jika ada sekian orang pemuda yang mampu diajak untuk memajukan bangsa ini, maka kita sudah memiliki sebuah armada untuk memulai pekerjaan bersama-sama. Tugas memajukan bangsa ini memiliki banyak lini, tentu pula membutuhkan banyak sumber daya manusia yang akan melaksanakannya.
Maka ada beberapa hal penting yang perlu diinternalisasikan dalam diri mahasiswa:
1.      Mahasiswa adalah ujung tombak kemajuan bangsa
2.      Mahasiswa tidak mencari kehidupan dengan score, melainkan prestasi gemilang dengan pemahamannya yang menyeluruh
3.      Mahasiswa adalah calon-calon pemimpin yang harus memiliki keseimbangan hardskill dan softskill
4.      Mahasiswa tidak hanya memusatkan perhatian pada prestasi diri sendiri, namun juga memperhatikan pengembangan prestasi mahasiswa lain guna bersama-sama membangun bangsa
Di samping hal-hal di atas, untuk membangun sebuah bangsa yang maju memerlukan generasi-generasi penerus yang memahami dan memaknai keluhuran nilai-nilai yang dimiliki bangsa Indonesia sendiri. Dewasa ini tak sedikit generasi berprestasi yang menggadaikan keluhuran nilai yang dimiliki bangsa kita, dan menukarnya dengan etnis-etnis barat yang menghilangkan jati diri bangsa Indonesia seperi mengadopsi ideologi-ideologi komunisme, kapitalisme, materialisme, pragmatisme, dan sebagainya. Terlebih lagi yang sudah merebak di seluruh penjuru negeri adalah pola hidup generasi muda yang semakin menampakkan hedonisme. Nilai-nilai budaya yang santun tak lagi dihiraukan, yang seharusnya ia menjadi jiwa moral bangsa. Oleh karena itu bangsa ini memerlukan generasi muda, dalam konteks ini diutamakan terhadap mahasiswa hendaknya memperhatikan beberapa hal:
1.      Mengokohkan pondasi keagamaan, baik dari segi ketauhidan maupun sikap sosial
2.      Mengembangkan daya kritis terhadap segmen-segmen perubahan
3.      Memegang teguh prinsip dan ideologi bangsa
4.      Melestarikan kebudayaan Indonesia yang menjadi jati diri bangsa
5.      Memiliki semangat juang yang tinggi
Bercermin pada hari bersejarah bagi gerakan mahasiswa Mesir dan seluruh dunia, 9 februari 1946 saat ribuan pelajar dan mahasiswa melakukan demonstrasi besar-besaran menyuarakan rakyat Mesir, menuntut istana dan pemerintah memutuskan negosiasi dengan penjajah, membatalkan perjanjian tahun 1936 yanng penuh kedzaliman. Harapannya ke depan mahasiswa Indonesia juga memiliki kesadaran yang tinggi dalam membangun bangsa yang maju dan terlepas dari pengaruh ideologi-ideologi yang menggerogoti moral bangsa. Memulai dari hal terkecil yaitu niat menuntut ilmu dengan mengharap ridho Allah, memahami dan memaknai ilmu untuk memberikan kontribusi terbaik bagi bangsa.


Fantika_MV