Total Tayangan Halaman

Selasa, 17 Desember 2013

METODE GROUP INVESTIGATION UNTUK PEMBELAJARAN SKI

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Sejarah kebudayaan islam merupakan pengetahuan mengenai peristiwa di masa lampau sejak zaman pra islam hingga saat ini. Sejarah juga merupakan pengetahuan tentang hukum-hukum yang tampak menguasai kehidupan masa lampau, yang diperoleh melalui penyelidikan dan analisis atas peristiwa-peristiwa masa lampau.
Sejarah merupakan sebuah inspirasi bagi kehidupan, maka dari itu sejarah dijadikan sebuah pengetahuan karena memiliki esensi yang tinggi dalam menjalani kehidupan. Manusia mampu mempelajari banyak hal dari sejarah, mengenai strategi kemenangan dalam berbagai hal juga mengenai antisipasi dan kewaspadaan atas kekalahan. Dengan melihat sejarah, maka manusia memiliki bahan pertimbangan untuk melakukan sebuah tindakan.
Sejarah kebudayaan islam pada dasarnya sama dengan sejarah kebudayaan lain pada umumnya, yaitu bersifat dinamis. Perbedaanya terletak pada sumber nilainya. Sejarah kebudayaan islam meletakkan dasar pengetahuannya pada sumber-sumber nilai islam.
Dalam penyampaian materi sejarah kebudayaan islam, hendaknya menggunakan metode untuk memudahkan guru dan siiswa dalam proses KBM. Di samping mempermudah, diharapkan siswa juga mampu menemukan pengetahuan hasil dari penggalian referensi yang lebih dalam. Untuk mencapai tujuan ini, salah satunya adalah dengan menggunakan metode Group Investigation.
Group Investigation merupakan  salah satu bentuk pembelajaran kooperatif  yang menekankan pada partisipasi dan aktivitas siswa untuk mencari sendiri materi (informasi) pelajaran yang akan dipelajari melalui bahan-bahan yang tersedia, misalnya dari buku pelajaran atau siswa dapat mencari melalui internet.


B.     Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada makalah ini meliputi :
1.   Apa yang dimaksud metode Group Investigation?
2.   Apa saja hal-hal pokok yang harus diperhatikan dalam metode Group Investigation?
3.   Bagaimana langkah-langkah penerapan metode Group Investigation?
4.   Apa manfaat penerapan metode Group Investigation?
5.   Apa kelebihan dan kekurangan metode Group Investigation?
6.   Bagaimana penerapan metode Group Investigation pada materi SKI Madrasah Tsanawiyah kelas VII semester II?

C.     Tujuan
1.      Untuk mengetahui pengertian metode Group Investigation
2.      Untuk mengetahui hal-hal pokok yang harus diperhatikan dalam metode Group Investigation
3.      Untuk mengetahui langkah-langkah penerapan metode Group Investigation
4.      Untuk mengetahui manfaat penerapan metode Group Investigation
5.      Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan metode Group Investigation
6.      Untuk mengetahui penerapan metode Group Investigation pada materi SKI Madrasah Tsanawiyah kelas VII semester II










BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Metode Group Investigation
Metode berasal dari bahasa Yunani “Methodos” yang berarti cara atau jalan yang ditempuh. Sehubungan dengan upaya ilmiah, maka metode menyangkut masalah cara kerja untuk dapat memahami objek yang menjadi sasaran ilmu yang bersangkutan.
Istilah Group Investigation berasal dari bahsa yang inggris. Group berarti kelompok, Investigation berarti penyelidikan. Maka Group Investigation secara bahasa  berarti penyelidikan kelompok. Group Investigation merupakan  salah satu bentuk pembelajaran kooperatif  yang menekankan pada partisipasi dan aktivitas siswa untuk mencari sendiri materi (informasi) pelajaran yang akan dipelajari melalui bahan-bahan yang tersedia, misalnya dari buku pelajaran atau siswa dapat mencari melalui internet. Siswa dilibatkan sejak perencanaan, baik dalam menentukan topik maupun cara untuk mempelajarinya melalui investigasi. Tipe ini menuntut para siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maupun dalam keterampilan proses kelompok. Model Group Investigation dapat melatih siswa untuk menumbuhkan kemampuan berfikir mandiri. Keterlibatan siswa secara aktif dapat terlihat mulai dari tahap pertama sampai tahap akhir pembelajaran.

