Total Tayangan Halaman

Senin, 29 September 2014

Pendidikan Berbasis Proses (MAN 1 Boyolali)



Pendidikan memiliki peranan besar dalam misi membangun generasi bangsa yang taat asas. Boyolali merupakan salah satu kota yang memiliki daya saing cukup tinggi dalam bidang pendidikan, baik di bidang akademik maupun non akademik. Keberhasilan semacam ini tidak mampu diraih oleh lembaga pendidikan tanpa sebuah sistem dan manajemen yang unggul. Lembaga pendidikan yang baik tidak sekedar terletak pada input dan output yang unggul, melainkan lebih menitik beratkan pada proses yang diperoleh dari sistem dan manajemen unggul tersebut.
MAN 1 Boyolali merupakan salah satu lembaga pendidikan formal di Boyolali yang memiliki sistem unggul dan manajemen yang rapi. Hal ini dapat dilihat dari budaya pembentukan akhlak dan karakter peserta didik melalui pembimbingan dan pemantauan kedisiplinan yang tegas dan mendidik seperti tadarus Al-Qur’an setiap pagi, pemantauan rutin kehadiran peserta didik melalui presensi keliling yang berlangsung setiap hari, budaya saling bersalam yang tak dilewatkan setiap pagi oleh guru-guru dengan menyambut peserta didik di depan gerbang sekolah sehingga memberikan efek saling menghargai dan menghormati, memberikan punishment yang mendidik pada peserta didik yang melanggar peraturan seperti membaca Al-Qur’an dalam pengawasan guru BP dalam jangka waktu yang ditentukan dan memberikan dukungan moril yang mampu memberikan motivasi kepada peserta didik agar semangat dalam menuntut ilmu. Keadaan mushola yang selalu ramai dan berdesakan setiap waktu dhuhur juga menjadi salah satu cerminan kedisiplinan dan ketaatan pada agama maupun bangsa.
Adanya manajemen yang unggul tak lepas dari peranan fungsi pengelola sekolah baik kepala sekolah, guru, maupun karyawan. Keberhasilan manajemen dicapai ketika kepala sekolah mampu melaksanakan tujuh fungsinya dengan baik yaitu sebagai Edukator, Manajer, Administrator, Supervisor, Pemimpin/ Leader, Inovator, dan Motivator. Di samping itu, peranan guru juga memiliki andil yang sangat besar dalam pelaksanaan manajemen sekolah. Seorang guru yang baik tidak sekedar dituntut memiliki hardskill melainkan juga softskill yang mampu mendukung pencapaian outcome yang lebih maksimal. Berdasarkan pengamatan, tidak banyak tenaga kependidikan yang mengaplikasikan softskill untuk memajukan lembaga pendidikan melainkan sekedar mengerahkan hardskill sebagai modal pembelajaran maupun pengelolaan sekolah. MAN 1 Boyolali memiliki tenaga kependidikan yang kaya akan softskill, sehingga kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler pun maju di bawah asuhan tenaga kependidikan internal. Hal ini menunjukkan bahwa proses di dalam lembaga berlangsung secara dinamis dan sinergis. Sebagai salah satu contoh, diselenggarakannya Diklat Jurnalistik untuk siswa siswa MAN 1 Boyolali yang kemudian membentuk sebuah komunitas jurnalist sekolah yang memiliki produk, sedangkan hal-hal semacam ini tidak banyak ditemui pada lembaga pendidikan lain. Ditemukannya keseimbangan antara akademik dan non akademik, hardskill dan softskill, religious dan nasionalis, sinergisitas antara pendidik dan peserta didik merupakan salah satu nilai plus dalam sebuah lembaga pendidikan, khususnya di MAN 1 Boyolali. Lembaga pendidikan yang mengedepankan proses berhak untuk memperoleh sebutan sebagai lembaga pendidikan sejati.

