Menurut Gerald Corey, dalam bukunya
“Teori dan Praktik Konseling dan Psikoterapi”, ia menyebutkan 8 pendekatan
konseling, yaitu Pendekatan Psikoanalitik, Pendekatan Eksistensial-Humanistik,
Pendekatan Client-Centered, Terapi Gestalt, Analisis Transaksional, Terapi
Tingkah Laku, Terapi Rasional-Emotif, Terapi Realitas.
Pendekatan psikoanalitik merupakan
terapi yang bertujuan membentuk kembali struktur karakter individual dengan
cara membuat kesadaran yang tak disadari dalam diri klien, dalam arti lain
terapis membuat klien mengungkapkan perasaan dan pikiran bawah sadar yang
mempengaruhi perilaku sadar individu. Bentuk terapi ini menekankan pada
kenyataan bahwa peristiwa dari masa kecil kita, perasaan bawah sadar kita,
pikiran kita memainkan peran penting dalam penyakit jiwa kita. Terapis membuat klien
mengungkapkan tentang pikiran, perasaan, mimpi, fantasi, dan aspek lain dari
pikiran yang melacak konflik bawah sadar yang memicu masalah mental. Misal yang
terjadi pada seorang wanita yang berperilaku dan berpenampilan layaknya seorang
laki-laki (tomboy), biasanya hal ini dipengaruhi oleh angan-angan masa kecilnya
menjadi seorang jagoan, atau terpengaruh film yang dilihatnya saat masih kecil
sehingga karakter itu dengan mudah memasuki alam bawah sadar klien.
Pendekatan Eksistensial-Humanistik
merupakan terapi yang bertujuan memperluas kesadaran diri seseorang untuk
menentukan arah kehidupannya sendiri yang berdasar pada kebebasan dan tanggung
jawab, menyadari potensi yang ada pada dirinya, membuka diri, bertindak sesuai
kemampuannya, dan menghadapi kecemasan bahwa klien merupakan korban kekuatan
atau pikiran dari luar dirinya. Semakin kuat kesadaran diri seseorang semakin
besar pula kebebasannya dan seseorang bertanggungjawab atas hidup dan
keberadaannya. Tugas utama terapis yaitu berusaha memahami keberadaan klien
sehingga klien pun mampu mengakui keberadaan dirinya dalam dunia yang
dimilikinya. Terapis mengakui kebebasan klien untuk mengungkapkan pandangan,
mengembangkan tujuan-tujuan dan nilainya sendiri. Berusaha mengurangi
kebergantungan klien dan meningkatkan kebebasan klien juga mempengaruhi
perkembangan psikis klien. Hal ini biasanya terjadi pada seseorang yang minder,
berkecil hati. Maka terapis harus mampu mengembalikan kepercayaan klien pada
kemampuannya dengan cara mengakui kemampuan dan keunggulan klien dalam sebuah
bidang. Terapis harus mampu membuat klien yakin pada dirinya sendiri bahwa apa
yang dia lakukan tidak bergantung pada kemampuan dan penilaian orang lain.
Pendekatan Client-Centered merupakan
terapi yang bertujuan meningkatkan kepercayaan klien terhadap kemampuan dirinya
dan meyakinkan klien bahwa dalam dirinya terdapat sumber yang diperlukan untuk
mengembangkan diri dan menyelesaikan masalah yang ada pada dirinya. Konsep
pokok yang mendasari menyangkut konsep-konsep mengenai diri (Self), aktualisasi diri, teori
kepribadian, dan hakikat kecemasan. Menurut teori ini, orang dikatakan sehat
ketika dia dapat berkembang penuh dan mengalami proses hidupnya tanpa hambatan
yang ditandai dengan terbuka pada pengalaman, menghayati setiap peristiwa
secara menyeluruh, dan percaya terhadap pertimbangan dan pilihan diri sendiri.