B.     Konsep Pokok Metode Group Investigation
Dalam metode Group Investigation terdapat tiga konsep utama, yaitu: penelitian atau enquiri, pengetahuan atau knowledge, dan dinamika kelompok atau the dynamic of the learning group, (Udin S. Winaputra, 2001:75). Penelitian di sini adalah proses dinamika siswa memberikan respon terhadap masalah dan memecahkan masalah tersebut. Pengetahuan adalah pengalaman belajar yang diperoleh siswa baik secara langsung maupun tidak langsung. Sedangkan dinamika kelompok menunjukkan suasana yang menggambarkan sekelompok saling berinteraksi yang melibatkan berbagai ide dan pendapat serta saling bertukar pengalaman melaui proses saling beragumentasi.
Slavin (1995) dalam Siti Maesaroh (2005:28), mengemukakan hal penting untuk melakukan metode Group Investigation adalah:
1.   Membutuhkan Kemampuan Kelompok.
Di dalam mengerjakan setiap tugas, setiap anggota kelompok harus mendapat kesempatan memberikan kontribusi. Dalam penyelidikan, siswa dapat mencari informasi dari berbagai informasi dari dalam maupun di luar kelas.kemudian siswa mengumpulkan informasi yang diberikan dari setiap anggota untuk mengerjakan lembar kerja.
2.   Rencana Kooperatif.
Siswa bersama-sama menyelidiki masalah mereka, sumber mana yang mereka butuhkan, siapa yang melakukan apa, dan bagaimana mereka akan mempresentasikan proyek mereka di dalam kelas.
3.   Peran Guru.
Guru menyediakan sumber dan fasilitator. Guru memutar diantara kelompok-kelompok memperhatikan siswa mengatur pekerjaan dan membantu siswa mengatur pekerjaannya dan membantu jika siswa menemukan kesulitan dalam interaksi kelompok.
Para guru yang menggunakan metode ini umumnya membagi kelas menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 5 sampai 6 siswa dengan karakteristik yang heterogen, (Trianto, 2007:59). Pembagian kelompok dapat juga didasarkan atas kesenangan berteman atau kesamaan minat terhadap suatu topik tertentu. Selanjutnya siswa memilih topik untuk diselidiki, melakukan penyelidikan yang mendalam atas topik yang  telah dipilih, kemudian menyiapkan dan mempresentasikan laporannya di depan kelas.

C.  Langkah-langkah Penerapan Metode Group Investigation
Langkah-langkah penerapan metode Group Investigation, (Kiranawati (2007), dapat dikemukakan sebagai berikut:

1.   Seleksi topik
Para siswa memilih berbagai subtopik dalam suatu wilayah masalah umum yang biasanya digambarkan lebih dulu oleh guru. Para siswa selanjutnya diorganisasikan menjadi kelompok-kelompok yang berorientasi pada tugas (task oriented groups) yang beranggotakan 2 hingga 6 orang. Komposisi kelompok heterogen baik dalam jenis kelamin, etnik maupun kemampuan akademik.
2.   Merencanakan kerjasama
Para siswa bersama guru merencanakan berbagai prosedur belajar khusus, tugas dan tujuan umum yang konsisten dengan berbagai topik dan subtopik yang telah dipilih dari langkah 1  diatas.
3.   Implementasi
Para siswa melaksanakan rencana yang telah dirumuskan pada langkah 2. pembelajaran harus melibatkan berbagai aktivitas dan keterampilan dengan variasi yang luas dan mendorong para siswa untuk menggunakan berbagai sumber baik yang terdapat di dalam maupun di luar sekolah. Guru secara terus-menerus mengikuti kemajuan tiap kelompok dan memberikan bantuan jika diperlukan.
4.   Analisis dan sintesis
Para siswa menganalisis dan mensintesis berbagai informasi yang diperoleh pada langkah 3 dan merencanakan agar dapat diringkaskan dalam suatu penyajian yang menarik di depan kelas.
5.   Penyajian hasil akhir
Semua kelompok menyajikan suatu presentasi yang menarik dari berbagai topik yang telah dipelajari agar semua siswa dalam kelas saling terlibat dan mencapai suatu perspektif yang luas mengenai topik tersebut. Presentasi kelompok dikoordinir oleh guru.
6.   Evaluasi
Guru beserta siswa melakukan evaluasi mengenai kontribusi tiap kelompok terhadap pekerjaan kelas sebagai suatu keseluruhan. Evaluasi dapat mencakup tiap siswa secara individu atau kelompok, atau keduanya.

