Dalam
dekapan alam, kuhirup udara segar, bersenandung bersama rerumputan, menikmati
rutinitas yang sudah kujalani selama 3 tahun terakhir ini. Di sini lah, di
sebuah gubug sederhana yang mereka sebut “Rumah Lentera”, kuabdikan diriku
membimbing anak-anak putus sekolah di sebuah desa pinggiran sembari
menyelesaikan skripsi yang tiap kuajukan selalu penuh dengan coretan tinta.
Bahkan tiap kuinjakkan kakiku memasuki pintu rumah, aku selalu disuguhi wajah
masam ibuku yang selalu saja membandingkanku dengan anak teman-temannya yang
sudah berpenghasilan walau mereka belum lulus sekalipun. Tiap kali, aku hanya
mampu berjalan merunduk di depan ibuku sambil berlalu ke kamar tanpa sepatah
kata pun, untuk meredam kemarahannya. Terdengar sepele, namun teramat menyiksa.
“Kak
Syifa’, bangun kak. Bangun! Gawat, bangun kakak!”
Anak lelaki berusia 11 tahun terus mengoyak tubuhku
yang sedang terbaring tenang di gubug. Aku segera terbangun dari tidurku, “Ada
apa Seto? Kenapa khawatir sekali?”
“Reza kak, dia terkapar di jalan desa. Orang yang
menabraknya barusan melarikan diri begitu saja,” jawabnya sambil
terengah-engah.
Aku segera beranjak berdiri, “Maksudmu Reza kecelakaan?”
Seto hanya mengangguk dan segera menarik tanganku
menuju lokasi kejadian. Sungguh malang nasib Reza. 5 hari lagi mereka akan
melaksanakan ujian masuk beasiswa pondok untuk melanjutkan pendidikan mereka.
Reza, Seto, Inggar, dan Agil sudah harus melanjutkan pendidikan ke jenjang
setara Sekolah Menengah Pertama. Namun dengan peristiwa ini, mungkin akan
menjadi sulit baginya.
Reza, wajahnya penuh dengan luka, kakinya tak mampu
lagi menopang beban tubuhnya. Aku hanya melihat wajah Reza yang semakin meredup,
harapannya tentang pondok sepertinya mulai memudar. Rasanya 5 hari itu sudah
tidak mungkin baginya untuk sembuh, sedangkan ketentuan beasiswa di pondok
haruslah sehat secara fisik. Jika dalam waktu 5 hari dokter tidak bisa
memastikan Reza akan sembuh, maka pupuslah harapan itu.
***
Sore
yang sendu, Reza masih dibantu dengan tongkat kayunya menjalani hari ini. Agil
yang berlari dari belakang tiba-tiba menyerobot tongkat Reza dengan sengaja.
Reza tersungkur ke tanah, tubuhnya gemetaran saat mencoba untuk bangkit, namun
ia terjatuh lagi. Kepalanya terangkat perlahan, air matanya jatuh. Agil yang
menyadari hal itu segera menghampiri Reza dan berupaya membangunkannya. Merasa
semakin putus asa, Reza menepis tangan Agil.
“Za, maaf. Aku tak bermaksud. Aku hanya ingin mencoba
memberimu shock therapy.”
Namun Reza tetap diam. Seto dan Inggar yang baru saja
datang mencoba membujuk Reza dan memapahnya ke gubug. Melihat kehadiranku, Agil
menghampiriku.
“Kakak darimana? Tumben jam segini baru datang?”
Aku menghela nafas sejenak, lalu menjawabnya sembari
tersenyum, “Kakak mencoba mengajukan proposal pendanaan sekolah ke sebuah
lembaga sosial pendidikan untuk Reza, jadi dia tetap bisa sekolah walau tidak
di pondok.”
“Lalu?” tanyanya penasaran.
Aku menggelengkan kepala, “Katanya tidak ada
pendanaan sekolah permanen seperti itu.”
Agil memelukku, setidaknya cukup meringankan bebanku
saat itu. Memang selama ini aku bertahan menjalani hari dengan cinta mereka.
