Pendidikan
memiliki peranan besar dalam misi membangun generasi bangsa yang taat asas. Boyolali
merupakan salah satu kota yang memiliki daya saing cukup tinggi dalam bidang
pendidikan, baik di bidang akademik maupun non akademik. Keberhasilan semacam
ini tidak mampu diraih oleh lembaga pendidikan tanpa sebuah sistem dan
manajemen yang unggul. Lembaga pendidikan yang baik tidak sekedar terletak pada
input dan output yang unggul, melainkan lebih menitik beratkan pada proses
yang diperoleh dari sistem dan manajemen unggul tersebut.
MAN
1 Boyolali merupakan salah satu lembaga pendidikan formal di Boyolali yang
memiliki sistem unggul dan manajemen yang rapi. Hal ini dapat dilihat dari budaya pembentukan akhlak dan karakter
peserta didik melalui pembimbingan dan pemantauan kedisiplinan yang tegas dan
mendidik seperti tadarus Al-Qur’an setiap pagi, pemantauan rutin kehadiran
peserta didik melalui presensi keliling yang berlangsung setiap hari, budaya
saling bersalam yang tak dilewatkan setiap pagi oleh guru-guru dengan menyambut
peserta didik di depan gerbang sekolah sehingga memberikan efek saling menghargai
dan menghormati, memberikan punishment
yang mendidik pada peserta didik yang melanggar peraturan seperti membaca
Al-Qur’an dalam pengawasan guru BP dalam jangka waktu yang ditentukan dan
memberikan dukungan moril yang mampu memberikan motivasi kepada peserta didik
agar semangat dalam menuntut ilmu. Keadaan mushola yang selalu ramai dan
berdesakan setiap waktu dhuhur juga menjadi salah satu cerminan kedisiplinan
dan ketaatan pada agama maupun bangsa.
Adanya manajemen yang unggul tak lepas dari peranan
fungsi pengelola sekolah baik kepala sekolah, guru, maupun karyawan. Keberhasilan
manajemen dicapai ketika kepala sekolah mampu melaksanakan tujuh fungsinya
dengan baik yaitu sebagai Edukator, Manajer,
Administrator, Supervisor,
Pemimpin/ Leader, Inovator,
dan Motivator. Di samping itu, peranan guru juga memiliki andil
yang sangat besar dalam pelaksanaan manajemen sekolah. Seorang guru yang baik
tidak sekedar dituntut memiliki hardskill
melainkan juga softskill yang mampu
mendukung pencapaian outcome yang
lebih maksimal. Berdasarkan pengamatan, tidak banyak tenaga kependidikan yang
mengaplikasikan softskill untuk
memajukan lembaga pendidikan melainkan sekedar mengerahkan hardskill sebagai modal pembelajaran maupun pengelolaan sekolah.
MAN 1 Boyolali memiliki tenaga kependidikan yang kaya akan softskill, sehingga kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler pun maju di
bawah asuhan tenaga kependidikan internal. Hal ini menunjukkan bahwa proses di
dalam lembaga berlangsung secara dinamis dan sinergis. Sebagai salah satu
contoh, diselenggarakannya Diklat Jurnalistik untuk siswa siswa MAN 1 Boyolali
yang kemudian membentuk sebuah komunitas jurnalist sekolah yang memiliki
produk, sedangkan hal-hal semacam ini tidak banyak ditemui pada lembaga
pendidikan lain. Ditemukannya keseimbangan antara akademik dan non akademik, hardskill dan softskill, religious dan nasionalis, sinergisitas antara pendidik
dan peserta didik merupakan salah satu nilai plus dalam sebuah lembaga
pendidikan, khususnya di MAN 1 Boyolali. Lembaga pendidikan yang mengedepankan
proses berhak untuk memperoleh sebutan sebagai lembaga pendidikan sejati.