D. Manfaat Metode Group Investigation
Terkait dengan efektivitas penggunaan metode Metode Group Investigation ini, dari hasil penelitian yang dilakukan  terhadap siswa kelas X SMA Kosgoro Kabupaten Kuningan Tahun 2009 menunjukkan bahwa:
1.   Dalam pembelajaran kooperatif dengan metode Group Investigation berpusat pada siswa, guru hanya bertindak sebagai fasilitator atau konsultan sehingga siswa berperan aktif dalam pembelajaran.
2.   Pembelajaran yang dilakukan membuat suasana saling bekerjasama dan berinteraksi antar siswa dalam kelompok tanpa memandang latar belakang, setiap siswa dalam kelompok memadukan berbagai ide dan pendapat, saling berdiskusi dan beragumentasi dalam memahami suatu pokok bahasan serta memecahkan suatu permasalahan yang dihadapi kelompok.
3.   Pembelajaran kooperatif dengan metode Group Investigation siswa dilatih untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi, semua kelompok menyajikan suatu presentasi yang menarik dari berbagai topik yang telah dipelajari, semua siswa dalam kelas saling terlihat dan mencapai suatu perspektif yang luas mengenai topik tersebut.
4.   Adanya motivasi yang mendorong siswa agar aktif dalam proses belajar mulai dari tahap pertama sampai tahap akhir pembelajaran. Melalui pembelajaran kooperatif dengan metode Group Investigation suasana belajar terasa lebih efektif, kerjasama kelompok dalam pembelajaran ini dapat membangkitkan semangat siswa untuk memiliki keberanian dalam mengemukakan pendapat dan berbagi informasi dengan teman lainnya dalam membahas materi pembelajaran.

E.  Kelebihan dan Kekurangan Metode Group Investigation
Kelebihan metode Group Investigation antara lain :
1.      Siswa mampu belajar berpikir lebih mendalam dan menyeluruh
2.      Melatih sikap kooperatif siswa melalui penyelidikan kelompok
3.      Siswa terlatih untuk berdiskusi dan berargumentasi
4.      Siswa mampu belajar untuk memecahkan masalah secara kooperatif

Kekurangan metode Group Investigation antara lain :
1.      Siswa kesulitan untuk membatasi pembahasan tanpa bimbingan guru
2.      Ada peluang diskusi tidak berjalan dengan dinamis
3.      Membutuhkan waktu yang relatif lama untuk memperoleh hasil yang maksimal

F.   Materi SKI Madrasah Tsanawiyah kelas VII semester II
Standar Kompetensi  :
Memahami sejarah perkembangan Islam pada masa Khulafaur Rasyidin
Kompetensi Dasar      :
Mengidentifikasi peristiwa-peristiwa perkembangan Islam pada masa Khulafaur rasyidin