***
Hari
demi hari berlalu, dan benar Reza tidak bisa menjalani hidup dengan kakii
normal kembali. Dalam arti lain ia sudah jelas tidak bisa mengikuti ujian
beasiswa pondok. Kalau sudah seperti ini kadang ingin rasanya aku protes pada
pemerintah yang tidak konsekuen terhadap program wajib belajar 9 tahunnya, tak
ada upaya untuk menyelamatkan anak-anak yang putus sekolah di pinggiran seperti
mereka. Batinku bergejolak, ingin aku berteriak. Mereka semangatku!
Selang hari, pengumuman kelolosan beasiswa pondok
tiba. Agil, Seto, dan Inggar lolos. Mereka bertiga lolos, dan kini Reza akan
semakin terpukul, semakin merasa sendiri.
Hari itu kami berkunjung ke rumah Reza dan ia tidak
ada di rumahnya. Sudah sejak pagi ia tak pulang, dan ini sudah hampir larut.
Ibunya mencari namun tak juga menemukannya. Keesokan harinya kami mulai bergegas
untuk mencari Reza yang belum juga pulang. Sepanjang hari kami menyusuri desa,
namun tak juga kami temukan sosoknya hingga Inggar menepuk pundakku dan
menunjukkanku sesuatu dengan jari telunjuknya. MasyaAllah. Reza dengan tubuh terkulai lemas penuh darah kami
temukan di dekat jembatan, sepertinya ia berupaya untuk mengakhiri segala
impian dan hidupnya. Kami segera melarikannya ke rumah sakit. Ia koma, tak
sadarkan diri.
Aku terus menangis meratapi kelalaianku karena tak
bisa menyelamatkan mimpi anak itu. Sungguh, perih hati ini. Sejak awal Reza lah
yang selalu menyemangati teman-temannya untuk terus bermimpi, melakukan
inovasi-inovasi dengan ide-ide cemerlangnya. Dia pula lah yang paling cerdas
menangkap setiap materi yang kuberikan. Namun kini, jauh sudah semua harapan
itu.
***
Setiap
pagi aku ke rumah sakit membawakan bunga segar untuknya. Suatu ketika aku
sedang mengganti bunga di vas, samar-samar aku merasa jari Reza bergerak. Subhanallah! Setelah 3 pekan koma
akhirnya ia bangun juga. Ini sebuah rahmat dari-Nya. Setelah sempurna membuka
mata, ia berkata lirih dengan kalimat yang terus diulang-ulang.
“Rumah Lentera dipenuhi cahaya. Rumah Lentera
menyala-nyala.”
Terus ia bergumam seperti itu tanpa kutau maksudnya.
Kusuapi ia yang baru sadarkan diri, sepertinya
perasaannya sudah mulai tenang.
“Kak, maafkan Reza.”
Aku hanya tersenyum.
“Dalam mimpi Reza bertemu dengan seorang wanita, ia
mirip sekali dengan kak Syifa’. Ia mengajakku bermain-main di tengah cahaya,
dan entah mengapa aku hanya merasakan ketenangan. Kak… mulai saat ini Reza akan
mengawali semangat baru. Reza ikhlas,” katanya sambil menundukkan kepala.
Belum jadi kutanggapi perkataannya, tiba-tiba
seseorang masuk. Seorang wanita dengan jilbab rapi yang nampak dari pakaiannya
bahwa ia seseorang yang professional. Ya, dia pengelola lembaga sosial
pendidikan yang kudatangi bulan lalu. Ia mendekat dan menyerahkan sebuah
stofmap tanpa sepatah kata pun.
“Apa itu kak?” Tanya Reza penasaran.
Sambil tersenyum lebar ku jawab, “Ini hadiah dari
Allah untuk keikhlasan Reza. Reza bisa meneruskan sekolah di SMP Negeri,
lembaga ibu ini yang akan membiayai.”
Ibu itu lantas menunduk kecil semacam memberi selamat
pada Reza.
Inilah jawaban Allah atas kesabaran dan keikhlasan,
hanya saja seringnya manusia tidak mampu tawakal atas kebesaran Tuhan-Nya,
itulah kenyataan yang sering terjadi.
Kini aku mampu meilhat kemilau cahaya di mata Reza.
Negeri ini sudah menantinya.
*The End*