BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Sejarah kebudayaan islam merupakan
pengetahuan mengenai peristiwa di masa lampau sejak zaman pra islam hingga saat
ini. Sejarah juga merupakan pengetahuan tentang hukum-hukum yang tampak
menguasai kehidupan masa lampau, yang diperoleh melalui penyelidikan dan
analisis atas peristiwa-peristiwa masa lampau.
Sejarah merupakan sebuah inspirasi bagi
kehidupan, maka dari itu sejarah dijadikan sebuah pengetahuan karena memiliki
esensi yang tinggi dalam menjalani kehidupan. Manusia mampu mempelajari banyak
hal dari sejarah, mengenai strategi kemenangan dalam berbagai hal juga mengenai
antisipasi dan kewaspadaan atas kekalahan. Dengan melihat sejarah, maka manusia
memiliki bahan pertimbangan untuk melakukan sebuah tindakan.
Sejarah kebudayaan islam pada dasarnya sama
dengan sejarah kebudayaan lain pada umumnya, yaitu bersifat dinamis.
Perbedaanya terletak pada sumber nilainya. Sejarah kebudayaan islam meletakkan
dasar pengetahuannya pada sumber-sumber nilai islam.
Dalam penyampaian materi sejarah kebudayaan
islam, hendaknya menggunakan metode untuk memudahkan guru dan siiswa dalam
proses KBM. Di samping mempermudah, diharapkan siswa juga mampu menemukan
pengetahuan hasil dari penggalian referensi yang lebih dalam. Untuk mencapai
tujuan ini, salah satunya adalah dengan menggunakan metode Group Investigation.
Group Investigation merupakan salah satu bentuk
pembelajaran kooperatif yang menekankan pada partisipasi dan aktivitas
siswa untuk mencari sendiri materi (informasi) pelajaran yang akan dipelajari
melalui bahan-bahan yang tersedia, misalnya dari buku pelajaran atau siswa
dapat mencari melalui internet.
B. Rumusan Masalah
Rumusan
masalah pada makalah ini meliputi :
1. Apa yang dimaksud metode Group
Investigation?
2. Apa saja hal-hal pokok yang harus
diperhatikan dalam metode Group
Investigation?
3. Bagaimana langkah-langkah
penerapan metode Group Investigation?
4. Apa manfaat penerapan metode Group Investigation?
5. Apa kelebihan dan kekurangan
metode Group Investigation?
6. Bagaimana penerapan metode Group Investigation pada materi SKI
Madrasah Tsanawiyah kelas VII semester II?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian metode
Group Investigation
2. Untuk mengetahui hal-hal pokok
yang harus diperhatikan dalam metode Group
Investigation
3. Untuk mengetahui langkah-langkah
penerapan metode Group Investigation
4. Untuk mengetahui manfaat penerapan
metode Group Investigation
5. Untuk mengetahui kelebihan dan
kekurangan metode Group Investigation
6. Untuk mengetahui penerapan metode Group Investigation pada materi SKI
Madrasah Tsanawiyah kelas VII semester II
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Metode Group Investigation
Metode berasal dari bahasa Yunani “Methodos” yang berarti cara atau jalan
yang ditempuh. Sehubungan dengan upaya ilmiah, maka metode menyangkut masalah
cara kerja untuk dapat memahami objek yang menjadi sasaran ilmu yang
bersangkutan.
Istilah Group
Investigation berasal dari bahsa yang inggris. Group berarti kelompok, Investigation
berarti penyelidikan. Maka Group
Investigation secara bahasa berarti
penyelidikan kelompok. Group
Investigation merupakan salah satu bentuk
pembelajaran kooperatif yang menekankan pada partisipasi dan aktivitas
siswa untuk mencari sendiri materi (informasi) pelajaran yang akan dipelajari
melalui bahan-bahan yang tersedia, misalnya dari buku pelajaran atau siswa
dapat mencari melalui internet. Siswa dilibatkan sejak
perencanaan, baik dalam menentukan topik maupun cara untuk mempelajarinya
melalui investigasi. Tipe ini menuntut para siswa untuk memiliki kemampuan yang
baik dalam berkomunikasi maupun dalam keterampilan proses kelompok. Model
Group Investigation dapat melatih siswa untuk menumbuhkan kemampuan
berfikir mandiri. Keterlibatan siswa secara aktif dapat terlihat mulai dari
tahap pertama sampai tahap akhir pembelajaran.
B.