Sabtu, 12 Juli 2014

Mahasiswa Berprestasi, Ujung Tombak Kebangkitan Bangsa



Generasi muda pada setiap bangsa merupakan tiang kebangkitan. Pada setiap kebangkitan, mereka adalah rahasianya dan pada setiap gagasan, mereka adalah pembawa benderanya. (Hasan Al Banna)
Tersimpan sebuah petuah besar dalam petikan kalimat Asy-Syahid Hasan al Banna di atas, bahwasanya pada setiap bangsa memiliki generasi yang akan mengobarkan semangat kebangkitan, di mana mereka adalah para generasi muda. Namun untuk membangunkan semangat kebangkitan, sebuah bangsa membutuhkan generasi muda yang memiliki ideologi, wawasan, dan keteguhan. Dari sekian banyak generasi muda, yang terdiri dari pemuda-pemuda jalanan, pemuda terlatih dan pemuda terdidik, ada satu segmen yang sekiranya lebih mampu mengemban amanah kebangkitan bangsa yaitu pemuda terdidik. Mahasiswa merupakan generasi muda terdidik yang memiliki ideologi yang kuat, wawasan luas, dan teguh terhadap prinsip. Dengan modal dasar ini, mahasiswa menjadi pelopor perubahan bangsa. Dalam buku Risalah Pergerakan Pemuda Islam dikemukakan beberapa alasan mengapa pemuda/ mahasiswa menjadi pasukan terdepan dalam membangun kemajuan bangsa, di antaranya:
1.      Pemuda adalah kemampuan, tekad, keberanian, dan kesabaran menghadapi tantangan.
2.      Pemuda adalah unsur kokoh yang mampu belajar keras, menguasai dan menghasilkan pemikiran serta pembaharuan.
3.      Pemuda adalah pelopor dan sarana perubahan.
Mahasiswa menempati posisi strategis dalam memajukan bangsa, karena mahasiswa yang berwawasan luas dan memiliki pengalaman mampu mengembangkan suatu hal secara dinamis, ditambah kemampuan mengembangkan diri serta memandang jauh ke depan menyebabkan mereka mampu berpikir objektif dan positif.
Namun dari sekian banyak mahasiswa, tidak semuanya memiliki kapabilitas seperti yang dipaparkan di atas. Hanya mahasiswa-mahasiswa berprestasi yang mampu mengemban amanah ini, baik prestasi akademik ataupun non-akademik.
Pendidikan ini tidak terlepas dari prestasi dalam bentuk score atau nilai. Sebagian mahasiswa mengejar nilai setinggi-tingginya sebagai prestasi mereka, sebagian yang lain rajin belajar untuk mencapai pemahaman yang matang. Keduanya merupakan prestasi yang gemilang, namun ada prestasi lain yang jauh lebih berarti daripada sekedar itu, yaitu bagaimana seorang mahasiswa mampu memahamkan mahasiswa-mahasiswa lain, minimal dalam lingkup kelas. Bagaimana mahasiswa tidak pandai seorang diri, tidak memiliki ilmu itu sendiri, namun mampu mensosialisasikan kepada teman-temannya. Bagaimana seorang mahasiswa mampu memberikan motivasi kepada mahasiswa lain yang memiliki kelemahan dari segi percaya diri. Bagaimana mahasiswa memberikan pancingan untuk membuat teman-teman diskusinya juga mampu menguasai materi yang ada. Dengan pencapaian ini, secara otomatis target terhadap dirinya sendiri sudah tercapai, namun ia memiliki satu point lebih yaitu memahamkan teman-teman seperjuangannya.
