Total Tayangan Halaman

Sabtu, 05 April 2014

TEORI DAN PRAKTIK KONSELING DAN PSIKOTERAPI – GERALD COREY


 
            Menurut Gerald Corey, dalam bukunya “Teori dan Praktik Konseling dan Psikoterapi”, ia menyebutkan 8 pendekatan konseling, yaitu Pendekatan Psikoanalitik, Pendekatan Eksistensial-Humanistik, Pendekatan Client-Centered, Terapi Gestalt, Analisis Transaksional, Terapi Tingkah Laku, Terapi Rasional-Emotif, Terapi Realitas.
            Pendekatan psikoanalitik merupakan terapi yang bertujuan membentuk kembali struktur karakter individual dengan cara membuat kesadaran yang tak disadari dalam diri klien, dalam arti lain terapis membuat klien mengungkapkan perasaan dan pikiran bawah sadar yang mempengaruhi perilaku sadar individu. Bentuk terapi ini menekankan pada kenyataan bahwa peristiwa dari masa kecil kita, perasaan bawah sadar kita, pikiran kita memainkan peran penting dalam penyakit jiwa kita. Terapis membuat klien mengungkapkan tentang pikiran, perasaan, mimpi, fantasi, dan aspek lain dari pikiran yang melacak konflik bawah sadar yang memicu masalah mental. Misal yang terjadi pada seorang wanita yang berperilaku dan berpenampilan layaknya seorang laki-laki (tomboy), biasanya hal ini dipengaruhi oleh angan-angan masa kecilnya menjadi seorang jagoan, atau terpengaruh film yang dilihatnya saat masih kecil sehingga karakter itu dengan mudah memasuki alam bawah sadar klien.
            Pendekatan Eksistensial-Humanistik merupakan terapi yang bertujuan memperluas kesadaran diri seseorang untuk menentukan arah kehidupannya sendiri yang berdasar pada kebebasan dan tanggung jawab, menyadari potensi yang ada pada dirinya, membuka diri, bertindak sesuai kemampuannya, dan menghadapi kecemasan bahwa klien merupakan korban kekuatan atau pikiran dari luar dirinya. Semakin kuat kesadaran diri seseorang semakin besar pula kebebasannya dan seseorang bertanggungjawab atas hidup dan keberadaannya. Tugas utama terapis yaitu berusaha memahami keberadaan klien sehingga klien pun mampu mengakui keberadaan dirinya dalam dunia yang dimilikinya. Terapis mengakui kebebasan klien untuk mengungkapkan pandangan, mengembangkan tujuan-tujuan dan nilainya sendiri. Berusaha mengurangi kebergantungan klien dan meningkatkan kebebasan klien juga mempengaruhi perkembangan psikis klien. Hal ini biasanya terjadi pada seseorang yang minder, berkecil hati. Maka terapis harus mampu mengembalikan kepercayaan klien pada kemampuannya dengan cara mengakui kemampuan dan keunggulan klien dalam sebuah bidang. Terapis harus mampu membuat klien yakin pada dirinya sendiri bahwa apa yang dia lakukan tidak bergantung pada kemampuan dan penilaian orang lain.
