Generasi muda pada setiap bangsa
merupakan tiang kebangkitan. Pada setiap kebangkitan, mereka adalah rahasianya
dan pada setiap gagasan, mereka adalah pembawa benderanya. (Hasan Al Banna)
Tersimpan
sebuah petuah besar dalam petikan kalimat Asy-Syahid Hasan al Banna di atas,
bahwasanya pada setiap bangsa memiliki generasi yang akan mengobarkan semangat
kebangkitan, di mana mereka adalah para generasi muda. Namun untuk membangunkan
semangat kebangkitan, sebuah bangsa membutuhkan generasi muda yang memiliki ideologi,
wawasan, dan keteguhan. Dari sekian banyak generasi muda, yang terdiri dari
pemuda-pemuda jalanan, pemuda terlatih dan pemuda terdidik, ada satu segmen
yang sekiranya lebih mampu mengemban amanah kebangkitan bangsa yaitu pemuda
terdidik. Mahasiswa merupakan generasi muda terdidik yang memiliki ideologi
yang kuat, wawasan luas, dan teguh terhadap prinsip. Dengan modal dasar ini,
mahasiswa menjadi pelopor perubahan bangsa. Dalam buku Risalah Pergerakan
Pemuda Islam dikemukakan beberapa alasan mengapa pemuda/ mahasiswa menjadi
pasukan terdepan dalam membangun kemajuan bangsa, di antaranya:
1.
Pemuda adalah kemampuan, tekad,
keberanian, dan kesabaran menghadapi tantangan.
2.
Pemuda adalah unsur kokoh yang mampu
belajar keras, menguasai dan menghasilkan pemikiran serta pembaharuan.
3.
Pemuda adalah pelopor dan sarana
perubahan.
Mahasiswa
menempati posisi strategis dalam memajukan bangsa, karena mahasiswa yang
berwawasan luas dan memiliki pengalaman mampu mengembangkan suatu hal secara
dinamis, ditambah kemampuan mengembangkan diri serta memandang jauh ke depan
menyebabkan mereka mampu berpikir objektif dan positif.
Namun
dari sekian banyak mahasiswa, tidak semuanya memiliki kapabilitas seperti yang
dipaparkan di atas. Hanya mahasiswa-mahasiswa berprestasi yang mampu mengemban
amanah ini, baik prestasi akademik ataupun non-akademik.
Pendidikan
ini tidak terlepas dari prestasi dalam bentuk score atau nilai. Sebagian
mahasiswa mengejar nilai setinggi-tingginya sebagai prestasi mereka, sebagian
yang lain rajin belajar untuk mencapai pemahaman yang matang. Keduanya merupakan
prestasi yang gemilang, namun ada prestasi lain yang jauh lebih berarti
daripada sekedar itu, yaitu bagaimana seorang mahasiswa mampu memahamkan
mahasiswa-mahasiswa lain, minimal dalam lingkup kelas. Bagaimana mahasiswa
tidak pandai seorang diri, tidak memiliki ilmu itu sendiri, namun mampu
mensosialisasikan kepada teman-temannya. Bagaimana seorang mahasiswa mampu
memberikan motivasi kepada mahasiswa lain yang memiliki kelemahan dari segi
percaya diri. Bagaimana mahasiswa memberikan pancingan untuk membuat
teman-teman diskusinya juga mampu menguasai materi yang ada. Dengan pencapaian
ini, secara otomatis target terhadap dirinya sendiri sudah tercapai, namun ia
memiliki satu point lebih yaitu memahamkan teman-teman seperjuangannya.
Untuk
memajukan bangsa, seseorang tidak bisa melakukannya seorang diri. Ibaratnya
dalam konsep beragama, kurang afdhol jika seseorang sholih sendirian tanpa
mengajak saudara-saudaranya kepada jalan kesholihan. Begitu pula dalam konsep
membangun bangsa, umpamakan jika hanya ada satu orang pemuda yang ingin
memajukan bangsa, maka ia akan kesulitan untuk melangkah. Ia akan kesulitan
akan memulai dari mana dan menjalankan dengan siapa. Namun akan berbeda
keadaannya jika ada sekian orang pemuda yang mampu diajak untuk memajukan
bangsa ini, maka kita sudah memiliki sebuah armada untuk memulai pekerjaan
bersama-sama. Tugas memajukan bangsa ini memiliki banyak lini, tentu pula
membutuhkan banyak sumber daya manusia yang akan melaksanakannya.
Maka
ada beberapa hal penting yang perlu diinternalisasikan dalam diri mahasiswa:
1.
Mahasiswa adalah ujung tombak kemajuan
bangsa
2.
Mahasiswa tidak mencari kehidupan dengan
score, melainkan prestasi gemilang dengan pemahamannya yang menyeluruh
3.
Mahasiswa adalah calon-calon pemimpin
yang harus memiliki keseimbangan hardskill
dan softskill
4.
Mahasiswa tidak hanya memusatkan
perhatian pada prestasi diri sendiri, namun juga memperhatikan pengembangan
prestasi mahasiswa lain guna bersama-sama membangun bangsa
Di
samping hal-hal di atas, untuk membangun sebuah bangsa yang maju memerlukan
generasi-generasi penerus yang memahami dan memaknai keluhuran nilai-nilai yang
dimiliki bangsa Indonesia sendiri. Dewasa ini tak sedikit generasi berprestasi
yang menggadaikan keluhuran nilai yang dimiliki bangsa kita, dan menukarnya dengan
etnis-etnis barat yang menghilangkan jati diri bangsa Indonesia seperi
mengadopsi ideologi-ideologi komunisme, kapitalisme, materialisme, pragmatisme,
dan sebagainya. Terlebih lagi yang sudah merebak di seluruh penjuru negeri
adalah pola hidup generasi muda yang semakin menampakkan hedonisme. Nilai-nilai
budaya yang santun tak lagi dihiraukan, yang seharusnya ia menjadi jiwa moral
bangsa. Oleh karena itu bangsa ini memerlukan generasi muda, dalam konteks ini
diutamakan terhadap mahasiswa hendaknya memperhatikan beberapa hal:
1.
Mengokohkan pondasi keagamaan, baik dari
segi ketauhidan maupun sikap sosial
2.
Mengembangkan daya kritis terhadap
segmen-segmen perubahan
3.
Memegang teguh prinsip dan ideologi
bangsa
4.
Melestarikan kebudayaan Indonesia yang
menjadi jati diri bangsa
5.
Memiliki semangat juang yang tinggi
Bercermin
pada hari bersejarah bagi gerakan mahasiswa Mesir dan seluruh dunia, 9 februari
1946 saat ribuan pelajar dan mahasiswa melakukan demonstrasi besar-besaran
menyuarakan rakyat Mesir, menuntut istana dan pemerintah memutuskan negosiasi
dengan penjajah, membatalkan perjanjian tahun 1936 yanng penuh kedzaliman.
Harapannya ke depan mahasiswa Indonesia juga memiliki kesadaran yang tinggi
dalam membangun bangsa yang maju dan terlepas dari pengaruh ideologi-ideologi
yang menggerogoti moral bangsa. Memulai dari hal terkecil yaitu niat menuntut
ilmu dengan mengharap ridho Allah, memahami dan memaknai ilmu untuk memberikan
kontribusi terbaik bagi bangsa.
Fantika_MV