Untuk memajukan bangsa, seseorang tidak bisa melakukannya seorang diri. Ibaratnya dalam konsep beragama, kurang afdhol jika seseorang sholih sendirian tanpa mengajak saudara-saudaranya kepada jalan kesholihan. Begitu pula dalam konsep membangun bangsa, umpamakan jika hanya ada satu orang pemuda yang ingin memajukan bangsa, maka ia akan kesulitan untuk melangkah. Ia akan kesulitan akan memulai dari mana dan menjalankan dengan siapa. Namun akan berbeda keadaannya jika ada sekian orang pemuda yang mampu diajak untuk memajukan bangsa ini, maka kita sudah memiliki sebuah armada untuk memulai pekerjaan bersama-sama. Tugas memajukan bangsa ini memiliki banyak lini, tentu pula membutuhkan banyak sumber daya manusia yang akan melaksanakannya.
Maka ada beberapa hal penting yang perlu diinternalisasikan dalam diri mahasiswa:
1.      Mahasiswa adalah ujung tombak kemajuan bangsa
2.      Mahasiswa tidak mencari kehidupan dengan score, melainkan prestasi gemilang dengan pemahamannya yang menyeluruh
3.      Mahasiswa adalah calon-calon pemimpin yang harus memiliki keseimbangan hardskill dan softskill
4.      Mahasiswa tidak hanya memusatkan perhatian pada prestasi diri sendiri, namun juga memperhatikan pengembangan prestasi mahasiswa lain guna bersama-sama membangun bangsa
Di samping hal-hal di atas, untuk membangun sebuah bangsa yang maju memerlukan generasi-generasi penerus yang memahami dan memaknai keluhuran nilai-nilai yang dimiliki bangsa Indonesia sendiri. Dewasa ini tak sedikit generasi berprestasi yang menggadaikan keluhuran nilai yang dimiliki bangsa kita, dan menukarnya dengan etnis-etnis barat yang menghilangkan jati diri bangsa Indonesia seperi mengadopsi ideologi-ideologi komunisme, kapitalisme, materialisme, pragmatisme, dan sebagainya. Terlebih lagi yang sudah merebak di seluruh penjuru negeri adalah pola hidup generasi muda yang semakin menampakkan hedonisme. Nilai-nilai budaya yang santun tak lagi dihiraukan, yang seharusnya ia menjadi jiwa moral bangsa. Oleh karena itu bangsa ini memerlukan generasi muda, dalam konteks ini diutamakan terhadap mahasiswa hendaknya memperhatikan beberapa hal:
1.      Mengokohkan pondasi keagamaan, baik dari segi ketauhidan maupun sikap sosial
2.      Mengembangkan daya kritis terhadap segmen-segmen perubahan
3.      Memegang teguh prinsip dan ideologi bangsa
4.      Melestarikan kebudayaan Indonesia yang menjadi jati diri bangsa
5.      Memiliki semangat juang yang tinggi
Bercermin pada hari bersejarah bagi gerakan mahasiswa Mesir dan seluruh dunia, 9 februari 1946 saat ribuan pelajar dan mahasiswa melakukan demonstrasi besar-besaran menyuarakan rakyat Mesir, menuntut istana dan pemerintah memutuskan negosiasi dengan penjajah, membatalkan perjanjian tahun 1936 yanng penuh kedzaliman. Harapannya ke depan mahasiswa Indonesia juga memiliki kesadaran yang tinggi dalam membangun bangsa yang maju dan terlepas dari pengaruh ideologi-ideologi yang menggerogoti moral bangsa. Memulai dari hal terkecil yaitu niat menuntut ilmu dengan mengharap ridho Allah, memahami dan memaknai ilmu untuk memberikan kontribusi terbaik bagi bangsa.