            Pendekatan Client-Centered merupakan terapi yang bertujuan meningkatkan kepercayaan klien terhadap kemampuan dirinya dan meyakinkan klien bahwa dalam dirinya terdapat sumber yang diperlukan untuk mengembangkan diri dan menyelesaikan masalah yang ada pada dirinya. Konsep pokok yang mendasari menyangkut konsep-konsep mengenai diri (Self), aktualisasi diri, teori kepribadian, dan hakikat kecemasan. Menurut teori ini, orang dikatakan sehat ketika dia dapat berkembang penuh dan mengalami proses hidupnya tanpa hambatan yang ditandai dengan terbuka pada pengalaman, menghayati setiap peristiwa secara menyeluruh, dan percaya terhadap pertimbangan dan pilihan diri sendiri. Melalui penerimaan terhadap klien, terapis membantunya untuk menyatakan, mengkaji dan memadukan pengalaman-pengalaman sebelumnya ke dalam konsep diri. Terapis menciptakan suasana yang kondusif bagi klien untuk mengeksplorassi diri sehingga dapat mengenal hambatan perkembangan dirinya. Klien dikatakan sembuh apabila kepribadiannya terintegrasi, mampu menyelesaikan masalah yang dihadapinya atas tanggung jawab diri, mampu memandang fakta lama dengan pandangan baru, menerima segala kelebihan dan kekurangan diri sendiri, menentukan tujuan hidup atas tanggung jawabnya sendiri. Pada dasarnya terapi ini hamper sama dengan terapi Eksistensial-Humanistik, namun dalam hal ini klien hanya membutuhkan keyakinan terhadap kemampuan dirinya, klien tidak terlalu membutuhkan pengakuan dari dunia luar untuk percaya pada kemampuannya melakukan sesuatu.
            Terapi Gestalt merupakan konseling yang bekerja di atas prinsip kesadaran yang fokus pada pengalaman di sini dan sekarang karena menurut buku M.A Subandi (psikoterapi, hal. 96) kesadaran meliputi:
1.      Kesadaran akan efektif apabila didasarkan pada dan disemangati oleh kebutuhan yang ada saat ini yang dirasakan oleh individu
2.      Kesadaran tidak komplit tanpa pengertian langsung tentang kenyataan suatu situasi dan bagaimana seseorang berada di dalam situasi tersebut.
3.      Kesadaran itu selalu ada di sini dan saat ini. Kesadaran adalah hasil penginderaan, bukan sesuatu yang mustahil terjadi.
Terapi ini mengharuskan individu menemukan jalannya sendiri dan menerima tanggung jawab pribadi jika mereka berharap mencapai kematangan. Ia menekankan konsep-konsep seperti perluasan kesadaran, penerimaan tindakan pribadi, kesatuan pribadi dan mengalami cara-cara yang menghambat kesadaran. Menurut pandangan Gestalt, individu memiliki kesanggupan memikul tanggung jawab pribadi dan hidup sepenuhnya sebagai pribadi yang terpadu. Terapi Gestalt memiliki sasaran dasar yaitu menentang klien agar berpindah dari, didukung oleh lingkungan menjadi didukung oleh diri sendiri, menjadikan pasien tidak bergantung pada orang lain, menjadikan pasien menemukan sejak awal bahwa dia bisa melakukan banyak hal, lebih banyak daripada yang dikiranya. Terapis bertugas melakukan sesuatu yang menunjang klien dalam posisi pemutusan apakah ia akan mengembangkan potensi dirinya atau tidak. Terapis Gestalt juga memiliki peran penting yaitu memahami bahasa tubuh kliennya. Teknik-teknik terapi Gestalt ini berisi sekumpulan teknik atau permainan seperti Permainan Dialog, Latihan Saya Bertanggung Jawab, Bermain Proyeksi, Permainan Ulangan, Tekhnik Pembalikan.
            Analisis Transaksional merupakan teori kepribadian dan sistem yang terorganisir dari terapi interaksional. Dalam hal ini klien akan memulai terapinya dengan membentuk suatu kontrak bersama terapisnya yang akan menspesifikasi area-area kehidupan yang ingin diubahnya. Terapis bertugas membantu klien memprogram pribadinya, membantu klien untuk menjadi bebas dalam berbuat, bermain, dan menjadi orang mandiri dalam memilih apa yang mereka inginkan, membantu klien mengkaji keputusan yang telah dibuat dan membuat keputusan baru atas dasar kesadaran. Terapi ini dilakukan pada klien yang sudah mengetahui terdapat kesalahan-kesalahan dalam tingkah lakunya, namun ia belum mengenali kesalahan itu dan belum memperoleh solusi atas hal itu. Maka setelah terapi ini, klien dibantu untuk membuat perencanaan baru yang berdasarkan pada kesadaran dan pengetahuannya.