Perkembangan Islam pada Masa Khulafaur Rasyidin
Khulafaur Rasyidin berasal dari kata Khulafa’ dan ar-Rasyidin. Kata Khulafa’ berasal dari kata Kholifah yang berarti pengganti. Sedangkan ar-rasyidin berarti yang mendapat petunjuk. Dengan demikian khulafaur rasyidin adalah para pengganti yang mendapat petunjuk. Khulafaur rasyidin terdiri dari 4 sahabat : Abu Bakar ash-shidiq, Umar bin Khaththab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib.
Setelah nabi Muhammad saw wafat, mereka menjadi contoh utama dalam menghayati dan mengamalkan ajaran islam. Mereka melaksanakan prinsip-prinsip pemerintahan islam dengan baik. Masa pemerintahan mereka merupakan gambaran yang paling tepat bagi pelaksanaan hukum dan pemerintahan islam.
1.      Abu Bakar ash-Shidiq
Sebagai pemimpin umat islam setelah Rasul, Abu Bakar disebut khalifah ar-rasul (pengganti Rasul) yang dalam perkembangannya disebut khalifah. Abu Bakar adalah orang pertama di luar kerabat Rasul yang memeluk Islam. Ia dikenal sebagai orang yang selalu membenarkan ucapan Muhammad. Ketika orang-orang menghujat Muhammad karena mengatakan baru mengalami Isra' Mi'raj, Abu Bakar menyatakan keyakinannya terhadap peristiwa itu. Ia menyiapkan perjalanan serta mengawani Muhammad saat hijrah ke Madinah. Ia juga menikahkan putrinya, Aisyah, dengan Rasul.
2.      Umar bin Khaththab
Pada tahun 13 Hijriah atau 634 Masehi, Abu Bakar wafat dan Umar menjadi khalifah. Jika orang-orang menyebut Abu Bakar sebagai "Khalifatur- Rasul", kini mereka memanggil Umar "Amirul Mukminin" (Pemimpin orang mukmin). Umar masuk Islam sekitar tahun 6 Hijriah. Saat itu, ia berniat membunuh Muhammad namun tersentuh hati ketika mendengar adiknya, Fatimah, melantunkan ayat Quran.
3.      Utsman bin Affan
Menjelang wafat, Umar bin Khattab berpesan. Selama tiga hari, imam masjid hendaknya diserahkan pada Suhaib Al-Rumi. Namun pada hari keempat hendaknya telah dipilih seorang pemimpin penggantinya. Umar memberikan enam nama. Mereka adalah Ali bin Abu Thalib, Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Saad bin Abi Waqas, Abdurrahman bin Auff dan Thalhah anak Ubaidillah, dan akhirnya Utsman bin Affan yang terpilih.
4.      Ali bin Abi Thalib
Utsman bin Affan wafat. Warga Madinah dan tiga pasukan dari Mesir, Basrah dan Kufah bersepakat memilih Ali bin Abu Thalib sebagai khalifah baru. Menurut riwayat, Ali sempat menolak penunjukan itu. Namun semua mendesak untuk memimpin umat. Pembaitan Ali pun berlangsung di masjid Nabawi.








Penerapan Metode Group Investigation
Guru membagi siswa dalam 4 kelompok dengan komposisi heterogen. Kemudian dari setiap kelompok ditanya siapa yang mengenal Abu Bakar ash-Shidiq, kelompok yang pertama kali angkat tangan dipersilakan memberikan paparan singkat tentang Abu Bakar, kemudian kelompok tersebut mendapatkan topic Abu Bakar, begitu seterusnya hingga kelompok Ali bin Abi Thalib.
Dari 4 topik di atas, yaitu Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khaththab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib, guru memberikan tuntunan dalam bentuk sub topic yang harus digali oleh siswa, yaitu :
1.      Diangkat sebagai khalifah
2.      Karakter/ keutamaan khalifah
3.      Perjuangan Khalifah
4.      Kematian Khalifah
Dalam keadaan yang tidak memungkinkan siswa ke perpustakaan atau menggunakan internet, guru menyediakan beberapa referensi yang dibuat menarik sehingga siswa lebih tertarik untuk membaca. Siswa melaksanakan kegiatan kelompok kemudian salah satu perwakilan kelompok mempresentasikan materi tiap kelompok. Langkah selanjutnya guru mempersilakan beberapa siswa untuk menyimpulkan, kemudian guru memberi penguatan dan menutup pembelajaran.








BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Group Investigation merupakan  salah satu bentuk pembelajaran kooperatif  yang menekankan pada partisipasi dan aktivitas siswa untuk mencari sendiri materi (informasi) pelajaran yang akan dipelajari melalui bahan-bahan yang tersedia, misalnya dari buku pelajaran atau siswa dapat mencari melalui internet. Siswa dilibatkan sejak perencanaan, baik dalam menentukan topik maupun cara untuk mempelajarinya melalui investigasi.

B.     Saran
Mencermati metode Group Investigation, penulis menyampaikan beberapa saran :
1.      Dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran, hendaknya guru lebih kreatif dan mengendalikan suasana tetap menyenangkan sehingga siswa memiliki semangat tinggi untuk berdiskusi.
2.      Karena pengelompokan dalam metode ini bersifat heterogen, maka guru hendaknya mampu mendesain motivasi bagi semua siswa.