Fantika_MV

Selasa, 24 Juni 2014

Dari Organisasi untuk Negeri



Manusia adalah makhluk sosial. Dalam menjalani kehidupan sosial, manusia memerlukan keterampilan berkomunikasi yang tercakup dalam softskill. Softskill seseorang dapat dikembangkan melalui intensitas sosial yang tinggi dan seringnya seseorang menghadapi masalah.
Mahasiswa adalah sekumpulan manusia yang memiliki keunggulan dalam hal pemikiran, pembaharuan, dan penggerakan. Mereka berada dalam masa yang sangat strategis untuk mengembangkan potensi, karya dan keahlian. Terkait peran sosialnya, mahasiswa memiliki kesempatan yang lebih besar dalam mengembangkan softskill melalui organisasi. Sebagian besar mahasiswa enggan untuk berorganisasi dikarenakan mereka tidak memiliki ketertarikan terhadap organisasi karena dinilai hanya bermain-main saja. Sebagian yang lain berpendapat bahwa organisasi akan menghambat proses belajar seseorang. Namun sebagian lagi justru berpendapat memperoleh banyak keuntungan dari organisasi baik dari segi pembinaan karakter, akhlak, moral, keterampilan dan keahlian. Bahkan ada yang berpendapat bahwa dari organisasi lah mereka sukses menempuh kehidupan selanjutnya.
Secara etimologi, organisasi berasal dari kata organize yang berarti mengelola atau mengatur. Dari segi bahasa kita bisa melihat adanya perbedaan yang jelas antara organisasi dengan perkumpulan.
Organisasi memiliki beberapa karakteristik, antara lain:
1.      Terdiri dari sekumpulan orang yang memiliki visi dan tujuan yang sama dan jelas
2.      Dilaksanakan berdasarkan aturan yang jelas dan mengikat
3.      Mempunyai rencana dan sasaran yang strategis
4.      Memiliki jenjang organisasi dan alur komando
5.      Memiliki program dan instrumen kerja
Sedangkan perkumpulan tidak memilki beberapa karakter dasar yang dimiliki organisasi. Perkumpulan hanya dijalankan atas dasar kesamaan keinginan dan kesenangan, tidak memiliki aturan yang jelas dan mengikat, tidak ada jenjang organisasi dan alur komando serta tidak memiliki program dan instrumen kerja yang tersusun rapi untuk mencapai sebuah tujuan. Maka salah jika seseorang masih berpikir bahwa organisasi hanya tempat bermain-main semata dan akan menghambat prestasi. Justru dari organisasi lah seseorang memiliki kemampuan yang diperlukan ketika nanti seseorang menghadapi kehidupan yang sesungguhnya.
Mahasiswa yang berkehendak bergabung dengan sebuah organisasi tentu adalah orang-orang yang memiliki sebuah mimpi, minimal bermimpi menjadi seseorang yang berguna untuk bangsa dengan ketrampilan yang akan didapatnya dari organisasi. Mahasiswa yang berkecimpung dalam organisasi memiliki beberapa keunggulan, yaitu:
1.      Siap menjadi mahasiswa berkarakter unggul
Mahasiswa yang berkecimpung dalam organisasi akan mendapatkan pembinaan karakter karena sebuah organisasi dibangun untuk mengembangkan salah satu bidang kehidupan yang dibutuhkan untuk membangun bangsa yang berkualitas. Maka dari itu orang-orang yang berada dalam sebuah organisasi pasti terbina baik secara akhlak, moral dan tanggung jawabnya, baik kepada agama maupun sesama.
2.      Siap menjadi mahasiswa berprestasi unggul
Salah jika dikatakan bahwa mahasiswa yang berada dalam organisasi mengabaikan prestasinya baik akademik maupun non-akademik. Mahasiswa yang berorganisasi sudah dipastikan adalah orang-orang yang memiliki semangat yang tinggi untuk membangun bangsa, maka tekad mereka untuk meraih prestasi dalam setiap bidang pun semakin tinggi. Di samping itu, karena dalam organisasi seseorang sudah terlatih untuk menyampaikan pendapat dan menyelesaikan masalah, maka di dalam kelas pun ia akan menjadi mahasiswa yang dinamis dan mampu memahami substansi materi dengan matang.
3.      Siap menjadi pemimpin yang unggul
Dalam berorganisasi seseorang akan memperoleh kemampuan menganalisis POAC (Planning, Organizing, Actuating, Controlling). Mereka memiliki kemampuan lebih dibandingkan mahasiswa yang tidak berorganisasi karena mereka langsung mempraktikkan ilmu yang mereka peroleh, sedangkan mahasiswa yang tidak berorganisasi hanya memperolehnya di kelas, mendengarkan dan sekedar mendiskusikannya. Mahasiswa yang berorganisasi memiliki tingkat kecerdasan emosional yang lebih tinggi karena mereka sudah terlatih untuk menghadapi kesulitan-kesulitan dalam menjalani setiap program. Seorang pemimpin dituntut memiliki 3 hal dasar yaitu ikhlas dan kuat, memiliki cinta dan dekat, memiliki kemampuan yang tinggi dan amanah.
Dalam berorganisasi, seseorang terlatih untuk ikhlas dan kuat ketika harus menghadapi masalah-masalah yang dijumpainya dan cenderung solutif, seseorang juga terbiasa untuk mengasihi satu sama lain karena dalam organisasi tertanam jiwa korsa, mereka juga akan dituntut untuk berwawasan luas dan amanah dalam organisasi karena harus menjalankan program-program unggulan yang memerlukan kapabilitas tinggi.
Hal-hal di atas merupakan potret dari sosok mahasiswa berorganisasi. Jika di lapangan masih dijumpai mahasiswa yang berorganisasi namun tidak nampak seperti potret di atas, itu menjelaskan bahwa mereka bukan mahasiswa berorganisasi karena hati dan jiwa mereka tidak terpaut pada organisasi. Mahasiswa berorganisasi yang sesungguhnya tidak akan terlepas dari potret di atas, minimal nampak usaha mereka untuk menjadi seperti apa yang telah dipaparkan tersebut dengan berusaha mengunggulkan akhlak dan karakter mereka, berupaya untuk memperluas ilmu dan wawasan mereka, nampak dari ketekunannya dan amanah melaksanakan tugas yang diberikan kepadanya.
Mahasiswa berorganisasi tidak akan kesulitan untuk menjadi orang-orang sukses di kemudian hari karena mereka sudah teruji kapabilitasnya. Dunia akan cenderung melihat kompetensi seseorang untuk dijadikan rekan kerjasama daripada sekedar orang yang pandai dari segi akademis. Oleh karena itu, tidak ada lagi keraguan bagi mahasiswa yang memiliki semangat tinggi berkontribusi, mimpi memajukan negara, dan cita-cita membangun bangsa Indonesia untuk berlomba-lomba mengembangkan diri melalui organisasi dan lingkungan yang membangun.
Salam Anak Negeri, untuk Indonesia Lebih Maju!!