Konsep Pokok Metode Group Investigation
Dalam metode Group Investigation terdapat
tiga konsep utama, yaitu: penelitian
atau enquiri, pengetahuan
atau knowledge, dan dinamika kelompok atau the dynamic of the
learning group, (Udin S. Winaputra, 2001:75). Penelitian di sini adalah
proses dinamika siswa memberikan respon terhadap masalah dan memecahkan masalah
tersebut. Pengetahuan adalah pengalaman belajar yang diperoleh siswa baik
secara langsung maupun tidak langsung. Sedangkan dinamika kelompok menunjukkan
suasana yang menggambarkan sekelompok saling berinteraksi yang melibatkan
berbagai ide dan pendapat serta saling bertukar pengalaman melaui proses saling
beragumentasi.
Slavin
(1995) dalam Siti Maesaroh (2005:28), mengemukakan hal penting untuk melakukan metode
Group Investigation adalah:
1.
Membutuhkan Kemampuan Kelompok.
Di dalam mengerjakan setiap tugas, setiap anggota kelompok harus mendapat kesempatan
memberikan kontribusi. Dalam penyelidikan, siswa dapat mencari informasi dari
berbagai informasi dari dalam maupun di luar kelas.kemudian siswa mengumpulkan
informasi yang diberikan dari setiap anggota untuk mengerjakan lembar kerja.
2.
Rencana Kooperatif.
Siswa bersama-sama menyelidiki masalah mereka, sumber
mana yang mereka butuhkan, siapa yang melakukan apa, dan bagaimana mereka akan
mempresentasikan proyek mereka di dalam kelas.
3.
Peran Guru.
Guru menyediakan sumber dan fasilitator. Guru memutar
diantara kelompok-kelompok memperhatikan siswa mengatur pekerjaan dan membantu
siswa mengatur pekerjaannya dan membantu jika siswa menemukan kesulitan dalam
interaksi kelompok.
Para guru yang menggunakan metode ini umumnya membagi
kelas menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 5 sampai 6 siswa dengan
karakteristik yang heterogen, (Trianto, 2007:59). Pembagian kelompok dapat juga
didasarkan atas kesenangan berteman atau kesamaan minat terhadap suatu topik
tertentu. Selanjutnya siswa memilih topik untuk diselidiki, melakukan
penyelidikan yang mendalam atas topik yang telah dipilih, kemudian
menyiapkan dan mempresentasikan laporannya di depan kelas.
C.
Langkah-langkah Penerapan
Metode Group Investigation
Langkah-langkah penerapan metode Group
Investigation, (Kiranawati (2007), dapat dikemukakan
sebagai berikut:
1.
Seleksi topik
Para siswa memilih berbagai subtopik dalam suatu wilayah
masalah umum yang biasanya digambarkan lebih dulu oleh guru. Para siswa
selanjutnya diorganisasikan menjadi kelompok-kelompok yang berorientasi pada
tugas (task oriented groups) yang beranggotakan 2 hingga 6 orang. Komposisi
kelompok heterogen baik dalam jenis kelamin, etnik maupun kemampuan akademik.
2.
Merencanakan kerjasama
Para siswa bersama guru merencanakan berbagai prosedur
belajar khusus, tugas dan tujuan umum yang konsisten dengan berbagai topik dan
subtopik yang telah dipilih dari langkah 1 diatas.
3.
Implementasi
Para siswa melaksanakan rencana yang telah dirumuskan
pada langkah 2. pembelajaran harus melibatkan berbagai aktivitas dan
keterampilan dengan variasi yang luas dan mendorong para siswa untuk
menggunakan berbagai sumber baik yang terdapat di dalam maupun di luar sekolah.
Guru secara terus-menerus mengikuti kemajuan tiap kelompok dan memberikan
bantuan jika diperlukan.
4.
Analisis dan sintesis
Para siswa menganalisis dan mensintesis berbagai
informasi yang diperoleh pada langkah 3 dan merencanakan agar dapat
diringkaskan dalam suatu penyajian yang menarik di depan kelas.
5.
Penyajian hasil akhir
Semua kelompok menyajikan suatu presentasi yang menarik
dari berbagai topik yang telah dipelajari agar semua siswa dalam kelas saling
terlibat dan mencapai suatu perspektif yang luas mengenai topik tersebut.
Presentasi kelompok dikoordinir oleh guru.
6.
Evaluasi
Guru beserta siswa melakukan evaluasi mengenai
kontribusi tiap kelompok terhadap pekerjaan kelas sebagai suatu keseluruhan.
Evaluasi dapat mencakup tiap siswa secara individu atau kelompok, atau
keduanya.
D.