DAFTAR PUSTAKA

Kiranawati. 2007. Metode Investigasi Kelompok (Group Investigation). Bandung: Angkasa
Parjono. 2012. Modul Pembelajaran  Sejarah Kebudayaan Islam. Karanganyar: MGMP SKI MTs.
Siti Maesaroh. 2005. Efektivitas Penerapan Pembelajaran Kooperatif Dengan Metode Group Investigation Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa. Jakarta: Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah.
Trianto. 2007. Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Jakarta: Prestasi Pustaka.
Udin S. Winaputra. 2001. Model Pembelajaran Inovatif. Jakarta: Universitas Terbuka.


Rabu, 03 Juli 2013

“Rumah Lentera”



                Dalam dekapan alam, kuhirup udara segar, bersenandung bersama rerumputan, menikmati rutinitas yang sudah kujalani selama 3 tahun terakhir ini. Di sini lah, di sebuah gubug sederhana yang mereka sebut “Rumah Lentera”, kuabdikan diriku membimbing anak-anak putus sekolah di sebuah desa pinggiran sembari menyelesaikan skripsi yang tiap kuajukan selalu penuh dengan coretan tinta. Bahkan tiap kuinjakkan kakiku memasuki pintu rumah, aku selalu disuguhi wajah masam ibuku yang selalu saja membandingkanku dengan anak teman-temannya yang sudah berpenghasilan walau mereka belum lulus sekalipun. Tiap kali, aku hanya mampu berjalan merunduk di depan ibuku sambil berlalu ke kamar tanpa sepatah kata pun, untuk meredam kemarahannya. Terdengar sepele, namun teramat menyiksa.
                “Kak Syifa’, bangun kak. Bangun! Gawat, bangun kakak!”
Anak lelaki berusia 11 tahun terus mengoyak tubuhku yang sedang terbaring tenang di gubug. Aku segera terbangun dari tidurku, “Ada apa Seto? Kenapa khawatir sekali?”
“Reza kak, dia terkapar di jalan desa. Orang yang menabraknya barusan melarikan diri begitu saja,” jawabnya sambil terengah-engah.
Aku segera beranjak berdiri, “Maksudmu Reza kecelakaan?”
Seto hanya mengangguk dan segera menarik tanganku menuju lokasi kejadian. Sungguh malang nasib Reza. 5 hari lagi mereka akan melaksanakan ujian masuk beasiswa pondok untuk melanjutkan pendidikan mereka. Reza, Seto, Inggar, dan Agil sudah harus melanjutkan pendidikan ke jenjang setara Sekolah Menengah Pertama. Namun dengan peristiwa ini, mungkin akan menjadi sulit baginya.
Reza, wajahnya penuh dengan luka, kakinya tak mampu lagi menopang beban tubuhnya. Aku hanya melihat wajah Reza yang semakin meredup, harapannya tentang pondok sepertinya mulai memudar. Rasanya 5 hari itu sudah tidak mungkin baginya untuk sembuh, sedangkan ketentuan beasiswa di pondok haruslah sehat secara fisik. Jika dalam waktu 5 hari dokter tidak bisa memastikan Reza akan sembuh, maka pupuslah harapan itu.
***
                Sore yang sendu, Reza masih dibantu dengan tongkat kayunya menjalani hari ini. Agil yang berlari dari belakang tiba-tiba menyerobot tongkat Reza dengan sengaja. Reza tersungkur ke tanah, tubuhnya gemetaran saat mencoba untuk bangkit, namun ia terjatuh lagi. Kepalanya terangkat perlahan, air matanya jatuh. Agil yang menyadari hal itu segera menghampiri Reza dan berupaya membangunkannya. Merasa semakin putus asa, Reza menepis tangan Agil.
“Za, maaf. Aku tak bermaksud. Aku hanya ingin mencoba memberimu shock therapy.
Namun Reza tetap diam. Seto dan Inggar yang baru saja datang mencoba membujuk Reza dan memapahnya ke gubug. Melihat kehadiranku, Agil menghampiriku.
“Kakak darimana? Tumben jam segini baru datang?”
Aku menghela nafas sejenak, lalu menjawabnya sembari tersenyum, “Kakak mencoba mengajukan proposal pendanaan sekolah ke sebuah lembaga sosial pendidikan untuk Reza, jadi dia tetap bisa sekolah walau tidak di pondok.”