Fantika_MV

Selasa, 06 Mei 2014

Life is Education and Education is Life



Hidup adalah pendidikan karena kebutuhan akan pendidikan pada hakikatnya memang krusial karena berkaitan dengan ranah hidup dan kehidupan manusia. Dalam setiap kehidupan manusia mengandung begitu banyak pendidikan, baik berupa hikmah, keteladanan, temuan-temuan ilmiah yang merupakan hasil dari kehidupan yang berwujud pendidikan.
Demikian pula, pendidikan adalah hidup karena pendidikan merupakan wahana strategis bagi upaya perbaikan mutu kehidupan manusia. Dalam menjalani kehidupan dan melaksanakan segala hal dalam hidup, manusia selalu memerlukan pendidikan, baik langsung maupun tidak langsung. Tanpa pendidikan, manusia tidak dapat hidup sesuai dengan alur dan cara yang semestinya.
Lembaga merupakan asal dari sesuatu, acuan, sesuatu yang memberi bentuk pada yang lain. Jadi lembaga didirikan sebagai awal atau wadah dari terbentuknya sebuah organisasi yang kemudian mengadakan penelitian keilmuan dan suatu usaha. Lenbaga pendidikan islam terlahir karena kebutuhan masyarakat terhadap islam itu sendiri, yaitu menuju pada Al-Qur’an dan As Sunah. Dari fenomena kehidupan masyarakat yang kita lihat saat ini, jelas masyarakat sangat membutuhkan tuntunan jiwa islam kembali untuk memperbaiki keadaan dan tatanan social, sehingga dari keresahan tersebut tercetus lembaga pendidikan islam. Maka dari itu dapat disimpulkan bahwa lembaga pendidikan islam secara keseluruhan bukanlah sesuatu yang dating dari luar, melainkan dalam pertumbuhan dan perkembangannya mempunyai hubungan erat dengan islam secara umum.
Abdullah
 
Konsep manusia yang diharapkan dalam lembaga pendidikan islam yaitu sebagai Abdullah dan khalifatullah.
                                                          