Melalui penerimaan terhadap klien, terapis membantunya untuk menyatakan,
mengkaji dan memadukan pengalaman-pengalaman sebelumnya ke dalam konsep diri. Terapis
menciptakan suasana yang kondusif bagi klien untuk mengeksplorassi diri
sehingga dapat mengenal hambatan perkembangan dirinya. Klien dikatakan sembuh
apabila kepribadiannya terintegrasi, mampu menyelesaikan masalah yang dihadapinya
atas tanggung jawab diri, mampu memandang fakta lama dengan pandangan baru,
menerima segala kelebihan dan kekurangan diri sendiri, menentukan tujuan hidup
atas tanggung jawabnya sendiri. Pada dasarnya terapi ini hamper sama dengan
terapi Eksistensial-Humanistik, namun dalam hal ini klien hanya membutuhkan
keyakinan terhadap kemampuan dirinya, klien tidak terlalu membutuhkan pengakuan
dari dunia luar untuk percaya pada kemampuannya melakukan sesuatu.
Terapi Gestalt merupakan konseling yang bekerja di atas
prinsip kesadaran yang fokus pada pengalaman di sini dan sekarang karena menurut buku M.A Subandi
(psikoterapi, hal. 96) kesadaran meliputi:
1.
Kesadaran
akan efektif apabila didasarkan pada dan disemangati oleh kebutuhan yang ada
saat ini yang dirasakan oleh individu
2.
Kesadaran
tidak komplit tanpa pengertian langsung tentang kenyataan suatu situasi dan
bagaimana seseorang berada di dalam situasi tersebut.
3.
Kesadaran
itu selalu ada di sini dan saat ini. Kesadaran adalah hasil penginderaan, bukan
sesuatu yang mustahil terjadi.
Terapi
ini mengharuskan individu menemukan jalannya sendiri dan menerima tanggung
jawab pribadi jika mereka berharap mencapai kematangan. Ia menekankan
konsep-konsep seperti perluasan kesadaran, penerimaan tindakan pribadi, kesatuan
pribadi dan mengalami cara-cara yang menghambat kesadaran. Menurut pandangan
Gestalt, individu memiliki kesanggupan memikul tanggung jawab pribadi dan hidup
sepenuhnya sebagai pribadi yang terpadu. Terapi Gestalt memiliki sasaran dasar
yaitu menentang klien agar berpindah dari, didukung oleh lingkungan menjadi
didukung oleh diri sendiri, menjadikan pasien tidak bergantung pada orang lain,
menjadikan pasien menemukan sejak awal bahwa dia bisa melakukan banyak hal,
lebih banyak daripada yang dikiranya. Terapis bertugas melakukan sesuatu yang
menunjang klien dalam posisi pemutusan apakah ia akan mengembangkan potensi
dirinya atau tidak. Terapis Gestalt juga memiliki peran penting yaitu memahami
bahasa tubuh kliennya. Teknik-teknik terapi Gestalt ini berisi sekumpulan
teknik atau permainan seperti Permainan Dialog, Latihan Saya Bertanggung Jawab,
Bermain Proyeksi, Permainan Ulangan, Tekhnik Pembalikan.
Analisis
Transaksional merupakan teori kepribadian dan sistem yang terorganisir dari
terapi interaksional. Dalam hal ini klien akan memulai terapinya dengan
membentuk suatu kontrak bersama terapisnya yang akan menspesifikasi area-area
kehidupan yang ingin diubahnya. Terapis bertugas membantu klien memprogram
pribadinya, membantu klien untuk menjadi bebas dalam berbuat, bermain, dan
menjadi orang mandiri dalam memilih apa yang mereka inginkan, membantu klien
mengkaji keputusan yang telah dibuat dan membuat keputusan baru atas dasar
kesadaran. Terapi ini dilakukan pada klien yang sudah mengetahui terdapat
kesalahan-kesalahan dalam tingkah lakunya, namun ia belum mengenali kesalahan
itu dan belum memperoleh solusi atas hal itu. Maka setelah terapi ini, klien
dibantu untuk membuat perencanaan baru yang berdasarkan pada kesadaran dan
pengetahuannya.