Manfaat Metode Group Investigation
Terkait
dengan efektivitas penggunaan metode Metode Group Investigation ini,
dari hasil penelitian yang dilakukan terhadap siswa kelas X SMA Kosgoro
Kabupaten Kuningan Tahun 2009 menunjukkan bahwa:
1.
Dalam pembelajaran kooperatif
dengan metode Group Investigation berpusat pada siswa, guru hanya
bertindak sebagai fasilitator atau konsultan sehingga siswa berperan aktif
dalam pembelajaran.
2.
Pembelajaran yang dilakukan
membuat suasana saling bekerjasama dan berinteraksi antar siswa dalam kelompok
tanpa memandang latar belakang, setiap siswa dalam kelompok memadukan berbagai
ide dan pendapat, saling berdiskusi dan beragumentasi dalam memahami suatu
pokok bahasan serta memecahkan suatu permasalahan yang dihadapi kelompok.
3.
Pembelajaran kooperatif dengan
metode Group Investigation siswa dilatih untuk memiliki kemampuan yang
baik dalam berkomunikasi, semua kelompok menyajikan suatu presentasi yang
menarik dari berbagai topik yang telah dipelajari, semua siswa dalam kelas
saling terlihat dan mencapai suatu perspektif yang luas mengenai topik
tersebut.
4.
Adanya motivasi yang mendorong
siswa agar aktif dalam proses belajar mulai dari tahap pertama sampai tahap
akhir pembelajaran. Melalui pembelajaran kooperatif dengan metode Group
Investigation suasana belajar terasa lebih efektif, kerjasama kelompok
dalam pembelajaran ini dapat membangkitkan semangat siswa untuk memiliki
keberanian dalam mengemukakan pendapat dan berbagi informasi dengan teman
lainnya dalam membahas materi pembelajaran.
E.
Kelebihan dan Kekurangan Metode
Group Investigation
Kelebihan
metode Group Investigation antara
lain :
1.
Siswa mampu belajar berpikir
lebih mendalam dan menyeluruh
2.
Melatih sikap kooperatif siswa
melalui penyelidikan kelompok
3.
Siswa terlatih untuk berdiskusi
dan berargumentasi
4.
Siswa mampu belajar untuk
memecahkan masalah secara kooperatif
Kekurangan metode Group Investigation antara lain :
1.
Siswa kesulitan untuk membatasi
pembahasan tanpa bimbingan guru
2.
Ada peluang diskusi tidak
berjalan dengan dinamis
3.
Membutuhkan waktu yang relatif
lama untuk memperoleh hasil yang maksimal
F.
Materi SKI Madrasah Tsanawiyah
kelas VII semester II
Standar Kompetensi :
Memahami sejarah
perkembangan Islam pada masa Khulafaur Rasyidin
Kompetensi Dasar :
Mengidentifikasi
peristiwa-peristiwa perkembangan Islam pada masa Khulafaur rasyidin
Perkembangan Islam pada Masa Khulafaur Rasyidin
Khulafaur
Rasyidin berasal dari kata Khulafa’ dan
ar-Rasyidin. Kata Khulafa’ berasal dari kata Kholifah yang berarti pengganti.
Sedangkan ar-rasyidin berarti yang
mendapat petunjuk. Dengan demikian khulafaur rasyidin adalah para pengganti
yang mendapat petunjuk. Khulafaur rasyidin terdiri dari 4 sahabat : Abu Bakar
ash-shidiq, Umar bin Khaththab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib.
Setelah nabi
Muhammad saw wafat, mereka menjadi contoh utama dalam menghayati dan
mengamalkan ajaran islam. Mereka melaksanakan prinsip-prinsip pemerintahan
islam dengan baik. Masa pemerintahan mereka merupakan gambaran yang paling
tepat bagi pelaksanaan hukum dan pemerintahan islam.
1.
Abu Bakar ash-Shidiq
Sebagai pemimpin umat
islam setelah Rasul, Abu Bakar disebut khalifah
ar-rasul (pengganti Rasul) yang dalam perkembangannya disebut khalifah. Abu
Bakar adalah orang pertama di luar kerabat Rasul yang memeluk Islam. Ia dikenal
sebagai orang yang selalu membenarkan ucapan Muhammad. Ketika orang-orang
menghujat Muhammad karena mengatakan baru mengalami Isra' Mi'raj, Abu Bakar
menyatakan keyakinannya terhadap peristiwa itu. Ia menyiapkan perjalanan serta
mengawani Muhammad saat hijrah ke Madinah. Ia juga menikahkan putrinya, Aisyah,
dengan Rasul.
2.