            Terapi Tingkah Laku merupakan terapi yang berdasar pada teori belajar dan bertujuan untuk menyembuhkan psikopatologi dengan cara menguatkan perilaku yang diinginkan dan menghilangkan perilaku yang tidak diinginkan. Tujuan umum terapi tingkah laku adalah menciptakan kondisi-kondisi baru sebagai proses belajar. Dasar alasannya ialah bahwa segenap tingkah laku diperoleh melalui belajar (learned), termasuk tingkah laku yang mal adaptif. Terapis bertugas untuk mengatasi depresi dan fobia klien. Teknik utama yang digunakan dalam terapi tingkah laku yaitu Desensitisasi sistematik, Terapi impolsif dan pembanjiran, Terapi aversi, dan Pengondisian operan. Desentisasi sistematik dan terapi impolsif berguna untuk mengatasi fobia seseorang atas sesuatu. Terapi aversi berguna untuk meredakan gangguan-gangguan perilaku dengan cara memberikan stimulus yang menyakitkan sampai tingkah laku yang tidak diinginkan hilang. Pengondisian operan dilakukan dengan cara perkuatan positif, pembentukan respons, perkuatan intermiten, penghapusan, pencontohan.
            Terapi Rasional-Emotif merupakan aliran psikoterapi yang berlandaskan asumsi bahwa manusia dilahirkan dengan potensi, baik untuk berpikir rasional dan jujur maupun untuk berpikir irasional dan jahat. Tujuan psikoterapis ini adalah menunjukkan kepada klien bahwa verbalisasi-verbalisasi diri mereka telah dan masih menjadi sumber utama dari gangguan-gangguan emosional yang dialami oleh mereka. Maka proses terapeutik ini terdiri atas penyembuhan dari irrasionalitas menjadi rasionalitas. Karena individu pada dasarnya adalah makhluk rasional dan karena sumber ketidakbahagiaannya adalah irrasionalitas, maka individu bisa mencapai kebahagiaan dengan belajar berpikir rasional. Terapi rasional-Emotif memiliki rumus ABC, yang terdiri dari:
A         : Activating Experiences, yaitu pengalaman buruk yang memicu ketidakbahagiaan
B         : Beliefs, yaitu keyakinan irrasional yang merusak kebahagiaan
C         : Consequence, yaitu emosi negative seperti dendam, panik, amarah, dan sebagainya yang menghambat kebahagiaan
Maka seorang terapis harus melakukan perlawanan (D : Disputing) terhadap ABC pada diri klien tersebut sehingga klien dapat merasakan dampak (E : Effect) dari psikologi positif dan keyakinan rasional.
            Terapi Realitas merupakan terapi yang fokus pada tingkah laku klien sekarang. Terapi ini tidak terlalu mengungkit-ungkit berkenaan masa lalu klien melainkan memberikan solusi terhadap hal-hal yang harus dilakukan klien saat ini untuk mencapai keberhasilan identitas. Terapis berfungsi sebagai model dan guru bagi klien dalam menghadapi kenyataan hidup serta memenuhi kebutuhan hidupnya namun tidak merugikan dirinya sendiri dan orang lain. Tujuan terapi ini adalah untuk membantu klien mencapai otonomi. Di balik semua itu, banyak manusia yang masih belum mencapai identitas keberhasilannya. Mereka masih belum dapat mencapai kebutuhan dasar psikologisnya, yaitu kebutuhan untuk mencintai dan dicintai serta kebutuhan untuk merasakan bahwa ia berguna bagi diri sendiri maupun orang lain. Menurut terapi realitas, ada lima macam kebutuhan pokok manusia antara lain kepemilikan, kekuasaan, kebebasan, ketergantungan, dan fisiologis. Dalam mencapai tujuan hidup ini manusia diatur dengan adanya rambu-rambu yaitu tanggung jawab, realitas, dan benar.