Terapi
Tingkah Laku merupakan terapi yang berdasar pada teori belajar dan bertujuan
untuk menyembuhkan psikopatologi dengan cara menguatkan perilaku yang
diinginkan dan menghilangkan perilaku yang tidak diinginkan. Tujuan umum terapi tingkah laku adalah menciptakan
kondisi-kondisi baru sebagai proses belajar. Dasar alasannya ialah bahwa
segenap tingkah laku diperoleh melalui belajar (learned), termasuk tingkah laku yang mal adaptif. Terapis bertugas
untuk mengatasi depresi dan fobia klien. Teknik utama yang digunakan dalam
terapi tingkah laku yaitu Desensitisasi sistematik, Terapi
impolsif dan pembanjiran, Terapi aversi, dan Pengondisian operan. Desentisasi
sistematik dan terapi impolsif
berguna untuk mengatasi fobia seseorang atas sesuatu. Terapi aversi berguna
untuk meredakan gangguan-gangguan perilaku dengan cara memberikan stimulus yang
menyakitkan sampai tingkah laku yang tidak diinginkan hilang. Pengondisian
operan dilakukan dengan cara perkuatan positif, pembentukan respons,
perkuatan intermiten, penghapusan, pencontohan.
Terapi
Rasional-Emotif merupakan aliran psikoterapi yang berlandaskan asumsi bahwa
manusia dilahirkan dengan potensi, baik untuk berpikir rasional dan jujur
maupun untuk berpikir irasional dan jahat. Tujuan psikoterapis ini adalah
menunjukkan kepada klien bahwa verbalisasi-verbalisasi diri mereka telah dan
masih menjadi sumber utama dari gangguan-gangguan emosional yang dialami oleh
mereka. Maka proses terapeutik ini terdiri atas penyembuhan dari irrasionalitas
menjadi rasionalitas. Karena individu pada dasarnya adalah makhluk rasional dan
karena sumber ketidakbahagiaannya adalah irrasionalitas, maka individu bisa
mencapai kebahagiaan dengan belajar berpikir rasional. Terapi rasional-Emotif
memiliki rumus ABC, yang terdiri dari:
A :
Activating Experiences, yaitu pengalaman buruk yang memicu ketidakbahagiaan
B :
Beliefs, yaitu keyakinan irrasional yang merusak kebahagiaan
C :
Consequence, yaitu emosi negative seperti dendam, panik, amarah, dan sebagainya
yang menghambat kebahagiaan
Maka seorang terapis harus melakukan
perlawanan (D : Disputing) terhadap ABC pada diri klien tersebut sehingga klien
dapat merasakan dampak (E : Effect) dari psikologi positif dan keyakinan
rasional.
Terapi
Realitas merupakan terapi yang fokus pada tingkah laku klien sekarang. Terapi
ini tidak terlalu mengungkit-ungkit berkenaan masa lalu klien melainkan
memberikan solusi terhadap hal-hal yang harus dilakukan klien saat ini untuk
mencapai keberhasilan identitas. Terapis berfungsi sebagai model dan guru bagi
klien dalam menghadapi kenyataan hidup serta memenuhi kebutuhan hidupnya namun
tidak merugikan dirinya sendiri dan orang lain. Tujuan terapi ini adalah untuk
membantu klien mencapai otonomi. Di balik semua itu, banyak manusia yang masih
belum mencapai identitas keberhasilannya. Mereka masih belum dapat mencapai
kebutuhan dasar psikologisnya, yaitu kebutuhan untuk mencintai dan dicintai
serta kebutuhan untuk merasakan bahwa ia berguna bagi diri sendiri maupun orang
lain. Menurut terapi realitas, ada lima macam kebutuhan pokok manusia antara
lain kepemilikan, kekuasaan, kebebasan, ketergantungan, dan fisiologis. Dalam
mencapai tujuan hidup ini manusia diatur dengan adanya rambu-rambu yaitu
tanggung jawab, realitas, dan benar.