                                                                 
                                                                 90^                                           
Khalifatullah
 
Khalifatullah
 
                                                                                                         90^                                                                

Jadi, manusia dalam kehidupannya memiliki dua peran, yaitu sebagai seorang hamba Allah dan khalifah Allah di bumi, bertugas untuk mengelola bumi dengan baik. Kedua peran ini harus berjalan seimbang, manusia taat kepada Allah sebagai hamba juga berbuat baik di bumi juga pada sesame harus saling berjalan beriringan sehingga dunia ini akan damai di tangan manusia.
Lembaga Pendidikan Islam dilihat dari Ajaran Islam sebagai Asasnya
Dalam ajaran islam, perbuatan manusia disebut dengan amal, yang telah melembaga dalam jiwa seorang muslim, baik amal yang berhubungan dengan Allah maupun amal yang berhubungan dengan manusia dan alam semesta.
Ajaran-ajaran yang ada dalam islam merupakan sumber dinamika dari kehidupan masyarakat, membuat kehidupan menjadi semakin hidup.
1.      Rukun iman, menjadi asas ajaran dan amal islam
Asas ini merupakan dasar dari segala asas. Dalam hidupnya, manusia meyakini tentang sang pencipta dengan keyakinan yang berada dari alam bawah sadar.
2.      Ikrar, yaitu ucapan syahadat yang menjadi lembaga pernyataan.
Dalam kehidupan bermasyarakat, ada yang sering kita sebut dengan ijab dan qabul dalam bahasa muamalah. Misalnya saja ketika dalam pernikahan aka nada ijab dan qabul yang menjadi lembaga pernyataan bagi sahnya pernikahan. Selain itu, dalam jual beli juga kita temui ijab dan qabul sebagai lembaga pernyataan bagi sahnya jual beli.
3.      Thaharah, yaitu lembaga penyucian.
Manusia memiliki nilai kebersihan dalam kehidupan. Bahwa bersih merupakan sesuatu yang dijaga dan dipertahankan. Ketika manusia hendak melaksanakan segala aktivitas, maka manusia akan pergi dan melaksanakan dalam keadaan bersih, seperti halnya ketika setiap bepergian manusia pada umumnya akan mandi terlebih dahulu, dan itu menjadi lazim bahkan harus dilakukan.
4.      Shalat, lembaga utama diri.
Shalat merupakan sesuatu yang wajib dan utama, merasakan pertemuan dengan Allah. Begitu juga dalam kehidupannya, manusia harus senantiasa merasakan kehadiran Allah. Rasa muraqabatullah tidak hanya didapat ketika seseorang sedang melaksanakan ibadah shalat saja, namun dalam setiap aktivitasnya, nilai-nilai shalat akan senantiasa melekat dalam diri manusia, karena itulah lembaga yang utama dalam diri manusia untuk menjaga diri dari kemaksiatan.
5.      Zakat, yaitu lembaga pemberian wajib.
Zakat menjadi acuan dari munculnya sesuatu yang lain, seperti badan amil zakat, atau lembaga amil zakat, dan sebagainya. Lembaga-lembaga ini menjadi sesuatu yang baru dalam kehidupan manusia yang muncul atas asas ajaran islam yaitu zakat. Maka dalam mempermudah aktivitas zakat, manusia mencetuskan pendirian lembaga amil zakat sebagai fasilitas juga sebagai sebuah profesi.
6.      Puasa, yaitu lembaga menahan diri.
Puasa menjadi asas yang amat penting dalam kehidupan manusia. Dalam kehidupan, masyarakat memiliki sebuah nilai yang disebut menahan diri dari hawa nafsu. Orang yang berpuasa dituntut dan biasanya menahan hawa nafsu mereka. Namun nilai ini tidak cukup sekedar dilaksankan ketika seseorang melaksankan ibadah puasa, namun setiap saat dalam kehidupan manusia, nilai ini harus senantiasa dipegang. Manusia harus senantiasa menahan hawa nafsunya.
7.      Haji, yaitu lembaga kunjungan ke baitullah.
Dewasa ini, dalam perkembangan kehidupan manusia, kita sudah mendapat adanya jasa layanan haji, adanya transportasi untuk pergi haji dari daerah yang jauh. Seperti yang kita ketahui, dulu Rasulullah dan para shahabat melaksanakan haji tanpa jasa pelayanan haji, namun sekarang haji menjadi asas dari pertumbuhan penyedia jasa layanan haji untuk memudahkan jamaah haji juga memberikan keuntungan pada lembaga penyedia jasa.
8.      Ihsan, yaitu lembaga membaiki.
Manusia mengenal kata perbaikan, karena asas ihsan yang muncul dari ajaran islam. Misalnya saja pekerjaan reparasi, yaitu memperbaiki barang-barang yang telah rusak. Seperti hakikatnya manusia, ketika ia sudah terlalu banyak dosa maka harus bertaubat dan memperbaiki diri. Selain itu di bidang kesehatan, yaitu rumah sakit, mengobati orang-orang yang sakit, dengan istilah lain para dokter memperbaiki beberapa kerusakan pada tubuh atau fisik manusia.
9.      Ikhlas, yaitu lembaga yang menjadikan amal agama.
Dalam melakukan amal perbuatan yang notabene manusia lakukan untuk sesama, amal mereka hanya dapat diterima oleh Allah jika mereka tidak menyertainya dengan keinginan-keinginan untuk dipuji atau disanjung orang.
10.  Taqwa, yaitu lembaga menjaga hubungan dengan Allah.
Dalam asas taqwa, manusia diharuskan untuk melaksanakan konsekuensinya menjadi seorang muslim. Dalam hal muamalah, hal ini juga dijadikan asas, yaitu untuk menjaga hubungan baik dengan sesama manusia, mereka harus berlaku baik pada yang lain, menghargai, menunaikan hak orang lain dan menjauhi segala hal yang membuat orang lain merasa tidak suka.