“Lalu?” tanyanya penasaran.
Aku menggelengkan kepala, “Katanya tidak ada pendanaan sekolah permanen seperti itu.”
Agil memelukku, setidaknya cukup meringankan bebanku saat itu. Memang selama ini aku bertahan menjalani hari dengan cinta mereka.
***
                Hari demi hari berlalu, dan benar Reza tidak bisa menjalani hidup dengan kakii normal kembali. Dalam arti lain ia sudah jelas tidak bisa mengikuti ujian beasiswa pondok. Kalau sudah seperti ini kadang ingin rasanya aku protes pada pemerintah yang tidak konsekuen terhadap program wajib belajar 9 tahunnya, tak ada upaya untuk menyelamatkan anak-anak yang putus sekolah di pinggiran seperti mereka. Batinku bergejolak, ingin aku berteriak. Mereka semangatku!
Selang hari, pengumuman kelolosan beasiswa pondok tiba. Agil, Seto, dan Inggar lolos. Mereka bertiga lolos, dan kini Reza akan semakin terpukul, semakin merasa sendiri.
Hari itu kami berkunjung ke rumah Reza dan ia tidak ada di rumahnya. Sudah sejak pagi ia tak pulang, dan ini sudah hampir larut. Ibunya mencari namun tak juga menemukannya. Keesokan harinya kami mulai bergegas untuk mencari Reza yang belum juga pulang. Sepanjang hari kami menyusuri desa, namun tak juga kami temukan sosoknya hingga Inggar menepuk pundakku dan menunjukkanku sesuatu dengan jari telunjuknya. MasyaAllah. Reza dengan tubuh terkulai lemas penuh darah kami temukan di dekat jembatan, sepertinya ia berupaya untuk mengakhiri segala impian dan hidupnya. Kami segera melarikannya ke rumah sakit. Ia koma, tak sadarkan diri.
Aku terus menangis meratapi kelalaianku karena tak bisa menyelamatkan mimpi anak itu. Sungguh, perih hati ini. Sejak awal Reza lah yang selalu menyemangati teman-temannya untuk terus bermimpi, melakukan inovasi-inovasi dengan ide-ide cemerlangnya. Dia pula lah yang paling cerdas menangkap setiap materi yang kuberikan. Namun kini, jauh sudah semua harapan itu.
***
                Setiap pagi aku ke rumah sakit membawakan bunga segar untuknya. Suatu ketika aku sedang mengganti bunga di vas, samar-samar aku merasa jari Reza bergerak. Subhanallah! Setelah 3 pekan koma akhirnya ia bangun juga. Ini sebuah rahmat dari-Nya. Setelah sempurna membuka mata, ia berkata lirih dengan kalimat yang terus diulang-ulang.
“Rumah Lentera dipenuhi cahaya. Rumah Lentera menyala-nyala.”
Terus ia bergumam seperti itu tanpa kutau maksudnya.
Kusuapi ia yang baru sadarkan diri, sepertinya perasaannya sudah mulai tenang.
“Kak, maafkan Reza.”
Aku hanya tersenyum.
“Dalam mimpi Reza bertemu dengan seorang wanita, ia mirip sekali dengan kak Syifa’. Ia mengajakku bermain-main di tengah cahaya, dan entah mengapa aku hanya merasakan ketenangan. Kak… mulai saat ini Reza akan mengawali semangat baru. Reza ikhlas,” katanya sambil menundukkan kepala.
Belum jadi kutanggapi perkataannya, tiba-tiba seseorang masuk. Seorang wanita dengan jilbab rapi yang nampak dari pakaiannya bahwa ia seseorang yang professional. Ya, dia pengelola lembaga sosial pendidikan yang kudatangi bulan lalu. Ia mendekat dan menyerahkan sebuah stofmap tanpa sepatah kata pun.
“Apa itu kak?” Tanya Reza penasaran.
Sambil tersenyum lebar ku jawab, “Ini hadiah dari Allah untuk keikhlasan Reza. Reza bisa meneruskan sekolah di SMP Negeri, lembaga ibu ini yang akan membiayai.”
Ibu itu lantas menunduk kecil semacam memberi selamat pada Reza.
Inilah jawaban Allah atas kesabaran dan keikhlasan, hanya saja seringnya manusia tidak mampu tawakal atas kebesaran Tuhan-Nya, itulah kenyataan yang sering terjadi.
Kini aku mampu meilhat kemilau cahaya di mata Reza. Negeri ini sudah menantinya.
*The End*