Umar bin Khaththab
Pada tahun 13 Hijriah
atau 634 Masehi, Abu Bakar wafat dan Umar menjadi khalifah. Jika orang-orang
menyebut Abu Bakar sebagai "Khalifatur- Rasul", kini mereka memanggil
Umar "Amirul Mukminin" (Pemimpin orang mukmin). Umar masuk Islam
sekitar tahun 6 Hijriah. Saat itu, ia berniat membunuh Muhammad namun tersentuh
hati ketika mendengar adiknya, Fatimah, melantunkan ayat Quran.
3.
Utsman bin Affan
Menjelang wafat, Umar
bin Khattab berpesan. Selama tiga hari, imam masjid hendaknya diserahkan pada
Suhaib Al-Rumi. Namun pada hari keempat hendaknya telah dipilih seorang
pemimpin penggantinya. Umar memberikan enam nama. Mereka adalah Ali bin Abu
Thalib, Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Saad bin Abi Waqas, Abdurrahman bin
Auff dan Thalhah anak Ubaidillah, dan akhirnya Utsman bin Affan yang terpilih.
4.
Ali bin Abi Thalib
Utsman bin Affan
wafat. Warga Madinah dan tiga pasukan dari Mesir, Basrah dan Kufah bersepakat
memilih Ali bin Abu Thalib sebagai khalifah baru. Menurut riwayat, Ali sempat
menolak penunjukan itu. Namun semua mendesak untuk memimpin umat. Pembaitan Ali
pun berlangsung di masjid Nabawi.
Penerapan Metode Group
Investigation
Guru membagi
siswa dalam 4 kelompok dengan komposisi heterogen. Kemudian dari setiap
kelompok ditanya siapa yang mengenal Abu Bakar ash-Shidiq, kelompok yang
pertama kali angkat tangan dipersilakan memberikan paparan singkat tentang Abu
Bakar, kemudian kelompok tersebut mendapatkan topic Abu Bakar, begitu
seterusnya hingga kelompok Ali bin Abi Thalib.
Dari 4 topik
di atas, yaitu Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khaththab, Utsman bin Affan, dan
Ali bin Abi Thalib, guru memberikan tuntunan dalam bentuk sub topic yang harus
digali oleh siswa, yaitu :
1.
Diangkat sebagai khalifah
2.
Karakter/ keutamaan khalifah
3.
Perjuangan Khalifah
4.
Kematian Khalifah
Dalam
keadaan yang tidak memungkinkan siswa ke perpustakaan atau menggunakan
internet, guru menyediakan beberapa referensi yang dibuat menarik sehingga
siswa lebih tertarik untuk membaca. Siswa melaksanakan kegiatan kelompok
kemudian salah satu perwakilan kelompok mempresentasikan materi tiap kelompok.
Langkah selanjutnya guru mempersilakan beberapa siswa untuk menyimpulkan,
kemudian guru memberi penguatan dan menutup pembelajaran.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Group Investigation merupakan salah satu bentuk
pembelajaran kooperatif yang menekankan pada partisipasi dan aktivitas
siswa untuk mencari sendiri materi (informasi) pelajaran yang akan dipelajari
melalui bahan-bahan yang tersedia, misalnya dari buku pelajaran atau siswa
dapat mencari melalui internet. Siswa dilibatkan sejak
perencanaan, baik dalam menentukan topik maupun cara untuk mempelajarinya
melalui investigasi.
B.
Saran
Mencermati metode Group Investigation, penulis
menyampaikan beberapa saran :
1.
Dalam upaya meningkatkan kualitas
pembelajaran, hendaknya guru lebih kreatif dan mengendalikan suasana tetap
menyenangkan sehingga siswa memiliki semangat tinggi untuk berdiskusi.
2.
Karena pengelompokan dalam
metode ini bersifat heterogen, maka guru hendaknya mampu mendesain motivasi
bagi semua siswa.
DAFTAR
PUSTAKA
Kiranawati. 2007. Metode Investigasi Kelompok (Group
Investigation). Bandung: Angkasa
Parjono. 2012. Modul Pembelajaran Sejarah
Kebudayaan Islam. Karanganyar: MGMP SKI MTs.
Siti Maesaroh. 2005. Efektivitas Penerapan Pembelajaran
Kooperatif Dengan Metode Group Investigation Terhadap Hasil Belajar Matematika
Siswa. Jakarta: Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah.
Trianto. 2007. Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi
Konstruktivistik. Jakarta: Prestasi Pustaka.
Udin S. Winaputra. 2001. Model Pembelajaran Inovatif.
Jakarta: Universitas Terbuka.